Wisata Alam Bahari

Melihat Bandar Bakau Situs Legenda Putri Tujuh (1)

By Trip Riau  |  05 Juli 2015 15:57:46 WIB  |  Wisata Riau

20150705162755_Bandar Bakau Dumai. Foto Syafroni Pranata for tripriau.jpg

Dumai, tripriau.com Sejauh mata memandang, tampak hamparan konservasi mangrove seluas 11 hektar dengan latar belakang dan sejarah yang masih kental didalamnya, yang dikenal dengan Situs Legenda Putri Tujuh.

Kawasan ini berada di pesisir Riau, yakni Kota Dumai. Di sini bisa kita menemukan destinasi wisata yang kaya akan potensi alam dengan dengan suasana alam yang begitu memanjakan mata dan menenangkan pikiran.

Putri Tujuh adalah kisah turun-temurun yang berasal dari Kota Dumai. Mulai dari anak-anak, dewasa hingga orang tua mengetahui kisah ini. Kisah ini begitu melekat pada masyarakat Dumai. Saking melegendanya dijadikan nama Kilang Pertamina, di mana Makam Putri Tujuh bermastautin di kilang tersebut.

 

Jasa Darwis Moh Saleh

Sosok pecinta lingkungan bernama Darwis Moh Saleh tak bisa dipisahkan dari keberadaan kawasan konservasi ini. Dia sangat berjasa dalam pendirian kawasan ini menjadi area hutan mangrove. Lima belas tahun adalah waktu yang tidak sebentar untuk pengabdiannya menjadikan kawasan ini sebagai kawasan konservasi mangrove.

Bermula ketika mudanya Pak Darwis melakukan perjalanan keliling Indonesia dengan berjalan kaki. Dia melihat begitu indahnya Indonesia yang kaya akan potensi alam dan budaya. Namun, sayangnya keadaan ini makin lama makin memprihatinkan dan budaya pun mulai luntur.

Dia mulai melakukan gerakan penyelamatan lingkungan ini mulai dari tempatnya sendiri dengan gagasan pribadinya. Pak Darwis, sapaannya, bercita-cita untuk menjadikan kawasan Bandar Bakau sebagai kawasan konservasi.

Untuk mewujudkan Bandar Bakau sebagai kawasan konservasi, halangan dan rintangan serta suka duka mengiringinya silih berganti. Banyak modal yang dibutuhkan. Mulai dari materi, tenaga hingga pikiran.

Awalnya, Pak Darwis meminjam uang pada sebuah gerakan yang ada di Dumai, namun usahanya sia-sia karena tidak mendapatkan tanggapan yang positif. Selepas itu, Pak Darwis berbincang-berbincang dengan temannya di warung kopi dan menceritakan niatnya untuk memimjam modal.

Tak disangka dari temannya inilah Pak Darwis mendapatkan pinjaman uang. Dia menceritakan keinginannya untuk menjadikan kawasan ini menjadi pulih. Hari itu juga Pak Darwis mendapatkan pinjaman uang dari temannya.

Pak Darwis langsung bergerak untuk membeli bibit mangrove untuk menanamya di kawasan ini dan menjadikan kawasan ini yang sebelumnya rusak menjadi pulih.

Tak jarang tanggapan miring masyarakat menghampirinya. Bahkan beliau sering disebut sebagai orang gila yang bekerja dengan sia-sia. Namun, pujian dan cacian dijadikannya penyemangat untuk tetap menjaga lingkungan dan menjadikan kawasan ini sebagai kawasan konservasi hutan mangrove.

Medio Juni tahun 2000, Pak Darwis mulai gencar mengumpulkan masyarakat sekitar untuk bersama-sama menanam mangrove. Berbagai penyuluhan dan pendekatan yang dilakukan kepada masyarakat untuk menumbuhkan kecintaan terhadap lingkungan, memberikan arti penting untuk menyelamatkan kawasan ini.

Eksistensinya membuat nama Pak Darwis mulai dikenal banyak orang. Gerakan penyelamatan yang dilakukannya terhadap kawasan ini, membuat Pak Darwis kerap dipanggil untuk merehabilitasi kawasan lain yang telah rusak juga.

Berbagai penghargaan pun silih berganti diterimanya. Dia juga pernah mendapatkan penghargaan dari Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono sebagai penyelamat lingkungan.

Pak Darwis menyebut, kawasan ini harus dilestarikan karena pada saat ini, telah terjadi abrasi Budaya di Kota Dumai.

Terjadi abrasi budaya dengan hilangnya hutan bakau yang melindungi bibir pantai. Di mana wilayah ini sebagian besar dijadikan pelabuhan.

Akibat dari itu bakau pun ditebang dan mengancam keberadaan makam Putri Tujuh, sehingga membuat Pencinta Alam Bahari (PAB) mulai berkonsentrasi menyelamatkan bakau yang masih tersisa.

Penulis: Sinta Haryati Silviana

Editor: Rio Sunera



Tags:  -