Karikatur Donny Adam

Tak Mirip Jangan bayar

By Trip Riau  |  20 Agustus 2014 21:36:27 WIB  |  Business


Pekanbaru, tripriau.com - ‘’Tak mirip jangan bayar’’. Demikian Donny Adam memberi garansi kepada pelanggan setianya, bila hasil karyanya tidak berhasil membuat para pelanggannya puas. Eksistensi Dony Adam dalam dunia lukis wajah atau orang biasa menyebutnya karikatur, tidak hanya diminati oleh orang-orang di Pekanbaru.

Beberapa publik figur tanah air bahkan pernah memanfaatkan jasanya untuk melukis wajah mereka. Sebut saja misalnya pemain timnas Indonesia Firman Utina, M Nasuha, komedian Komeng, hingga beberapa pejabat daerah seperti Kapolda. Ada juga nama Dzumafo Herman yang lama berkiprah untuk PSPS Pekanbaru. Profesi yang kini digeluti Dony Adam berawal dari hobinya menggambar.

Awalnya dia menggambar komik Jepang. Perlahan, beralih ke realis wajah – suatu aliran yang khusus menggambar wajah. ‘’Sekolah khusus seni tidak ada. Tapi kalau menggambar itu sejak SMA. Pas kuliah gak ada lagi menggambar. Tamat kuliah baru fokus lagi menggambar,’’ kata alumnus Sastra Inggris salah satu Perguruan Tinggi di Kota Padang ini.

Dony Adam juga menghabiskan waktunya untuk mengajar anak-anak menggambar. Lambat laun dia membuka usaha karikatur tanpa sengaja. ‘’Coba-coba. Di sini kan susah kalau orang mau buat karikatur. Di mana, sih, buat karikatur di sini? Paling ke Jakarta, Jogja atau Bandung. Jauh itu,‘’ katanya. Waktu itu dia melukis cukup dengan pensil saja.

Dia mematok harga sekira Rp 150 ribu per lukisan. Lama-lama ada juga pelanggannya. Pertama buka dia menerima banyak komplain dari pelanggannya. Kok jelek?,’’ kata- -nya menirukan ucapan pelanggannya ketika itu. Untuk mengasah kemampuan ayah 3 anak ini semakin rajin belajar. Dia juga bergabung dengan Sindikat Kartunis Riau (Si Kari).

Di komunitas yang beranggotakan para penghobi menggambar ini Dony Adam banyak juga mendapatkan pengalaman dan pelatihan dari para master lukis. buat karikatur di sini? Paling ke Jakarta, Jogja atau Bandung. Jauh itu,‘’ katanya. Waktu itu dia melukis cukup dengan pensil saja. Dia mematok harga sekira Rp 150 ribu per lukisan. Lama-lama ada juga pelanggannya. Pertama buka dia menerima banyak komplain dari pelanggannya. Kok jelek?,’’ kata- nya menirukan ucapan pelanggannya ketika itu. Untuk mengasah kemampuan ayah 3 anak ini semakin rajin belajar.

Dia juga bergabung dengan Sindikat Kartunis Riau (Si Kari). Di komunitas yang beranggotakan para penghobi menggambar ini Dony Adam banyak juga mendapatkan pengalaman dan pelatihan dari para master lukis. ‘’Saya juga belajar sama perupa Pekanbaru yang alirannya realis,’’ kata pria yang juga pernah jadi guru menggambar di sekolah Dharmayuda ini. Secara perlahan, Dony mulai belajar menggunakan warna pada lukisannya.

Ternyata animo ma-syarakat luar biasa. Sampai-sampai dia kewalahan menerima order yang begitu banyak. ‘’Satu minggu itu full (orderan). Gak terkejar dengan waktu karena juga mengajar,’’ timpalnya. Promosi Dia pun berfikir untuk menjadikan usaha coba-cobanya ini menjadi sebuah bisnis yang bisa menopang kebutuhan hidupnya. Mulailah dia menggarap secara serius usahanya ini. Media promosi dan pemasaran menjadi fokusnya kala itu.

Sosial media seperti facebook, twitter dan blog menjadi pilihannya untuk menyasar anak-anak muda yang memang menjadi target dari pemasarannya. Mulailah dia memasang iklan di akun-akun twitter besar di Riau. ‘’Sampai-sampai ikut blogger juga pada tahun 2011.

Admin twitter juga uda pada kenal dengan saya,’’ katanya. Untuk memaksimalkan sisi pemasaran, dia juga aktif mengikuti berbagai iven bahkan menjadi sponsor berbagai acara dan kegiatan. Misalnya saja mensponsori kegiatan perpisahan sekolah. Ini dilakukan untuk bisa merebut hati para ABG yang memang menjadi pangsa pasarnya. ‘’Misalnya, kemarin kita perpisahan salah satu sekolah di Pekanbaru. Kita jadi sponsor.

Kita kasih karikatur ke kepala sekolahnya. Kita sebar brosur juga. Ikut iven juga sering. CFD (Car Free Day) juga,’’ sebutnya. Kepuasan pelanggan menjadi harga mati bagi Dony Adam. Berbagai hal mulai dikembangkan untuk memuaskan para pengguna jasanya. Salah satunya dengan menggunakan Wako, yakni semacam software dan aplikasi buat menggambar. Untuk ini dia rela menabung dan memesan hingga ke Singapura.

Karena alat ini memang tidak dijual di Indonesia dan harganya pun relatif mahal. Keuntungan menggunakan wakom ini aplikasi (lukisannya) bisa lebih detil. ‘’Di situ juga kita mewarnainya. Keuntungan lainnya pakai aplikasi komputer ini sebelum cetak kita bisa edit sama yang memesan. Aduh, yang ini mulutnya kurang. Ini warnanya kurang. Jadi bisa kita perbaiki. Itu bedanya dengan manual,’’ terangnya. Untuk harga, karikatur lucu ini bisa dipesan dengan harga Rp 235 ribu untuk ukuran 10 R. harga ini sudah termasuk bingkai dan CD master.

Kalau ada yang meminta pengerjaan secara manual untuk satu kanvas, dikenakan harga lebih tinggi karena tingkat kesulitannya yang juga lebih tinggi. Paling mahal yakni ukuran 32 R yang bisa dipatok hingga Rp 1 juta. Dony juga menyediakan paket Rp 13 juta untuk 1 ruangan. Ini biasanya kalau ada permintaan untuk melukis interior cafe, restoran maupun kantor.



Tags:  -