Mengintip Pembuatan Keripik Nenas, Oleh-oleh dari Kampar

By Trip Riau  |  16 Juni 2015 11:18:52 WIB  |  Culinary

20150615222638_Nenas Kampar.jpg

Pekanbaru, tripriau.com – Desa Kualu Nenas yang berada di Kabupaten Kampar selama ini telah dikenal sebagai sentra penghasil nenas. Tak hanya dijual dalam kondisi segar, nenas-nenas ini juga diolah menjadi keripik nenas. Dan kini menjadi oleh-oleh khas negeri Serambi Mekah.

Di desa yang berada di Jalan Lintas Pekanbaru-Bangkinang ini jejeran nenas-nenas segar menghiasi sepanjang jalan. Di sepanjang jalan ini pula industri rumahan skala kecil dan menengah memproduksi olahan nenas berupa keripik. Ada lebih kurang 12 industri rumahan tersebar di daerah ini.

Melimpahnya produksi nenas Desa Kualu Nenas dimanfaatkan masyarakat untuk mendapatkan nilai tambah. Seperti yang dilakukan perempuan bernama Asri (32). Bersama suaminya, warga asli Kualu Nenas ini memulai usaha pembuatan keripik sejak 2 tahun lalu. Bermodal sebuah mesin produksi yang dibelinya seharga Rp 27 juta hasil pinjaman bank.

Nenas segar, bahan utama keripik nenas khas Kampar. Foto: Abdul Ronny/tripriau.comSetiap hari, dengan mengusung merek dagang Sempurna, Asri memproduksi sebanyak 10 kilogram keripik nenas. Untuk menjalankan usahanya ini Asri dibantu oleh 2 orang yang bertugas mengupas nenas. Bahan baku nenas harus yang masak dan berwarna kuning.

Proses pengolahan nenas menjadi keripik sendiri tidaklah terlalu rumit. Apalagi, sebagian besar proses produksi sudah menggunakan mesin.

Setelah dikupas dan diiris tipis, nenas kemudian direndam dalam baskom dengan soda dan garam selama 15 menit. Tujuannya, agar keripik terasa renyah.

Nenas-nenas ini kemudian dimasukkan ke dalam sebuah mesin vakum yang berfungsi sebagai pemasak. Proses memasak ini memakan waktu selama 4 jam. Setelah selesai, nenas-nenas yang masih mengandung air ini lantas dikeringkan. Caranya, dengan memasukkannya ke dalam sebuah wadah yang berputar dengan kecepatan tinggi. Selanjutnya ditiriskan dan digoreng di dalam minyak panas.

Dalam sehari, untuk 10 kilogram keripik, Asri melakukan 4 kali penggorengan. Keripik nenas yang dihasilkan cukup crispy dan gurih dengan kombinasi rasa manis dan asam. Kemasan 8 gram dijual seharga Rp 10 ribu sementara perkilonya dipatok Rp 120 ribu.

Asri mengaku, keripik nenas produksinya tak sempat dijual ke luar. ‘’10 kilogram itu biasanya sudah habis sama orang yang beli langsung ke sini. Jadi, tidak sempat dijual ke luar,’’ katanya.

Kebanyakan pembeli biasanya berasal dari berbagai daerah seperti Sumatera Barat, Jakarta dan Sumatera Utara.

Keripik nenas dalam kemasan, kini menjadi oleh-oleh khas negeri Serambi Mekah. Foto: ABdul Ronny/tripriau.com

Mendekati momen Ramadhan dan Lebaran Idul Fitri permintaan keripik nenas biasanya meningkat. Asri kerap kewalahan memenuhi permintaan di momen-momen ini. Bila produksinya tak mencukupi, perempuan ini biasanya membeli keripik nenas ke sentra produksi lainnya untuk dijual kembali pada pelanggannya.

Jumlah mesin yang masih terbatas, yakni 1 unit, turut mempengaruhi kapasitas produksi keripiknya. Karena perhari hanya mampu memproduksi 10 kilogram keripik nenas. Alhasil, bahan baku yang melimpah pun kerap dibiarkan terbuang dan membusuk.(rio)



Tags:  -