Si "Kunti" Yang Membawa Berkah

By Trip Riau  |  11 Agustus 2014 18:16:11 WIB  |  City Guide


Pekanbaru, Tripriau.com - Bermodalkan sebuah oven bekas seharga Rp800 ribu ditambah peralatan serta meja bekas kepunyaan teman, dipilihlah sebuah tempat yang cukup tenang untuk bersantai dan terbilang luas di ujung Jalan Diponegoro.

Ketika banyak orang menjauhi keseraman, Dani Hardinas justru menjual ‘‘keseraman’’ ini sebagai nilai keunikan dari bisnisnya. Tahun 2012 dia memberi nama usaha kulinernya dengan Roti Kunti, lantas menjualnya di samping kuburan. Hasilnya, laris manis. Roti Kunti kini menjadi brand kuliner yang sangat diperhitungkan di Kota Pekanbaru.

Meski beberapa kali harus pindah tempat dan tak lagi menjualnya di samping kuburan, gerainya yang kini berada di Jalan Beringin, Gobah selalu saja dipadati pengunjung, khususnya kawula muda di Kota Bertuah. Ternyata, ide Roti Kunti-nya bisa mendatangkan berkah tersendiri bagi Dani. Bagi Dani, Roti Kunti yang dibukanya sejak 2 tahun silam ini merupakan awal kebangkitannya untuk memulai kembali semangat berbisnis setelah memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai pegawai honorer. Ditambah kekecewaannya karena beberapa bisnis yang sempat dibangunnya harus kandas di tengah jalan. Berbekal ilmu yang didapat pada beberapa seminar dan workshop, dia memberanikan diri membangun sebuah bisnis bermodalkan pinjaman dari seorang teman.

Tak banyak, cuma dua juta rupiah. Modal inilah yang dia gunakan sebaik mungkin untuk membangun bisnisnya. ‘’Awalnya saya bingung untuk memulai, karena dalam hati bertanya, “Mau buka usaha apa ya dengan modal segini?”.

Akhirnya setelah konsultasi dengan beberapa teman dan melihat peluang yang ada di Kota Pekanbaru ini, saya memutuskan untuk mencoba peruntungan di bidang kuliner. Kebetulan pada saat itu saya termasuk aktif dalam beberapa kegiatan organisasi dan komunitas bersama teman-teman, namun tempat untuk berdiskusi dan bersantai sambil menikmati cemilan dan minuman sangat minim di Kota Pekanbaru,’’ kata Dani.

Segala sesuatu tak selalu berjalan mulus bagi Dani. Rasa bingung kembali menghampiri. Meski modal sudah di tangan, tapi dia tidak tahu makanan apa yang mau dijual nantinya. Sementara pada saat itu dia tidak punya keahlian di dunia kuliner sama sekali. Tidak ingin menyerah dan masih penasaran, akhirnya Dani mencoba bertanya dan belajar cara membuat cemilan roti bakar kepada seorang teman yang kebetulan juga memiliki usaha kedai kopi dengan menu roti bakar.

‘’Akhirnya setelah mengerti dan mencoba di rumah, untuk diferensiasi roti, saya mencoba untuk merubah cara membuat dari dibakar menjadi dipanggang dengan paduan selai coklat olahan sendiri, serta beberapa tambahan varian rasa lainnya,’’ terangnya. Bermodalkan sebuah oven bekas seharga Rp800 ribu ditambah peralatan serta meja bekas kepunyaan teman, dipilihlah sebuah tempat yang cukup tenang untuk bersantai dan terbilang luas di ujung Jalan Diponegoro.

Kebetulan sekali lokasinya bersebelahan dengan Taman Makam Pahlawan Kusuma Dharma, Pekanbaru, alias disamping kuburan. Iseng-iseng dia beri nama ‘’Roti Kuntilanak’’, yang kemudian disingkat menjadi Roti Kunti, agar positioning angkernya melekat di benak konsumen. Sementara harga menu per porsi Roti Kunti panggang hanya dijual seharga Rp 7 ribu dengan motto ‘’Kuliner Unik, Murah, Nikmat dan Berkualitas’’. ‘’Untuk strategi marketing, saya menggunakan vertical banner, stiker, menggandeng beberapa komunitas, serta menggunakan fasilitas media sosial Twitter yang pada saat itu menjadi topik hangat dan perbincangan di kala-ngan anak muda.

Saya juga dibantu oleh seorang karyawan. Kadang kami memakai topeng dan kostum seram yang dengan sengaja membakar menyan untuk lucu-lucuan serta membuat isu berantai dari mulut ke mulut melalui akun @RotiKuntiPKU dengan hastag #Kesurupan dan #BakarMenyan yang artinya “Sudah Buka”. Saat ini Alhamdulillah akun usaha ini sudah mencapai sekitar 2000-an follower. Saya juga menggunakan fasilitas website www.rotikunti.web.id,’’ terang Dani.

Ujung-ujungnya, tempat yang awalnya sepi mendadak ramai karena banyak yang penasaran dengan isu “ROTI KUNTI”. Kebetulan juga pada waktu itu terjadi pengalihan jalan dari Jalan Sudirman karena pembangunan proyek jalan layang. Ruas jalan lokasi usahanya pun menjadi rute alternatif yang ramai sekali, bahkan sampai macet. ‘’Alhamdulillah, ini namanya happy problem,’’ sebutnya. (rio)



Tags:  -