Festival Lampu Colok: Melestarikan Budaya Hingga Daya Tarik Wisata

By Trip Riau  |  14 Juli 2015 13:45:58 WIB  |  Wisata Riau

20150714025546_Lampu Colok.jpg

Pekanbaru, tripriau.com – Seperti tahun-tahun sebelumnya, pada 2015 ini Pekanbaru kembali menggelar Festival Lampu Colok. Tradisi budaya di Kota Bertuah ini sudah berlangsung sejak tahun 1995 dan digelar settiap malam 27 Ramadhan.

Lampu colok ini terbuat dari botol bekas yang diberi sumbu dan minyak tanah. Ribuan lampu ini dipasang pada rangka kayu yang sudah didesain dengan beragam bentuk. Mulai dari desain yang menyerupai mesjid hingga perahu layar. Ketika semua lampu berhasil dinyalakan, motifnya akan terlihat indah menyerupai desain dari rangka kayunya.

Proses pembuatan Lampu Colok ini tak mudah, karena memakan waktu dan biaya. Biasanya memakan waktu 5-6 hari.

Untuk membentuk Lampu Colok setinggi 12 meter perlu pekerja 12 orang dan menghabiskan biaya lebih kurang Rp 6 juta. ‘’Yang sulit membentuk desainnya. Kita pakai 200 liter minyak tanah untuk mengisi 2000 botol. Minimal sampai subuh bisa hidup kalau minyaknya penuh,’’ kata Indra, salah satu pembuat Lampu Colok.

Menurut sejarah, tradisi ini merupakan warisan masyarakat Melayu Pekanbaru yang dulunya bernama Senapelan.

Saat itu masyarakat yang bermukim di Senapelan gemar memasang lampu colok di sepanjang kampung saat malam 27 Ramadhan. Selain untuk penerangan kampung, lampu colok yang ditata dengan berbagai bentuk juga sebagai bukti rasa syukur memasuki malam Lailatul Qadar dan menyambut gembira hari kemenangan.

‘’Keindahannya pada malam hari membuat daya tarik seni yang artistik, sehingga kami terus membudayakannya,’’ Kata Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Kota Pekanbaru, Hermanius, seperti dilansir antarariau.com.

Festival Lampu Colok. Foto: Abdul Ronny/tripriau.com 

Potensi Wisata Pekanbaru

Wakil Walikota Pekanbaru, Ayat Cahyadi, saat membuka Festival Lampu Colok 2015 mengatakan, kegiatan ini adalah salah satu perwujudan memaksimalkan potensi Pekanbaru.

‘’Visi Pekanbaru 2021 sebagaimana diamanahkan dalam Perda dan RPJMP yaitu menjadikan Pekanbaru pusat perdagangan dan jasa, pendidikan dan budaya melayu. Kita sudah punya potensi ini, tinggal terus dikembangkan,’’ katanya.

Dia menguraikan, Festival Lampu Colok adalah semangat di 27 Ramadhan. ‘’Orang tua kita dahulu mengikuti petunjuk nabi. Di 10 malam terakhir (Ramadhan) ada satu malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Cari di malam ganjil, beberapa hadist menyebutkan di malam 27. Di Pekanbaru kita kita sudah mengadakan sejak tahun 1995,’’ sebutnya.

Wawako berjanji, untuk melestarikan festival ini Pemerintah Kota Pekanbaru akan membuat yang lebih besar lagi.

‘’Festival ini selain melestarikan budaya, juga sebagai daya tarik wisata. Untuk budaya festival ini ke depan warga kita minta untuk ikut. Buatlah di depan rumah, perkenalkan pada anak-anak kita,’’ katanya.(rio)



Tags:  -