Ahmi Septari

Ingin Go Nasional

By Trip Riau  |  18 September 2015 22:10:48 WIB  |  -

20150918221818_DSC_3658.jpg

Pekanbaru, tripriau.com - Di sebuah lounge hotel berbintang di Jalan Sudirman, Pekanbaru, tripriau.com berbincang dengan seorang pebisnis muda, Ahmi Septari. Ahmi adalah salah satu kisah sukses pebisnis muda di Riau. Bayangkan, dalam usia relatif muda, 36 tahun, dia sudah memiliki 16 perusahaan yang bergerak di multi bidang.

Sore itu, pria yang kini mengemban amanah sebagai Ketua Umum Badan Pengurus Daerah (BPD) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Riau ini, banyak bercerita tentang kisah hidupnya juga cerita suksesnya membangun bisnis. Dia juga mengapresiasi banyaknya anak muda yang kini memilih terjun menjadi entrepreneur.

Ahmi, yang menghabiskan setengah dari masa pendidikannya di negeri Kanguru Australia, mengatakan tidak ada titik akhir dalam perjalanan karirnya. Namun, sebagai seorang pebisnis ia memimpikan bisa terjun ke kancah Nasional.

‘’Saya lahir di Jakarta, 9 september 1979. Saya kemudian pindah ke Riau ikut orang tua yang pindah ke Riau jadi bupati Kampar. Saya kelas 2 SD sampai kelas 3 SMP itu di Bangkinang, Kampar,’’ katanya memulai cerita.

Setelah menamatkan sekolah menengah pertama, sang Ayah memintanya untuk bersekolah di luar negeri, tepatnya Australia. Lebih kurang 11 tahun masa pendidikannya mulai dari SMA, sarjana hingga magister dihabiskannya di kawasan Australia Barat.

Dia mengambil jurusan marketing saat menempuh jenjang Diploma 1, dilanjutkan mengambil Marketing Manajemen untuk Strata 1. Sementara jenjang magister dilaluinya dengan mengambil Finance Konsultan. ‘’Sebelum kembali ke Riau, setelah menyelesaikan pendidikan S2 saya sempat kerja 1 tahun di Australia. Bekerja di salah satu perusahaan asset di sana,’’ kata penggemar travelling ini.

 

Bersentuhan dengan Bisnis

Tahun 2004, ketika dia ingin kembali bekerja di luar negeri, sang Ayah memintanya kembali ke tanah air untuk membenahi dan membesarkan usaha keluarga. Dia diminta untuk mengembangkan perusahaan keluarga yang relatif masih kecil. Kendati kenyang pengalaman pendidikan di luar negeri, tapi memegang sebuah bisnis adalah pengalaman baru bagi bapak tiga anak ini. Berbagai kesulitan mesti dia hadapi kala itu, yang memang masih punya beberapa hektar kebun sawit dan karet serta usaha SPBU.

Masalah mendasar yang dilihatnya adalah kekurangan pada sisi manajemen. Terutama manajemen keuangan dan manajemen sumber daya manusia. Manajemen keuangan menjadi prioritas perbaikannya. Alasannya, tanpa manajemen keuangan yang kuat, manajemen sumber daya manusia tidak akan berarti.

‘’Saya kembalikan bagaimana supaya perusahaan bisa untung, Alhamdulillah dalam kurun waktu 4 tahun saya bisa menyelesaikan sedemikian banyak masalah di manajemen keuangan dan utang kita selesaikan dengan cepat. Sehingga saya bisa mengembangkan perusahaan dengan cepat pula,’’ terangnya.

Saat ini, pria berpembawaan tenang ini membawahi 16 perusahaan yang bergelut diberbagai bidang seperti, perkebunan, Pabrik Kelapa Sawit (PKS) , sekolah/pendidikan, hotel, properti, konstruksi, jasa security dan pertambangan.

 

 

Peranan Orang Tua dan Pengalaman Luar Negeri

Semangat berbisnis Ahmi sebenarnya diwarisi dari sang Ayah, yang memang sempat berbisnis di samping menjalani profesi sebagai pegawai negeri. Meski tidak serius menjalankan usaha, Ahmi menilai Ayahnya memiliki semangat entrepeneur yang kuat.

‘’Nah, itu terus diceritakannya pada saya, bahwa menjadi entrepreneur itu luar biasa bagusnya, terutama dari aspek masa depan. Itu yang selalu menjadi inspirasi saya. Apa yang ditanamkan Ayah saya bahwa entrepeneur itu sangat banyak kelebihannya dibandingkan usaha lainnya, saya merasa memang iya. Karena dia bilang, lebih banyak kita bisa bermanfaat bagi orang lain dengan menjadi entrepreneur dibanding profesi yang lain,’’ sebut Ahmi.

Sang Ayah, yang merupakan mantan Gubernur Riau H Saleh Djasit, memang suka mencoba apapun untuk diusahakan. Mulai dari bertanam, berkebun dan sebagainya. Tapi, tidak mampu maksimal karena bukan itu profesinya. Namun, sang Ayah terus mendorong dan meyakinkan bahwa profesi yang prospektif adalah wirausaha.

Ahmi Septara (36), diusianya yang relatif muda telah menjadi sosok pebisnis yang cukup sukses di Riau. Dengan membawahi 16 perusahaan yang bergelut diberbagai sektor. Foto: Wan Akhwan A

‘’Cobalah perbaiki yang sudah ada sedikit ini untuk dikembangkan. Begitu saya diberikan motivasi. Walaupun dia sendiri lebih banyak gagalnya. Namun, dari kegagalan itu dia menceritakan semua untuk dijadikan sebagai pelajaran,’’ katanya bercerita tentang sang Ayah.

Bersekolah dan kuliah di luar negeri memberikan banyak manfaat bagi Ahmi. Bukan hanya soal ilmu, tapi juga tentang arti kehidupan. Terutama soal kemandirian. Perbedaan bersekolah dekat keluarga dengan merantau itu disebutnya sangat jauh berbeda. Dengan merantau seseorang dipaksa untuk mandiri.

‘’Hati kita ditempa untuk lebih kuat. Hati kita ditempa untuk lebih matang. Kematangan itu ada prosesnya, dibentuk dengan pengalaman-pengalaman dan kejadian yang terjadi dalam kehidupan. Nah, dengan saya merantau, proses ini saya alami. Ini yang membuat saya cepat matang dan dewasa dalam menyikapi apa yang terjadi dalam hidup saya. Karena selama di Australia saya tidak ada keluarga. Benar-benar sendiri. Tinggal di asrama kemudian sama teman dan akhirnya tinggal sendiri,’’ terangnya.

Ahmi mengurai perbedaan pergaulan di luar negeri dengan di Indonesia. Dia mengatakan, pertemanan di sana tidak menilai siapa dan latar belakang seseorang. Tapi bagaimana orang itu, dan sejauh mana dia bisa memberikan kebaikan kepada orang lain.

‘’Jadi kalau di sini kebanyakan yang saya lihat, kan, apalagi di daerah kita, orang masih melihat siapa dan anak siapa, keluarga siapa, background-nya apa. Nah, di sana tidak mengenal itu. Jadi benar-benar orang itu dinilai dari usaha mereka. Apa mereka sebenarnya, siapa mereka sebenarnya. Itu yang buat saya belajar arti pertemanan. Tidak ada embel-embel apa-apa,’’ ungkap penyuka masakan asam pedas ini.

Penulis: Rio Sunera

Editor: Rio Sunera



Tags:  -