Angkringan, Made in Jawa di Tanah Melayu

By Trip Riau  |  12 Januari 2015 20:55:30 WIB  |  News


Pekanbaru, tripriau.com - Kota Pekanbaru kini tengah mengalami serbuan produk-produk kuliner. Tempat-tempat makan bermunculan, mencoba peruntungan dari ‘’lezatnya’’ ceruk bisnis kuliner di Kota Bertuah. Bisnis kuliner ini hadir dengan menawarkan ber-bagai konsep dan keunikan masing-masing. Salah satu yang fenomenal adalah kehadiran bisnis Angkringan.

Terik mentari baru saja berganti temaram senja, ketika sebuah gerobak kayu berwarna coklat merapat di depan sebuah rumah toko di Jalan Sudirman, Pekanbaru. Beberapa saat, si penjual menata barang dagangannya di tengah gerobak.

Tak menunggu lama, pelanggan berdatangan. Menikmati suasana angkringan hingga subuh menjelang. Begitulah gambaran angkringan. Tempat nongkrong dan makan yang hanya buka saat malam hingga menjelang subuh. Belakangan, angkringan menjadi favorit warga Kota Pekanbaru. Faktor harga, makanan hingga suasana yang unik dan santai menjadi alasan. Angkringan pertama kali masuk ke Pekanbaru pada tahun 2005. Saat itu baru ada satu tempat. Tak jauh dari Komplek Baterai P di bilangan Jalan Subrantas, Panam.

Lambat-laun bisnis angkringan mengalami perkembangan positif. Di beberapa tempat, angkringan mulai bermunculan. Kian hari, jumlahnya semakin banyak. Saat ini hampir semua jalan-jalan utama dan kawasan di Pekanbaru tak luput dari sasaran tempat makan khas Jawa ini. Bayangkan, angkringan dalam brand Atmo saja saat ini sudah ada 32 tempat di Pekanbaru. Bisnis angkringan memang bukan sembarang bisnis. Bukan pula soal berdagang lantas meraup rupiah demi rupiah. Angkringan, dengan gerobak dan sajian menunya yang khas dan menggoda selera, terkandung sebuah filosofi unik, yakni tentang kebersamaan dan persaudaraan. Angkringan, telah mampu melahirkan konsep dan nuansa yang tidak biasa. Sekaligus menghadirkan momen-momen keakraban.

Terselip juga pesan kesederhanaan di sana. Tengoklah, betapa sederhananya nuansa yang dibangun oleh angkringan. Sebuah gerobak kayu dan selembar tikar sebagai lesehan. Tak ada cahaya lampu terang berwarna-warni. Penerangannya cukup mengandalkan cahaya dari lampu jalan dan bangunan di sekitarnya.

Nuansa-nuansa tradisional direpresentasikan melalui aneka perkakas yang ada di sana. Di sini, tak ada perbedaan kelas dan status sosial. Setiap orang yang datang ke angkringan adalah sama. Menikmati pertemanan. Mereka bebas berkumpul, tertawa dan bercerita. Bercerita tentang kerjaan di kantor, kegiatan-kegiatan sosial, hobi, hingga berkeluh kesah tentang omset usaha yang kian turun. Sembari bercerita, mereka bebas memilih hidangan yang tersaji di gerobak. Ada sate kalang, sate usus, sate telur puyuh, tempe goreng, tempe bacem, tahu bacem, botok, nasi goreng, telur asin, bakso bakar hingga nasi kucing.

Ada juga minuman jahe susu, teh jahe, teh es sampai kopi Jos. Tak perlu keluar uang lebih untuk menikmati hidangan ala angkringan. Makanan dan kudapan di angkringan memang terkenal murah. Mulai dari Rp 1000 hingga Rp 6000 saja. Soal minuman, yang paling menarik di angkringan tentu saja kopi Jos. Kopi Jos merupakan segelas kopi panas yang diberi arang atau bara yang masih menyala. Arangnya dipilih dari kayu yang masih utuh. Sehingga, tidak pecah-pecah dan mengotori kopinya. Kopi Jos ini katanya berkhasiat untuk mengobati masuk angin.

