Inilah 5 Model Bisnis Media Online di Indonesia

By Trip Riau  |  08 Juni 2015 15:24:15 WIB  |  Business

20150424162305_Gadget.jpg

Pekanbaru, tripriau.com - Tumbangnya edisi cetak majalah berita mingguan Newsweek pada akhir 2012 yang sudah beroperasi selama 80 tahun dan beralih hanya terbit dalam format digital, mengisyaratkan bahwa media online memang akan lebih menjadi pilihan dari pada media cetak untuk lahan bisnis.

Namun, tidak semua orang mengerti bagaimanakah model bisnis dari sebuah media online.

Pada umumnya, model bisnis media online memiliki konsep monetizing dari dua sumber pendapatan utama yaitu: sisi pengiklan (advertiser) dan sisi pembaca (reader atau user).

Berdasarkan beberapa startup media online, berikut adalah rangkuman mengenai jenis-jenis model bisnis media online di Indonesia.

1. Display ad

Nampaknya display ad layak disebut “model bisnis sejuta umat” mengingat kebanyakan media online di Indonesia menggunakan medium ini untuk menghasilkan pendapatan.

Namun, display ad lebih baik tidak menjadi model bisnis yang utama, mengingat pengiklan cenderung mau beriklan dengan model seperti ini jika traffic website media online tersebut sudah memadai.

Sementara membangun traffic website yang memadai untuk mendapatkan iklan, memerlukan waktu lama dan panjang. Apalagi dalam bisnis — apapun itu — meraih keuntungan dalam jangka pendek lebih baik daripada jangka panjang. Google adsense juga termasuk dalam model bisnis ini, walaupun seringkali pendapatan yang dihasilkan tidak sebesar display ad.

Model bisnis display ad sendiri bisa berbentuk banner dengan ukuran tertentu yang dipasang pada tampilan website atau bisa juga berupa mobile ad jika media online tersebut sudah memiliki aplikasi mobile-nya. Hampir semua media online di Indonesia menerapkan model bisnis display ad, antara lain Speed Architec, Hijapedia, dan Dream.

2. Content creation

Sekiranya display ad dianggap terlalu mainstream sebagai model bisnis — atau Anda ingin memfasilitasi produk atau brand dengan iklan dalam bentuk lain yang lebih variatif, content creation bisa menjadi pilihan.

Melalui model bisnis ini, pesan-pesan sponsor yang bersifat iklan bisa disampaikan dengan halus melalui konten-konten yang disajikan baik tulisan maupun audio visual. Jenis konten-nya sendiri bisa beragam antara lain sponsored post, video based content, newsletter, dan content marketing .

Beberapa contoh media online yang mengutamakan model bisnis ini antara lain Kompas, MalesBanget dan khusus Hipwee menggunakan istilah “custom editorial content”.

3. Community engagement

Jika media online Anda sudah memiliki komunitas dengan basis user atau reader yang solid, model bisnis community engagement bisa diterapkan. Pada model bisnis ini pihak pengiklan mendanai kegiatan online maupun offline dari komunitas yang dimiliki sebuah media online tertentu baik berbentuk event sponsorship, forum sponsorhip, dan/atau online activation.

Dengan model bisnis community engagement pesan-pesan berkonotasi iklan bisa disampaikan melalui spanduk, poster, swag, atau material cetak lain yang menampilkan logo dan/atau slogan pengiklan tersebut. Media online yang menerapkan model bisnis ini antara lain Daily Social dan Female Daily.

4. Community insight

Model bisnis community insight mirip dengan poin sebelumnya yang memberdayakan komunitas dari sebuah media online tertentu. Tetapi, pada model bisnis ini produk atau brand tertentu menjadikan komunitas dari sebuah media online lebih sebagai obyek research yang disebut brand and competitor research dan/atau obyek survey yang disebut consumer survey.

Untuk beberapa kebutuhan marketing tertentu, beberapa anggota komunitas juga dikumpulkan secara offline untuk research atau survey yang lebih terfokus dengan konsep focus discussion group.

Tetapi, bagi Anda yang ingin menerapkan model bisnis community engagement dan community insight bagaimanapun memerlukan waktu lama dan panjang untuk membangun komunitas, yang diawali dengan membangun traffic yang memadai terlebih dahulu.

5. Premium content subscription

Model bisnis ini jarang diterapkan pada bisnis media online di Indonesia. Mengapa? Karena model bisnis premium content subscription mengenakan biaya kepada user atau reader apabila mereka ingin membaca sebuah konten tertentu dari sebuah media online. Sementara karakter konsumen Indonesia relatif cenderung lebih menyukai hal yang bersifat gratis.(rio)

Sumber: techinasia.com



Tags:  -