Melihat Kemeriahan Ritual Bakar Tongkang Bagansiapiapi

By Trip Riau  |  21 Oktober 2015 09:46:00 WIB  |  Wisata Riau

Selain masyarakat Tionghoa setempat, ribuan warga Tionghoa yang berada di berbagai daerah di Indonesia bahkan luar negeri, biasanya punya tradisi untuk pulang kampung. Mereka tak ingin melewatkan kesempatan langka menyaksikan ritual Bakar Tongkang. Foto: tripriau.com

Pekanbaru, tripriau.com - Setiap ritual Bakar Tongkang digelar, Kota Bagansiapiapi akan dipenuhi ribuan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Sebagian besarnya didominasi masyarakat Tionghoa. Berbagai ritual mewarnai salah satu event budaya yang digelar setahun sekali ini.


Menjelang event Bakar Tongkang Kota Bagan Siapiapi, Rokan Hilir berubah meriah. Berbagai ornamen khas Tionghoa menghiasi sepanjang jalan, terutama di Jalan Perniagaan yang didiami banyak warga Tionghoa.

Selain masyarakat Tionghoa setempat, ribuan warga Tionghoa yang berada di berbagai daerah di Indonesia bahkan luar negeri, biasanya punya tradisi untuk pulang kampung. Mereka tak ingin melewatkan kesempatan langka menyaksikan ritual Bakar Tongkang.

Bakar Tongkang telah masuk dalam kalender pariwisata Nasional. Bagi etnis Tionghoa Bagansiapiapi, Bakar Tongkang atau yang dikenal dengan Sio Ong Cuon meruapakan puncak kemeriahan yang dilakukan secara besar-besaran.

Bakar Tongkang biasanya dimulai dengan prosesi sembahyang yang digelar menjelang ritual puncak di Kelenteng In Hok Kiong. Foto: tripriau.com
Sejarah

Ritual Bakar Tongkang merupakan kisah pelayaran masyarakat keturunan Tiong Hoa yang melarikan diri dari ancaman si penguasa Siam.
Di dalam kapal yang dipimpin oleh Ang Mie Kui terdapat patung Dewa Kie Ong Ya dan lima Dewa lainnya. Panglima beliau disebut dikenal sebagai Kapitan.


Bakar Tongkang biasanya dimulai dengan prosesi sembahyang yang digelar menjelang ritual puncak. Kelenteng In Hok Kiong yang berada di kawasan Pekong Besar, Kota Bagan Siapiapi akan dipadati ribuan warga Tionghoa. Mereka sembahyang dan berdoa dengan khusyuk.

Prosesi persembahyangan ini dilakukan dalam dua gelombang. Pertama, dilakukan sebelum tongkang diarak ke kelenteng In Hok Kiong tanggal 15, bulan 5 imlek. Kedua, dilakukan setelah tongkang diresmikan dan disemayamkan di kelenteng In Hok kiong tanggal 16 bulan 5 imlek.

Persembahyangan pertama dilakukan saat masuk waktu pukul 00.00 WIB tanggal 15 bulan imlek. Para peziarah mulai melakukan sembahyang, hio-hio (dupa) raksasa mulai dibakar, kemudian sesembahan seperti be, buah-buahan, daging babi, ikan atau ayam mulai disusun di atas altar.

Ritual ini berlangsung hingga siang harinya sampai saat menjemput tongkang yang masih berada di tempat pembuatannya.

Pukul 16.00 WIB, kapal diarak dari rumah pembuatan menuju kelenteng In Hok Kiong melewati jalanan Kota Bagan Siapiapi. Sebelum diarak, terlebih dahulu diadakan sedikit upacara atau ritual yang dilakukan orang yang dituakan. Atraksi barongsai dan berbagai tabuhan kemudian mengiringi prosesi mengarak Tongkang (kapal) ini.

Setelah diarak, Tongkang disemayamkan di depan kelenteng In Hok Kiong, maka aktivitas persembahyangan di kelenteng In Hok Kiong ditutup untuk sementara waktu, agar memberikan kesempatan bagi Dewa Kie Ong Ya menjamu para Dewa-Dewa lainnya untuk menikmati shingle yang telah disiapkan para peziarah.

