Serunya Wisata Jelajah di Hutan Larangan Ghimbo Potai

By Trip Riau  |  14 Agustus 2014 20:48:02 WIB  |  Wisata Riau


Kampar, Tripriau.com - Kicauan berbagai spesies burung langsung saja bersahut-sahutan begitu kaki melangkah ke dalam Hutan Larangan Adat Ghimbo Potai di Kenegerian Rumbio, Kecamatan Rumbio, Kabupaten Kampar.

Terdengar merdu suaranya, membentuk nada-nada indah laksana panggung musik orkestra. Harmoni. Tak lama kemudian, suara Burung Rangkong memecah suasana. Tak disangka, hewan yang kerap jadi buruan dan mulai terancam keberadaannya di Riau ini bisa ditemui di hutan ini. Suaranya menggelegar. Burung raksasa ini memang dikenal memiliki suara khas dan keras. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan mengamati setiap keunikan di hutan yang memiliki luas lebih kurang 550 hektar ini. Meski matahari bersinar terik tapi sinarnya tak mampu menembus kulit.

Pohon besar yang tinggi menjulang dengan dedaunan yang rimbun ibarat atap yang melindungi orang di dalamnya dari sengatan cahaya matahari. Bahkan, berada di hutan ini udara sejuk dan segar begitu terasa. Hutan larangan ini sangat menarik untuk dijelajah. Untuk memudahkan pengunjung menyusuri hutan, pengelola menyiapkan trek yang terbuat dari batu sepanjang 1,2 kilometer. Untuk berkeliling hutan kita cukup berjalan di atas trek ini. Trek ini dibuat mendaki dan menurun, kadang juga berbelok-belok. Mengikuti jalan yang telah ada sebelumnya.

Berkeliling hutan larangan ini kita bisa menemui banyak sekali spesies tumbuhan. Hutan ini memiliki keanekaragaman hayati paling lengkap. Bahkan dikatakan salah satu profesor dari Universitas Andalas sebagai yang terlengkap di Sumatera.

Setiap tumbuhan di hutan ini diberi nama lengkap dengan nama lokalnya. Beberapa tumbuhan yang ada di tempat ini misalnya, Pasak Bumi, Kelat, Meranti, Bais, Kempas, Tapi, Kedondong Hutan, Durian Hutan, Meranti Sarang Punai, Pasir-Pasir, Dara-Dara, Cempedak Air, Dolek, Kelat Daun Lebar, Medang, Petai, Balam, Damar Laut, Tempunik, Kulim, Pendrahan/Pianggu, Lalan, Jangkang, Langsat Hutan, Pisang-Pisang Poli, dan banyak lagi. Salah satu jenis Meranti yang ada di sini juga hanya bisa ditemui di Hutan Larangan Rumbio ini dan di Bangka Belitung.

Di hutan ini ada juga Kura-Kura Berbulu.Hewan ini berhasil ditemukan peneliti dari IPB. Mereka menyebut Kura-Kura Berbulu ini sebagai hewan langka di dunia. Menurut Masriyadi, Ketua Yayasan Pelopor, yang terus berperan mengawal kelestarian hutan larangan ini, sejarah awal dari hutan larangan adat ini kenapa diberi nama hutan larangan adat karena menurut adat di Kenegerian Rumbio, hutan ini dilarang untuk dialihfungsikan.

Rumbio ini menetapkan kawasan ini sebagai hutan larangan adat, tentunya ini berkaitan dengan sejarah dari masyarakat adat Kenegerian Rumbio itu sendiri,’’ katanya. Masriyadi menjelaskan, menurut orang-orang tua di kampung ini kawasan hutan sekarang ini dahulunya merupakan perkampungan dari masyarakat adat Kenegerian Rumbio.

Jadi, di hutan inilah dulu nenek moyang dan masyarakat asal muasal dari Kenegerian Rumbio itu berada. Di mana di daerah tersebut sampai sekarang masih terkenal dengan nama Koto Tibun dan Koto Kinggi. Koto berarti tempat perkampungan. ‘’Jadi karena adanya perpindahan dari masyarakat yang dulunya bermukim di kawasan hutan ini kemudian pindah ke bawah di daerah yang sekarang ramai pemukiman masyarakatnya, daerah tersebut menjadi sebuah kampung tinggal. Daerah yang sudah ditinggalkan.

Tentunya di daerah ini diyakini banyak kuburan para leluhur. Karena daerah kawasan hutan sekarang ini banyak kuburan nenek moyang zaman dahulu oleh masyarakat adat kawasan ini diberi nama hutan larangan.

Artinya hutan yang tidak boleh dirusak dan tidak boleh diganggu. Karena diyakini di kawasan hutan ini dihuni oleh roh-roh para leluhur masyarakat adat itu sendiri,’’ terangnya. Cerita Perkampungan Ghaib Salah satu cerita yang paling terkenal di hutan larangan ini adalah tentang perkampungan gaibnya. Sejak dulu, masyarakat di sekitar hutan sudah meyakini, bahwa ada perkampungan dari dunia lain di sini. Banyak juga cerita orang yang tersesat ke perkampungan gaib ketika memasuki areal hutan. Cerita ini sudah sejak lama beredar di tengah-tengah masyarakat Kenegerian Rumbio.

Ada orang masuk ke hutan kemudian tersesat dan ditemukan beberapa hari kemudian. Tapi ada juga kejadian seorang anak hilang lebih kurang 20 tahun yang lalu. Namun, belum juga ditemui hingga kini. Masriyadi kembali menuturkan, sampai sekarang keberadaan hutan larangan ini masih tetap terjaga.

Jadi, meskipun sudah ratusan tahun bahkan sudah berabad-abad tradisi untuk mengakui itu sebagai hutan larangan masih tetap terjaga sampai saat ini. Dan kenyataannya sampai sekarang hutan itu tetap sebagai kawasan hutan. ‘’Dan kalau seandainya ada yang tersesat ketika mereka memasuki hutan biasanya memang mereka menemukan perkampungan di dalam. Tetapi perkampungan itu sudah berada di dunia lain. Artinya perkampungan makhluk-makhluk gaib. Itu memang sering terjadi ketika ada yang nyasar di hutan,’’ ungkapnya.

Setelah keluar, ditemukan dan sudah sadar mereka mengatakan menemukan sebuah perkampungan di dalam dan mereka tidak dapat keluar dari perkampungan tersebut. ‘’Kalau diistilahkan orang-orang tua di sini, Bomo-bomo (orang pintar), dan paranormal di sini mereka ini ditawan oleh makhluk halus. Artinya makhluk gaib yang menghuni kawasan hutan ini.

Jadi, kawasan hutan ini juga beredar cerita di dalamnya ada perkampungan gaib,’’ tuturnya. Kejadian hilangnya seseorang ketika memasuki kawasan hutan biasanya karena ada pantangan yang dilangggar. ‘’Karena seperti kata pepatah Hutan Sakti Rantau Bertuah, Maknanya, kawasan-kawasan hutan, di manapun itu pasti dia punya kesaktian dan oleh masyarakat di sekitarnya ada pantang-larang dan orang-orang yang tersesat itu memang orang yang melanggar,’’ katanya bercerita.



Tags:  -