Inilah Pacu Jalur, Lomba Perahu Terpanjang di Indonesia

By Trip Riau  |  20 April 2015 14:25:11 WIB  |  Wisata Riau

Festival Pacu Jalur tradisional merupakan tradisi asli nenek moyang masyarakat di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Foto: Wan Akhwan A / tripriau.com

tripriau.com – Hai Tripers, Pacu Jalur tradisional merupakan salah satu tradisi budaya nusantara yang sangat unik. Festival ini bahkan disebut sebagai event budaya yang memiliki penonton paling ramai di Indonesia.

Festival Pacu Jalur tradisional merupakan tradisi asli nenek moyang masyarakat di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau yang sangat mengakar dan telah bertahan selama ratusan tahun.

Festival Pacu Jalur merupakan perlombaan dengan menggunakan perahu atau sampan yang terbuat dari kayu yang oleh masyarakat Kuantan Singingi disebut Jalur. Jalur yang digunakan biasanya memiliki panjang 25-30 meter dengan lebar 1,5 meter. Dengan ukuran ini, tak salah bila jalur merupakan salah satu perlombaan perahu terpanjang di Indonesia. Jalur biasanya bisa memuat 40-60 orang pengayuh atau biasa disebut ‘’anak pacu’’.

Anak pacu mengayuh jalur di Tepian Narosa, Kota Teluk Kuantan. Foto: Wan Akhwan A

Menurut sejarah, pada awal abad ke-17, jalur digunakan sebagai alat transportasi utama warga desa di daerah ini, yakni daerah di sepanjang Sungai Kuantan yang terletak antara Kecamatan Hulu Kuantan di bagian hulu hingga Kecamatan Cerenti di hilir.

Saat itu transportasi darat belum berkembang. Sehingga, jalur menjadi alat angkut penting masyarakat. Terutama digunakan sebagai alat angkut hasil bumi, seperti pisang dan tebu, serta berfungsi untuk mengangkut sekitar 40 orang.

Ketika Belanda mulai masuk ke Riau (sekitar tahun 1905), tepatnya di kawasan yang sekarang menjadi Kota Teluk Kuantan, mereka memanfaatkan pacu jalur untuk merayakan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang jatuh pada setiap tanggal 31 Agustus.

Sejak itu, pacu jalur tidak lagi dirayakan pada hari raya umat Islam. Penduduk Teluk Kuantan malah menganggap setiap perayaan HUT Ratu Wilhelmina itu sebagai datangnya tahun baru.

Oleh karena itu, sampai saat ini masih ada yang menyebut kegiatan pacu jalur sebagai Pacu Tambaru.

Tradisi Pacu Jalur ini sendiri telah mampu menggairahkan sektor pariwisata di Kuantan Singingi khususnya dan Riau umumnya. Apalagi event ini telah masuk dalam kalender Pariwisata Nasional.

Suasana festival pacu jalur di Tepian Narosa, Teluk Kuantan. Foto: A. Ronny

Tiap Pacu Jalur digelar, hotel-hotel di Kota Teluk Kuantan akan penuh. Ini dikarenakan banyak sekali orang dari luar kota yang datang. Para turis asing pun selalu bisa dijumpai setiap event ini digelar.

Berbagai perayaan digelar di jantung kota yang dibelah oleh aliran Sungai Indragiri ini. Berbagai panggung hiburan didirikan, festival budaya digelar, kesenian tradisional ditampilkan, pameran dan pertunjukan dipertontonkan, ditambah lagi pawai budaya yang melibatkan banyak sekali masyarakat di sana. Pokoknya, kota ini benar-benar semarak tiap kali event tahunan ini dilangsungkan.

Sudah menjadi kebiasaan pula, setiap Pacu Jalur digelar, orang Kuansing yang berada di perantauan akan pulang ke kampung halamannya hanya untuk menyaksikan tradisi ini. Sehingga tak heran, Kota Teluk Kuantan yang memiliki luas sekira 291,74 kilometer persegi ini akan menjadi lautan manusia selama festival ini berlangsung.

Pacu Jalur biasanya dibuka dengan kegiatan pawai budaya yang melibatkan seluruh kecamatan di daerah ini. Masing-masing kecamatan akan mengusung berbagai keunikan yang terdapat di daerahnya masing-masing. Mulai dari kesenian, kekayaan kuliner, tradisi-tradisi budaya dan lain sebagainya.

Pacu Jalur biasanya dibuka dengan kegiatan pawai budaya yang melibatkan seluruh kecamatan di daerah ini. Foto: Wan Akhwan A

Tidak kurang dari seratusaan jalur berpartisipasi saban tahun. Mayoritas berasal dari desa-desa yang ada di Kabupaten Kuansing. Ditambah jalur-jalur yang berasal dari daerah tetangga seperti Indragiri Hulu dan Kota Pekanbaru. Dibeberapa kesempatan, jalur-jalur dari negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand juga pernah ambil bagian pada iven ini.

Pacu Jalur digelar dengan mengadu jalur satu lawan satu. Dari titik start menuju pancang finish jaraknya sekitar 1 kilometer. Di sini keseruannya. Setiap jalur berlomba sekuat tenaga untuk lebih dulu sampai di titik finish. Sekuat tenaga pula mereka mengayuh jalurnya. Sorak-sorai penonton di bibir sungai menambah keseruan lomba.

 

Komposisi Jalur

Pendayung atau anak pacu dalam Pacu Jalur biasanya hanya dilakukan oleh para lelaki yang berusia 15-40 tahun. Selain anak pacu, di dalam jalur biasanya ada yang disebut dengan Tukang Tari, Tukang Onjai dan Tukang Timbo Ruang. Masing-masing memiliki tugas yang berbeda-beda.

Tukang Tari misalnya, tugasnya adalah untuk menari-nari dibagian terdepan jalur. Tujuannya, untuk memberitahu para penonton agar tahu jalur mana yang sedang unggul dalam perlombaan. Tukang Tari yang biasanya anak-anak umur 15an tahun ini akan berdiri dari posisinya dan kemudian menari-nari bila jalurnya berhasil mendahului sang lawan.

Tukang Onjai biasanya berdiri dibagian belakang jalur. Biasanya berfungsi sebagai pemberi irama bagi jalur, sehingga jalur akan lebih cepat dan mudah didayung.

Tukang Onjai berada pada bagian belakang jalur, tugasnya sebagai pemberi irama pada jalur sehingga jalur akan lebih cepat dan mudah didayung. Foto: Wan Akhwan A

Sementara, Tukang Timbo Ruang bertugas sebagai pemberi aba-aba kepada seluruh anak pacu agar mendayung secara serentak. Biasanya dengan meniup pluit dan mengibaskan Upia atau pelepah pinang. Selain itu, Tukang Timbo Ruang juga bertugas menimba air yang masuk ke dalam jalur agar tidak karam.(rio)

 



Tags:  -