Ketika Jurnalis Berbagi

By Trip Riau  |  30 Agustus 2015 22:56:49 WIB  |  News

20150830230952_Jurnalis berbagi.jpg

Pekanbaru, tripriau.com- Peristiwa gelombang tsunami yang meluluh-lantakkan Aceh pada akhir 2004, menjadi awal dari ketertarikan Afni Zulkifli terhadap dunia jurnalistik.

Berbagai pemberitaan di televisi yang berulang kali menayangkan peristiwa dahsyat kala itu, hingga momen kebersamaannya dengan jurnalis dari berbagai penjuru dunia membuatnya memiliki sebuah pandangan tentang profesi ini. Baginya, jurnalis itu adalah orang baik.

Di depan 20an peserta Kelas Akademi Berbagi (Akber), Afni berbagi pengalamannya selama 10 tahun menekuni dunia jurnalistik. Mulai dari awal masuk Pekanbaru Pos, hijrah ke Jakarta, hingga sekarang menjadi Pemimpin Redaksi di sebuah koran lokal yakni Pekanbaru Pos. 

Acara ini dilaksanakan di Chevron Corner, Pustaka Wilayah Soeman HS, Pekanbaru, Ahad (30/8) dari pukul 10.00 hingga 12.00 siang. 

Afni menceritakan, saat tsunami menerjang Aceh dan menewaskan ratusan ribu jiwa, dia masih berstatus mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Malang. Awalnya, dia biasa saja melihat tayangan televisi tentang tsunami. Tapi, makin hari kegetiran dari musibah tersebut makin tergambar jelas dari tayangan televisi.

''Makin hari, tayangan televisi makin menggambarkan betapa dahsyatnya kondisi di sana akibat tsunami. Itu bikin miris," ceritanya.

Dari situlah jiwanya terpanggil. Dia kemudian berangkat ke Aceh sebagai relawan. Dalam rombongan yang berjumlah 12 orang, dia satu-satunya perempuan.

Saat di lokasi bencana banyak negara asing membutuhkan penerjemah. Mereka juga membutuhkan pemandu untuk masuk ke kampung-kampung dan lokasi-lokasi terpencil yang membutuhkan bantuan. Disitu dia ikut bergabung dengan para jurnalis asing dan menyaksikan bagaimana mereka bekerja. 

Suatu ketika, helikopter yang mereka tumpangi mesti terbang dengan satu mesin. Heli pun terpaksa mendarat darurat.

''Waktu itu (2004) GAM (Gerakan Aceh Merdeka) masih ada di sana. Tentara yang membawa kami pun mengingatkan agar jangan keluar dari radius yang telah ditetapkan,'' kata perempuan kelahiran Siak ini.

Dari situlah dia melihat bagaimana para jurnalis yang datang dari berbagai penjuru dunia ini rela berkorban nyawa demi menjalankan tugasnya sebagai wartawan.

''Bayangkan, mereka (jurnalis) yang bukan siapa-siapa, tidak punya saudara, bahkan ada yang harus meninggalkan anaknya yang baru lahir, rela bertarung nyawa di lokasi peliputan. Dari situlah saya menilai, bahwa jurnalis itu adalah orang baik. Saya taunya mereka baik, aja," ceritanya penuh semangat.

Jurnalis yang pernah bertugas di Istana Presiden pada masa SBY ini juga berbagi banyak hal tentang dunia jurnalistik. Mulai dari sejarah pers, aktivitas dunia pers, tantangan pers dan media massa.(rio)



Tags:  -