Prosesi ini berlangsung sampai pukul 00.00 WIB.Saat masuk tanggal 16, maka Tongkang diresmikan. Upacara peresmian dilakukan oleh seorang ahli gaib/suhu yang biasa dipanggil Tang Ki. Setelah itu, kelenteng kembali dibuka dan persembahyangan dilakukan sampai acara selesai, yakni saat tongkang dibakar di tempat pembakaran di Jalan Perniagaan, Bagansiapiapi.Dalam hitungan menit kertas sesembahan berubah menjadi kobaran api besar dan menghanguskan seluruh bagian kapal hingga menjadi abu. Foto: tripriau.com

Kemeriahan Bakar Tongkang

Pada malam harinya, untuk memeriahkan suasana digelar berbagai hiburan di kawasan Pekong Besar. Hiburan ini diisi oleh artis-artis dari Taiwan yang menyanyikan lagu berbahasa Hokkian. Pada kesempatan ini juga ditampilkan berbagai tarian Melayu. Ribuan masyarakat Tionghoa tumpah-ruah menyaksikan hiburan yang dilaksanakan tak jauh dari kelenteng In Hok Kiong ini.

Selain menikmati hiburan, sebagian warga Tionghoa pada malam itu juga memilih melakukan aktivitas sembahyang di kelenteng In Hok Kian. Pada malam hari ini altar yang berada di depan kelenteng tampak dipenuhi dengan amlop-amplop/kertas angpao yang disusun menyerupai bunga, nenas dan kapal tongkang.

Persiapan menjelang pembakaran Tongkang, segala utusan dari kelenteng-kelenteng di Bagansiapiapi berkumpul untuk bersiap-siap mengarak tongkang. Masing-masing utusan memakai seragam sendiri sebagai penanda dari rombongan.

Selain itu, setiap rombongan membawa Tang Ki masing-masing sekaligus dengan pelengkapan atraksi debus. Setelah seluruh pengarak Tongkang berkumpul di halaman kelenteng In Hok Kiong, maka iring-iringan segera menuju arena pembakaran tongkang di Jalan Perniagaan, Bagansiapiapi. Puluhan ribu peziarah mengikuti arak-arakan ini.

Arak-arakan dimulai jam 2 siang. Tongkang berukuran besar ini diangkat oleh ratusan orang serta diiringi ribuan orang lainnya. Mereka mengenakan berbagai pakaian khas, tak lupa dengan aneka atraksinya masing-masing.

Meski Kota Bagansiapiapi sangat panas saat siang hari, namun tak menyurutkan warga Tionghoa, masyarakat dan ribuan turis domestik dan mancanegara untuk menyaksikan kemeriahanevent ini.

Tongkang kemudian dilepas dengan melintasi jalanan di Kota Bagan Siapiapi. Suara mercon kemudian terdengar bersahut-sahutan. Disepanjang jalan menuju arena pembakaran, warga Tionghoa yang bermukim di ruas jalan ini ikut menyediakan sesembahan dan memasang dupa di depan rumahnya masing-masing.

Orang tua, laki-laki dan perempuan serta anak-anak ikut memberikan penghormatan saat Tongkang melintas.

Sekitar pukul 14.30 WIB, Tongkang sampai di arena pembakaran. Di arena pembakaran ini terlebih dahulu ditentukan arah posisi haluan Tongkang sesuai petunjuk Dewa Kie Ong Ya yang menurut filosofi mereka adalah petunjuk arah rezeki atau kebaikan untuk usaha dan keselamatan masyarakat Tionghoa Bagansiapiapi.

Bila tiang jatuh ke arah laut, maka masyarakat Tionghoa percaya bahwa rejeki dan keselamatan tahun ini akan berada di laut. Namun, bila tiang jatuh ke arah darat, maka rejeki dan keselamatan akan berada di darat.

Setelah haluan Tongkang ditentukan, maka Tongkang diletakkan dan kertas sesembahan ditimbunkan dekat lambung kapal yang sedang dibakar. Ribuan orang memenuhi arena pembakaran Tongkang. Masing-masing tampak memegang dupa.

Dalam hitungan menit kertas sesembahan berubah menjadi kobaran api besar dan menghanguskan seluruh bagian kapal hingga menjadi abu.

 

Penulis: Rio Sunera

 



Tags:  -