Melihat Kegembiraan Tradisi Petang Megang

By Trip Riau  |  18 Juni 2015 22:43:52 WIB  |  Wisata Riau

20150618230400_Petang Megang 4.jpg

Pekanbaru, tripriau.com – Orang-orang yang sebelumnya hilir mudik dengan sampan mendadak terjun ke Sungai Siak begitu puluhan ekor itik dilepas di sungai terdalam di Indonesia ini. Diselingi tawa dan sorakan riuh, mereka pun berlomba menangkap satu demi satu itik berbulu coklat ini.

Dari pengeras suara terdengar, siapa yang menangkap itik paling banyak akan mendapatkan hadiah dari panitia. ‘’Siapa yang menangkap itik paling banyak, datang ke panitia, akan kita kasih hadiah,’’ teriak sang pembawa acara.

Begitulah kemeriahan yang tersaji dalam kegiatan Petang Megang yang diadakan di tepian Sungai Siak, persisnya di Kecamatan Senapelan, Pekanbaru.

Lomba menangkap itik merupakan salah satu kegiatan yang digelar untuk memeriahkan tradisi masyarakat Melayu di Kota Pekanbaru ini.

Sore itu, tetabuhan bedug yang dilakukan oleh Wakil Walikota Pekanbaru, Ayat Cahyadi menandai dimulainya puncak kegiatan Petang Megang di tepian Sungai Siak.

Puluhan ribu masyarakat yang memadati lokasi acara pun larut dalam kegembiraan sepanjang sore.

Tradisi Petang Megang pada tahun 2015 ini dilaksanakan tepat pada hari Rabu (17/6). Seperti tahun-tahun sebelumnya, tradisi ini berlangsung meriah. Puluhan ribu orang berkumpul. Tak hanya dari dalam kota, tapi juga dari berbagai daerah di luar Pekanbaru.

Petang Megang digelar persis diantara 2 jembatan yang menjadi ikon Kota Bertuah, yakni Jembatan Siak 1 dan Jembatan Siak 3. Jembatan yang menghubungkan Pekanbaru Kota dan Rumbai ini tak bisa dihindarkan dari kerumunan orang. Ruas jembatan ini disesaki pengunjung yang ingin melihat tradisi sekali dalam setahun ini.

Para pejabat dan masyarakat di Kota Pekanbaru tumpah ruah dalam acara Petang Megang. Foto: Abdul Ronny/tripriau.com

Sementara di Sungai Siak yang berwarna kecoklatan, beberapa perahu dan pompong masyarakat terlihat hilir mudik.

Kegembiraan juga terpancar di wajah anak-anak. Mereka terjun ke sungai dan berenang bersama-sama. Beberapa anak lagi, dengan nekatnya, melakukan aksi terjun bebas dari atas jembatan Siak 1 dan 2. Tak tanggung-tanggung mereka lompat dari ketinggian sekitar 20-30 meter dan menghujam keras ke dasar sungai.

Tradisi Petang Megang, bagi masyarakat Pekanbaru, adalah simbol kegembiraan dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Petang Megang yang dibeberapa daerah lainnya di Riau disebut dengan ‘’Mandi Balimau’’ atau ‘’Balimau Kasai’’ adalah tradisi mandi sore untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Biasanya digelar sehari menjelang bulan suci ini tiba.

Petang Megang merupakan ritual yang telah mengakar dan terus berlangsung secara turun-temurun sejak zaman Kerajaan Melayu Siak Sri Indrapura.

Petang Megang berasal dari kata ‘’Petang’’ yang bermakna sore hari, sesuai dengan waktu dilaksanakannya tradisi ini. Sedangkan ‘’Megang’’ dapat dimaknai sebagai memegang sesuatu, atau memulai sesuatu, yang dalam konteks ini dimaknai untuk memuliakan sesuatu yang baik dan suci, yaitu berpuasa.

Prosesi Petang Megang

Rangkaian prosesi ini diawali dengan ziarah makam para tokoh Pekanbaru di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Senapelan. Para pejabat di Kota Pekanbaru melakukan tabur bunga di sini.

Lepas ziarah di Senapelan, dilanjutkan dengan ziarah ke makam tokoh pendiri Pekanbaru, yakni Marhum Pekan. Makamnya berdiri di Kompleks Masjid Raya Pekanbaru.

Selepas ashar, dilanjutkan dengan arak-arakan menuju tepian Sungai Siak, tempat acara dilangsungkan. Selain para pejabat seperti wakil walikota dan unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkominda), masing-masing kecamatan, berbagai organisasi dan lapisan masyarakat lainnya juga ikut serta.

Dalam rombongan arak-arakan diusung juga kepuk telur merah yang menjadi barisan paling depan dalam rombongan. Kepuk itu merupakan susunan nasi kunyit bertingkat tiga. Di setiap tingkatannya terdapat hiasan telur rebus yang ditusuk menyerupai sate. Biasanya, ada lebih kurang 1000 butir telur yang menghiasi kepuk setinggi 3 meter ini.

Kepuk telur merah dengan tinggi 3 meter dan terdiri lebiih kurang 1000 butir telur yang menghiasi. Foto: Abdul Ronny/tripriau.com

Di sebuah tenda yang sudah disiapkan, wakil walikota Pekanbaru dan pejabat lainnya duduk bersila. Tak lupa dijamu dengan aneka kue khas Melayu.

Acara kemudian dimeriahkan dengan penampilan tarian persembahan dari Sanggar Laksamana yang merupakan binaan dari istri walikota Pekanbaru.

Setelah pemukulan bedug yang bersama-sama dilakukan oleh Wakil Walikota dan para pejabat, tibalah di puncak acara, yakni lomba menangkap itik. Setiap tahun lomba menangkap itik ini selalu ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Sebagian besar yang terlibat dalam lomba ini memang mereka yang bermukim di bantaran Sungai Siak ini.

Selanjutnya, para pejabat melakukan prosesi memandikan 12 anak yatim dengan air limau sekaligus menyantuninya.

Daya Tarik Wisata

Saat ini, tradisi Petang Megang telah menjadi bagian dari kalender event Pariwisata Pekanbaru.

Kegiatan ini dilestarikan Pemerintah Kota Pekanbaru sebagai upaya untuk menggali, menumbuhkembangkan serta melestarikan tradisi Melayu yang bersendikan Islam sebagai pusaka budaya agar tidak punah tergilas arus modernisasi.

Wakil Walikota Pekanbaru, Ayat Cahyadi juga berharap agar kegiatan Petang Megang ini bisa menjadi daya tarik wisata bagi para pendatang, baik regional maupun nasional bahkan dari mancanegara.(rio)



Tags:  -