Marissa Wahyuli, Owner Istana Laut

Ingin Menjadi Leader of Seafood Restaurant

By Trip Riau  |  20 Agustus 2014 21:57:01 WIB  |  Business,Culinary


Pekanbaru, Tripriau.com - Marissa Wahyuli (23) berkeinginan menjadikan Istana Laut sebagai leader of seafood restaurant, yang menjadi tempat yang tepat bagi konsumen dari seluruh kalangan dan usia untuk mencari restoran seafood dengan bahan baku fresh dan harga terjangkau.

Dari sisi konsep, Marissa juga berkeinginan adanya inovasi atau adaptasi lebih menarik dari berbagai pilihan yang bisa diterima konsumen Pekanbaru. ‘’Kalau sekarang Istana Laut lebih ke masakan nusantara, maka dikemudian hari saya ingin memiliki cabang Istana Laut dengan varian makanan laut yang diadaptasi dari menu kuliner negara-negara luar, seperti China, Thailand, Eropa atau Amerika,’’ kata Marissa.

Berdiri sejak 2 tahun lalu, Istana Laut yang kini berlokasi di Jalan Sudirman (depan RS Awal Bross), memang menjadi salah satu referensi bagi para penikmat makanan laut di Kota Bertuah. Menu unggulan di Istana Laut adalah Gurami dan aneka Ikan Bakar, Cumi Saos Tiram, Udang/kepiting Saus Padang, Seafood Sambal Goang, Sup Kerang, Seafood Blackpepper, serta menu- menu seafood lainnya ditambah dengan menu tambahan ayam bakar dan bebek goreng khas Istana Laut.

Pilihan minuman juga beragam mulai dari jus buah alami dengan proses pengolahan yang ketat sehingga jus disajikan segar dan enak. Soal harga menu, Istana Laut ingin mengubah mindset masyarakat bahwa makanan seafood tidak harus mahal. Harga makanan di Istana Laut mulai dari Rp 10 ribu sampai Rp 50 ribu saja.

Menu paling mahal tersebut adalah kepiting dengan satu porsi disajukan 2 ekor kepiting kepada pelanggan. Kelebihan lain dari Istana Laut adalah pasokan bahan masakan selalu dalam kondisi segar karena didatangkan langsung dari nelayan kota Tembilahan, Indragiri Hilir. bebek goreng khas Istana Laut.

Pilihan minuman juga beragam mulai dari jus buah alami dengan proses pengolahan yang ketat sehingga jus disajikan segar dan enak. Soal harga menu, Istana Laut ingin mengubah mindset masyarakat bahwa makanan seafood tidak harus mahal. Harga makanan di Istana Laut mulai dari Rp 10 ribu sampai Rp 50 ribu saja. Menu paling mahal tersebut adalah kepiting dengan satu porsi disajikan 2 ekor kepiting kepada pelanggan.

Kelebihan lain dari Istana Laut adalah pasokan bahan masakan selalu dalam kondisi segar karena didatangkan langsung dari nelayan kota Tembilahan, Indragiri Hilir. Terkait Istana Laut, Marissa mengatakan ini merupakan usaha kuliner pertama yang dilakoninya. Sebagai pemula di bidang kuliner, jelas, dia harus memastikan strategi yang benar agar semua proses berjalan lancar seperti kenyamanan tempat usaha, fasilitas penunjang ketersediaan bahan baku, training tenaga kerja, hingga strategi promosi dan pendekatan konsumen. ‘’Agar perbaikan yang terus berlanjut dapat ditingkatkan,’’ sebutnya.

Hal ini disebutnya penting, mengingat sebuah usaha harus memiliki sistem yang terkait dengan keseluruhan aktivitas kerja sehari-hari agar efisiensi waktu, biaya dan produktivitas kerja menjadi satu kesatuan yang dinamis. ‘’Hal itu yang saya terapkan di Istana Laut,’’ terangnya. Bicara tentang tingkat persaingan usaha untuk usaha kuliner di Pekanbaru, alumnus Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Riau ini mengaku masih tergolong sehat. Di mana masing-masing pemilik usaha berkompetisi untuk memaksimalkan hasil dengan terus meningkatkan mutu serta kualitas usaha kuliner masing-masing.

Dengan begitu, konsumen memiliki banyak pilihan yang kreatif dari segi jenis makanan dan tempat yang tersedia. ‘’Bagi saya pribadi saya me- ngambil banyak keuntungan dari tumbuhnya banyak usaha kuliner di Kota Pekanbaru dan tidak menganggap hal tersebut sebagai sebuah kompetisi. Karena saya dapat terus belajar dan menjalin kerjasama dalam berbagai kesempatan dengan banyak pihak.

Saya memiliki banyak teman sesama pengusaha kuliner dan kami saling mendukung satu sama lain dalam hal edukasi,’’ tuturnya. Marissa melanjutkan, mengedepankan prinsip kerjasama dibanding kompetisi, membe- rikan dirinya peluang lebih untuk mendapatkan banyak pelajaran berharga yang bisa dia gunakan untuk meningkatkan usahanya. Berbicara bisnis yang tengah digelutinya, Marissa mengatakan, bisnis bukan hanya persoalan untung rugi.

Tapi, bagaimana melakukan sesuatu sesuai dengan passion kita. ‘’Kita memberikan sesuatu yang kita sukai kepada orang lain dengan harapan orang lain juga suka dan menerima apa yang kita tawarkan,’’ terangnya. Dia melanjutkan, dalam bisnis dirinya belajar banyak tentang arti kejujuran, menjaga kepercayaan, menjalin hubungan baik, berinteraksi, beramal, bahkan beribadah kepada Tuhan. ‘’Saya berdoa, ada banyak anak muda di sekitar saya yang bisa membesarkan hidupnya dan sekitarnya dengan menjadi entrepreneur,’’ tutupnya.



Tags:  -