Ada beberapa alasan yang disampaikan Satriatmoko, mengapa angkringan bisa mendapat sambutan yang baik di Pekanbaru. Dia menyebut, menu angkringan cocok dengan lidah orang Pekanbaru. Ditambah lagi, banyak perantau Jawa yang ada di Riau. ‘’Mereka-mereka ini ingin merasakan suasana seperti di Jawa,’’ kata salah satu pemilik angkringan di Pekanbaru ini kepada Trip Riau. Banyak juga orang yang datang ke angkringan karena ingin bernostalgia.

Misalnya saja, Nurul Hadi. Pria asli Pekanbaru yang lama menimba ilmu di Yogyakarta ini mengaku sangat sering bertandang ke angkringan. Tujuannya, apalagi kalau ingin mengulang masa-masa indah selama kuliah di Kota Pelajar itu. ‘’Saya 5 tahun menjalani masa studi di Jogja. Kadang rindu suasana di sana. Obatnya yah, dengan datang ke angkringan ini. Selama di sana emang sering nongkrong di angkringan. Kalau uda nongkrong (di angkringan) sampai larut malam, sedikit banyak kerinduan bisa terobati.Nostalgia-lah,’’ ujar alumnus salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta ini. Kisah Sukses Atmo Tak lengkap rasanya membahas soal angkringan tanpa menyebut nama Satriatmoko.

Pemilik bisnis angkringan dengan merk dagang ‘’Atmo’’ ini kini sudah pu-nya 32 cabang di Kota Pekanbaru. Pria kelahiran Kulon Progo, Yogyakarta, 32 tahun lalu ini memulai bisnis angkringan di Kota Bertuah pada tahun 2011. Angkringan pertamanya di Jalan Sudirman.

Tak mudah baginya memperkenalkan angkringan kepada masyarakat Pekanbaru. ‘’Karena orang Pekanbaru waktu itu belum kenal sama angkringan. Ngenalinnya berat. Hampir 1 tahun,’’ katanya mengenang masa-masa awalnya merintis bisnis ini.

Dia lantas merangkul teman-teman sejawat dan anggota klub motor di Pekanbaru supaya angkringannya ramai. Saban malam anggota klub motor ini nongkrong di angkringannya. Klub-klub inilah yang berjasa membesarkan usahanya. Sampai-sampai dia mengaku berhutang budi dengan para klub motor ini. ‘’Saya ingin berterima kasih sekali pada kawan-kawan klub motor di Pekanbaru. Hampir semua klub motor. Mereka sudah banyak berjasa,’’ sebut Atmo. Di kalangan klub motor, angkringan Atmo memang cukup tenar.

Setiap sabtu malam jejeran motor berbagai merk memenuhi lokasi angkringan ini. Klub-klub motor dari beberapa daerah di Indonesia pun, ketika menyambangi Pekanbaru selalu singgah di tempatnya. ‘’Biasanya itu kalau mereka mau tur ke Sabang (Aceh) mereka mampir ke sini dulu,’’ cerita Satriatmoko. Di saat banyak angkringan di Pekanbaru mulai berinovasi, baik dalam menu maupun gerobak, peralatan, serta sajiannya, Atmo masih setia mempertahankan keunikan dan ciri khas angkringannya. Misalnya, di beberapa angkringan mulai ada menu-menu baru yang bukan ciri khas angkringan, tapi di tempatnya hal itu tidak dilakukan.

Gerobak angkringannya yang dibuat dari kayu Jati juga dikirim langsung dari Yogyakarta. Juga perkakas dan peralatan jualan. Teko (ceret) dibeli dari Kota Gede, Yogyakarta, yang memang terkenal kerajinan peraknya. Tungku pemanggangan atau anglo juga dibawa dari tanah Jawa. Katanya, angkringan akan ramai dikunjungi bila penjualnya ramah dan enak diajak ngobrol. Itu kembali lagi pada filosofi persaudaraan dan kebersamaan yang ada pada konsep angkringan. (rio)



Tags:  -