Ullie, Owner Kaos Dank

Membangun Identitas Kota Melalui Kaos

By Trip Riau  |  20 Agustus 2014 22:19:40 WIB  |  Business


Pekanbaru, Tripriau.com -  kita akan menemui banyak kaos dengan desain dan kata-kata menarik, unik dan juga lucu. Misalnya saja “Kapan saya lulus ?” atau “Meleset’’. Keunikan itulah yang jadi ciri khas dan jualan utama dari brand Kaos Dank yang mulai eksis pada tahun 2012 yang lalu.

Ullie, yang merupakan lulusan Desain Interior dari salah satu Perguruan Tinggi di Kota Bandung ini berkisah, dirinya sering melihat daerah-daerah lain punya kaos yang unik dari daerahnya. Sebut saja Dagadu di Jogja atau Jeger di Bali. ‘’Tapi belum banyak ketika itu yang bikin kaos sejenis,’’ sebutnya. Ullie juga beralasan, di Riau belum banyak kaos yang bisa mengangkat potensi daerah dan orang daerahnya sendiri mau memakainya. ‘’Sebenarnya ada beberapa (yang bikin kaos).

Tapi, yah, hanya sekedar buat oleh-oleh, karena bahan dan kualitasnya juga tidak sesuai,’’ katanya. ‘’Dari ide itu, mulailah kita bikin. Awalnya kita upload di media sosial. Ternyata responnya bagus. Dari situlah kita mulai mengembangkan diri. Kita me-ngangkat berbagai isu di Pekanbaru serta tema-tema budaya, kuliner, arsitektur, bahasa, lingkungan.

Intinya kita ingin warga Pekanbaru punya identitas dan bangga terhadap identitas kotanya,’’ pria kelahiran Aceh ini menjelaskan. Untuk insipirasi atau ide kata-kata uniknya, Ullie mengaku kebanyakan didapat dari pergaulan sehari-hari, media sosial, juga dari koran. ‘’Misalnya, dulu ngetren ‘’gak ada do’’, nah itu kita angkat. Ada juga, ‘’mantap dank’’. Kayak-kayak gitu,’’ katanya memberi contoh.

Kata Dank sendiri memiliki dua makna. Pertama, Dank merupakan bahasa sehari-hari yang digunakan masyarakat Pekanbaru. Kedua, Dank itu diambil dari nama ibunya Hang Tuah, yakni Dang Merdu. ‘’Kebetulan itukan bahasa yang populer. Dank itu sendirikan taglinenya ‘’Uniknya Pekanbaru’’,’’ tuturnya. Ullie menyebut, uniknya Pekanbaru itu justru karena Pekanbaru-nya sendiri yang beragam. Pekanbaru yang multietnik.

Bukan Pekanbaru yang cuma didominasi satu suku tertentu. ‘’Makanya nanti kita akan bikin second brand-nya khusus yang Melayu. Tapi untuk yang Dank ini garis besarnya yang multi etnik,’’. Maka tidak heran kalau kita perhatikan pada desain kaos Dank ini terdapat bahasa Minang dan juga Jawa. Untuk memperkuat keberadaan brand-nya di tengah persaingan usaha sejenis yang cukup kompetitif, Ullie menuturkan, belakangan dirinya sudah mulai fokus untuk menggarap bisnis ini.

Karena sebelumnya, lelaki kelahiran Aceh ini tidak begitu fokus mengelola bisnis yang dimulainya sekitar 2 tahun yang lalu ini. Tapi, melihat respon yang cukup bagus dari masyarakat beberapa waktu terakhir, Ullie pun mencoba untuk mulai serius mengelola usahanya. Dia pun memulai keseriusannya dengan mencari lokasi usaha yang lebih representatif. ‘’Dulu, awalnya kita buka outlet di Mal Pekanbaru (MP). Di MP tempatnya kurang strategis karena berada di ujung. Jadi, kita cuma mengandalkan orang yang nyasar aja,’’ katanya sambil tertawa.

Tak cukup hanya itu, beberapa strategi juga dilakukan Ullie. Misalnya membuat beberapa brand lagi. ‘’Kita ada beberapa brand lagi. Bahannya sama. Cuma bedanya kita mengangkat lebih global,’’ jelasnya. Dalam brand Dank itu sendiri, sekarang ada namanya brand Just Kidding. Brand ini mengangkat yang lucu-lucu. Tidak harus Riau, tapi umum. Kemudian ada Dank. Dank itu ada yang khusus Pekanbaru dan juga ada yang Riau. Biasanya mengangkat tema-tema nasionalisme.

Dank Indonesia ini juga sangat diminati oleh orang luar Riau. Mungkin bedanya itu, kita lebih beragam,’’ sebutnya. Selain itu, Ullie juga lebih mengangkat berbagai pola desain yang beragam. ‘’Biasanya kan owner hanya mengikut seleranya aja. Karena suka selera begitu, ya hampir semua desainnya begitu. Sementara kita berusaha untuk menampung semua selera orang. Mulai yang muda sampai dewasa. Jadi, kita punya desain kartun, tulisan dan lain-lain. Ada juga yang suka tulisan simpel dan gambar. Itu yang kita buat,’’ katanya menjelaskan.



Tags:  -