Batik Gaul

Motif Riau, Melihat Pasar yang Belum Tergarap

By Trip Riau  |  12 Januari 2015 21:04:40 WIB  |  News


Pekanbaru, tripriau.com - Berbeda dengan motif batik yang ada di pasaran, motif batik Riau belum terlalu familiar di tengah masyarakat. Celah pasar inilah yang berusaha dimanfaatkan dengan baik oleh R. Noer Pangripto W. Bisnis batik mulai dilakoni Raden, sapaannya, pada 2010 lalu. Pada awal kepindahannya ke Kota Bertuah tahun 2009 dia melihat kota ini sangat sepi. ‘’Saya melihat kota ini kok sepi banget. Tahun 2010 mulai muncul ruko-ruko. Disitu saya melihat potensi,’’ katanya. Kisahnya berawal saat dia kesusahan mencari batik di Pekanbaru.

Dia menemukan toko batik di salah satu jalan di kota ini. Tapi, dia kecewa setelah melihat harga dari batik-batik yang dijual di sana. ‘’Setelah saya cek harganya mahal sekali. Rp 500 ribu sampai 1 juta. Padahal itu batik-batik murah yang kualitasnya rendah. Dari situ saya kepikiran, kita buka saja. Dengan kualitas yang sama, kita bisa dapatkan batik dengan harga yang lebih murah,’’ sebutnya.

Pilihannya tak salah. Bisnisnya mampu berkembang. Orang-orang juga akhirnya banyak yang meniru membuka batik. Persaingan berubah menjadi ketat. Tapi di satu sisi, dia melihat ada celah pasar yang belum tergarap, yakni motif batik Riau. Alhasil, tahun 2013 dia mulai menjual motif batik Riau sebagai produk andalannya. Harga batik Riau yang mahal, membuatnya berpikir untuk menjual produknya dengan harga yang terjangkau. ‘’Kalau yang ada (batik Riau) itu kan kelasnya mahal.

Harganya Rp 500 ribu sampai Rp 2 juta. Dengan kondisi seperti ini, sebenarnya kalau kita kerjakan, dengan kualitas yang sama, tapi harga lebih murah tentunya batik Riau bisa lebih memasyarakat lagi. Apalagi ini budaya Riau,’’ katanya. Salah satu strateginya, dengan membuka tokonya yang bernama Batik Gaul di jalan ‘’kelas 2’’ di Pekanbaru. Dia memilih tidak membuka gerai di jalan protokol ataupun pusat-pusat perbelanjaan. Raden lebih memilih lokasi di Jalan Durian, Sukajadi. Alasannya, sebagai antisipasi tingginya harga produk karena sewa tempat yang mahal. ‘’Kalau sewa tempat mahal, biasanya orang memilih menaikkan harga produknya.

Jadi, biaya sewa dibebankan kepada konsumen,’’ sebutnya. Cara lain dia tempuh untuk memperkenalkan motif batik Riau di tengah-tengah masyarakat. Dia melakukan edukasi pasar. ‘’Di satu sisi, sekaligus kita ingin mengedukasi masyarakat Riau agar mereka tau bahwa potensi-potensi budaya dari masyarakat Riau juga bagus. Caranya, dengan meluncurkan website www.batikriau.com sebagai media penyampai pesan. Bila kita berkunjung ke halaman digital ini kita akan menemukan banyak postingan artikel tentang batik. Mulai dari pengertian batik, jenis-jenis batik, tips-tips memilih batik hingga corak-corak batik Riau dan segala macamnya.

Mengunjungi laman ini mungkin bisa menjadi cara bagi calon pembeli sebelum memutuskan membeli batik. Di luar itu, Raden juga kerap memberikan pemahaman langsung kepada calon pembeli yang datang ke tokonya. ‘’Selain itu, orang yang beli di sini kita kasih tau batik itu seperti apa. Kita kasih pemahaman yang benar. Jadi, tidak melulu bisnis di sini, tapi kita juga melakukan edukasi kepada masyarakat,’’ tuturnya. Di gerai Batik Gaul miliknya, yang berlokasi di Jalan Durian (simp. 4 TVRI), penyuka batik bisa menemukan berbagai produk batik seperti, kemeja pendek, baju couple, gamis, blues panjang, dress, blus pendek, kaos, pakaian anak dan lain-lain. Cari Tahu Mana Batik Asli dan Mana yang Bukan Dia menemukan tantangan dalam mengembangkan usahanya ini. Dia mengatakan, banyak orang mengenal batik selama motifnya batik.

Banyak orang yang mengenal produk batik, padahal sebenarnya itu adalah tekstil. ‘’Itu, jadi salah satu pekerjaan rumah terbesar kita saat ini. Ma-syarakat banyak sudah pakai batik. Masalahnya masyarakat tidak tau definisi batik sebenarnya apa. Batik yang sebenarnya itu dalam konsep pewarnaannya menggunakan lilin cair,’’ terangnya. Dia mencontohkan, banyak orang melihat sebuah pakaian batik, tapi sebenarnya sablon. Menurutnya, kalau sablon atau printing tidak tembus. Sementara, kalau batik asli itu warnanya tembus sampai ke bagian dalam pakaian. ‘’Pekerjaan rumah kita, gimana orang bisa mengenal batik yang sebenarnya. Karena batik yang diakui UNESCO tahun 2009 yang lalu memang batik yang menggunakan lilin dalam pewarnaannya,’’ sebutnya. (rio)



Tags:  -