Kebudayaan Jadi Magnet Gaet Wisatawan

By Trip Riau  |  08 November 2015 10:31:42 WIB  |  News

Wisata Budaya

Tripriau.com- Keanekaragaman kebudayaan Indonesia menjadi daya tarik yang sangat kuat dalam menggaet wisatawan mancanegara ke Tanah Air.

"Ini karena kekayaan budaya kita menjadi daya tarik besar bagi wisatawan luar negeri. Sebuah survei menyebutkan bahwa 60 persen orang asing datang ke Indonesia karena kebudayaan kita yang sangat kaya," kata Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kacung Marijan belum lama ini seperti dikutip dari kompas.com.

Seperti diketahui, lanjut Guru besar Fisip Universitas Airlangga Surabaya, saat ini pemerintah menargetkan kunjungan wisatawan asing hingga hampir tiga kali lipat.

Untuk itu, lanjutnya, dari sisi kebudayaan pihaknya terus berbenah. Seperti, melakukan pembenahan infrastruktur yang sudah ada. Contohnya, galeri dan museum yang diharapkan menjadi tempat yang nyaman bagi pengunjung, termasuk sambil bersantai minum kopi di dalamnya.

Selanjutnya, memberikan bantuan kepada komunitas-komunitas maupun masyarakat adat, termasuk pembangunan rumah adat yang dikerjakan secara gotong royong. Saat ini sudah ada ratusan komunitas dan masyarakat adat yang mendapatkan bantuan untuk pelestarian adat itu.

Namun, Kacung Marijan bercerita, bantuan tersebut sempat menghadapi kendala karena Kementerian Keuangan menghendaki bantuan untuk pembangunan rumah adat dilakukan dengan sistem lelang terlebih dahulu.

"Tapi kita menghadapi kendala siapa kontraktor spesialis rumah adat di Indonesia? Kan tidak ada. Selain itu ada persoalan yang sangat teknis yang sulit dilakukan oleh kontraktor, misalnya sebelum pembangunan rumah harus dilakukan upacara adat atau ritual tertentu," katanya.

Selain itu jika disalurkan dalam bentuk bantuan sosial, bukan lelang, ada aspek gotong royong di dalamnya. Dengan demikian maka pembangunan rumah adat juga bisa menghemat karena masyarakat yang terlibat tidak perlu dibayar.

"Sementara kalau ditangani kontraktor kan harus berpikir keuntungan. Padahal kadang bantuan sosial dari kami itu tidak cukup. Misalnya bantuan kami Rp 400 (juta), ternyata habisnya di lapangan sampai Rp 600 (juta)," tukasnya.

Selain itu, masih kata Kacung, pihaknya juga memberikan bantuan kepada komunitas pelaku kebudayaan yang akan tampil di luar negeri yang mengalami pendanaan.

Namun dirinya mengingatkan agar menyampaikannya jauh-jauh hari sebelum tanggal pemberangkatan. Sehingga Ditjen Kebudayaan punya waktu untuk memprosesnya.

"Minimal satu bulan sebelumnya lah. Karena uangnya tidak ada di kami. Kami harus proses dulu. Kalau pemberitahuannya satu minggu sebelum berangkat, ya sulit," ujarnya.



Tags:  -