Barista, Passion dan Rasa Berbicara

By Trip Riau  |  12 Januari 2015 21:15:41 WIB  |  Business


Pekanbaru, tripriau.com - Tangan Herman (26) tampak lihai mengendalikan mesin grinder dan memperagakan teknik tamping yakni memadatkan bubuk kopi pada sebuah alat yang disebut portafilter. Tak lama, dia beralih mengoperasikan mesin espresso yang ada didekatnya. Mengatur timer dan beberapa tombol yang ada di situ.

Tak lama berselang, secangkir kopi espresso siap untuk dinikmati. Barista memang unik. Perhatikan saat kita datang ke coffee shop. Di balik tools bar, bisa kita amati bagaimana sibuknya mereka. Lihatlah bagaimana mereka bercengkrama dengan pengunjung, tertawa bersama dan menampilkan keramahannya. Bercerita tentang banyak hal.

Bukan hanya soal kopi, tapi juga bicara tentang kehidupan. Juga tentang cinta, pengalaman seru travelling, hingga soal musik yang sedang up to date. Mereka membaginya dari balik bar yang menjadi ruang ekspresi mereka. Bagi para pecinta kopi, barista tentu sangat familiar. Tiap kali menyambangi coffee shop, barista ibarat tokoh utama dalam sebuah film yang ingin kita lihat aksinya. Tapi bagi yang awam soal kopi, tentu akan bertanya-tanya, apa sih barista. Bagaimana profesi ini dijalankan. Apa yang mereka lakukan saat bekerja. Dan banyak pertanyaan lainnya.

Profesi barista, memang tengah digandrungi. Khususnya oleh anak muda. Seiring dengan pesatnya pertumbuhan coffee shop, terutama di kota besar seperti Pekanbaru, peluang profesi ini semakin terbuka lebar. Akhirnya, banyak anak muda yang melirik profesi ini. Terutama, mereka yang pada dasarnya memang seorang pecinta kopi. Barista sendiri adalah sebutan untuk seseorang yang pekerjaannya membuat dan menyajikan kopi kepada pelanggan. Mereka mengoperasikan alat-alat pembuat kopi, baik yang manual maupun mesin.

Dalam pekerjaannya meracik kopi, barista akan menghasilkan beberapa minuman dengan bahan dasar kopi, seperti kopi hitam, espresso, latte, cappucino, frappe dan sebagainya. Passion dan Rasa Barista, tidak hanya bicara soal sebuah profesi atau pekerjaan. Tapi, juga berbicara soal passion dan rasa. Seseorang tidak akan bisa menjadi seorang barista, bila tidak memiliki minat yang tinggi terhadap profesi ini. Dia juga harus seorang yang benar-benar mencintai kopi, sekaligus mengerti seluk-beluk kopi. Inilah yang dinamakan passion. Begitu juga soal rasa. Seorang barista tidak akan mampu membedakan mana kopi yang enak dan bukan, bila lidahnya tidak biasa mengecap nikmatnya kopi.

Herman, salah seorang barista di Krema Coffee, Jalan Rajawali, Sukajadi mengatakan, seorang barista mesti mempunyai passion. Artinya, minat dan kecintaan yang tinggi terhadap profesi yang digeluti. Dia pun memberikan sebuah perumpamaan. ‘’Misalnya, kita punya sebuah kamera. Terus kita kalungkan ke leher orang. Bukan berarti dia seorang fotografer hanya karena mengalungkan kamera. Sama dengan barista. Kita punya mesin espresso dan alat-alat pembuat kopi, kemudian kita suruh sembarang orang bikin, bukan berarti dia seorang barista,’’ tuturnya Herman menambahkan, menjadi seorang barista adalah masalah gairah.

Modal seorang barista adalah selera yang tinggi, dan ini berkaitan dengan rasa. Jadi, seorang barista harus mengetes semua minuman yang dia bikin. ‘’Nah, itu problem para barista. Misalnya, dikasih espresso takut.Jadi, mereka gak tau cita rasa minuman yang mereka bikin,’’ katanya kepada Trip Riau. Herman juga mengatakan, seorang barista tidak hanya dinilai dari sertifikat yang dia punya. Tidak juga dihitung dari berapa kali dia mengikuti training untuk menjadi seorang barista. ‘’Misalnya, dia hanya tahu dari internet, tapi bisa membuat kopi yang enak. Itu bisa dibilang barista. Itu soal gairah,’’ sebutnya.

Pria berkulit putih ini mengatakan, seorang barista akan diakui, misalnya ketika kemampuannya dalam meracaik kopi menyebar dari mulut ke mulut. ‘’Ibarat tukang pangkas (rambut), kalau uda cocok dia gak mau ganti orang. Lebih bagus lagi kalau dia sudah juara Barista Championsip. Itu bisa jadi pengakuan. Karena yang nilai itu barista profesional,’’ paparnya. Bagi Herman, barista merupakan profesi yang menyenangkan, karena bisa bertemu banyak orang. ‘’Itu menyenangkan. Aku melakukan apa yang aku suka.

Bukan apa yang aku dapat, tapi aku melakukan apa yang aku cintai,’’ sebut pria yang menggeluti profesi barista pada 2013 yang lalu ini. Herman juga mengatakan, seorang barista tidak hanya dinilai dari sertifikat yang dia punya. Tidak juga dihitung dari berapa kali dia mengikuti training untuk menjadi seorang barista. ‘’Misalnya, dia hanya tahu dari internet, tapi bisa membuat kopi yang enak. Itu bisa dibilang barista. Itu soal gairah,’’ sebutnya. Pria berkulit putih ini mengatakan, seorang barista akan diakui, misalnya ketika kemampuannya dalam meracaik kopi menyebar dari mulut ke mulut. ‘’Ibarat tukang pangkas (rambut), kalau uda cocok dia gak mau ganti orang.

Lebih bagus lagi kalau dia sudah juara Barista Championsip. Itu bisa jadi pengakuan. Karena yang nilai itu barista profesional,’’ paparnya. Bagi Herman, barista me--rupakan profesi yang menyenangkan, karena bisa bertemu banyak orang. ‘’Itu menyenangkan. Aku melakukan apa yang aku suka. Bukan apa yang aku dapat, tapi aku melakukan apa yang aku cintai,’’ sebut pria yang menggeluti profesi barista pada 2013 yang lalu ini.

Barista, nyatanya tak hanya digeluti oleh kaum lelaki. Perempuan pun ada yang memilih untuk menekuni bidang ini. Salah satunya Richafiona (24), yang menjadi peracik kopi di Erber Coffee. Ketertarikan perempuan yang biasa disapa Ica ini juga berawal dari kecintaannya terhadap kopi. Dia lalu belajar meracik kopi melalui sharing dengan yang berpengalaman, membaca buku, dan melihat video di youtube. ‘’Aku memang pecinta kopi.

Awalnya emang suka minum kopi. Dari SMA. Keluarga juga suka minum kopi. Makin lama rasanya kok makin pengen (meracik kopi), trus, cari-cari tau jenis-jenis kopi. Dari hobi tadi pengen buka usaha kopi kayak sekarang dan jadi barista juga di sini. Jadi, tahu detailnya (meracik kopi) baru sekarang. Dulunya hanya penikmat kopi,’’ terang yang juga hobi membaca ini. Penyuka travelling ini memang belum lama terjun ke dunia racik-meracik kopi. Untuk mendalami profesi ini, dia pun sudah merencanakan mengikuti training atau pelatihan menjadi seorang barista suatu saat nanti.

‘’Supaya lebih mantap, lebih ngerti. Kalau sekarang ibarat air, kan baru kena cipratannya aja. Belum mendalam, karena juga belum lama menekuni ini. Ikut training, trus, learning by doing,’’ kata Ica saat mengobrol dengan Trip Riau, di Erber Coffee yang berlokasi di Jalan Beringin, Gobah. Ica menjelaskan, membuat kopi yang enak, sebenarnya kembali kepada selera masingmasing.

Ada orang yang suka sedikit asam bisa ke (jenis kopi) arabica. Kalau suka pahit, maka robusta menjadi pilihan. ‘’Susah ngomongin enak. Soalnya masalah selera,’’ katanya lagi. Pilihan untuk menjadi seorang barista juga dialami Muhammad Wahyu Dirgantara, yang sehari-hari adalah barista di Ghazy Grind & Grill Cafe, Jalan Paus ini. Wahyu, mengaku tertarik untuk menjadi barista saat melihat seorang barista membuat gambar di kopi (Latte Art). ‘’Awalnya tertarik memang karena Latte Art,’’ kata Wahyu, yang baru memulai profesi sebagai barista dalam hitungan bulan.

Dia pun memulai dengan belajar secara otodidak dengan barista-barista yang telah berpengalaman di Kota Pekanbaru. ‘’Awal-awal belajar, kesulitannya bikin latte art karena harus buat espresso-nya dulu. Kan ada aturannya, gimana kita bisa buatnya standarnya terlebih dahulu. Disitulah, dari tamping-nya, setelan grinder-nya, steam susunya, itu mempengaruhi gambarnya,’’ pungkas mahasiswa Bahasa Jepang, Universitas Riau ini. (rio)



Tags:  -