Minyak Bumi Masa Lalu, Riau Kini Kembangkan Pariwisata

By Trip Riau  |  19 November 2015 14:30:04 WIB  |  News

Pulau Besar Danau Zamrud. Foto: Abdul Ronny / tripriau.com

Pekanbaru, tripriau.com – Dulu, Riau adalah negeri yang kaya akan minyak bumi. Disebut sebagai penghasil minyak terbesar di Indonesia. Kini, kandungan minyak di perut bumi Riau perlahan mulai menipis. Pemprov Riau pun mulai melirik sektor pariwisata sebagai sumber pemasukan strategis.

Pemprov Riau melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mulai bergerak cepat mewujudkan impian ini. Berbagai strategi terus dikembangkan.

Untuk strategi pemasaran, Disparekraf sudah mempunyai strategi sendiri, yakni yang disebut dengan POS Media. POS di sini meliputi, Paid Media, Owned Media, dan Social Media.

Paid Media merupakan aktivitas promosi dengan memanfaatkan media-media yang sudah ada. Seperti televisi, surat kabar, majalah dan media online atau portal berita.

Sementara Owned Media merupakan media yang dimiliki oleh Disparekraf sendiri, seperti website. Selanjtnya adalah Social Media, dari mulai faceebook, instagram, path dansebagainya.

Disparekraf juga meluncurkan Cerita Baru Center (CBC), yang dipusatkan di gedung Disparekraf Riau, Jalan Sudirman, Rabu (18/11) kemarin. CBC ini diresmikan langsung oleh Plt Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rahman.

CBC merupakan pusat informasi terpadu untuk menjual pariwisata Riau. Semua informasi tentang pariwisata Riau tersedia di sini. Para pelaku industri pariwisata diharapkan dapat menerima manfaat besar dari kehadiran wadah ini.

Kadisparekraf Fahmizal Usman berharap, CBC ini bisa dimanfaatkan oleh seluruh kabupaten/kota untuk terus mempromosikan potensi wisata di daerahnya masing-masing.

‘’Sehingga, bisa dikenal oleh seluruh masyarakat dunia dan akan semakin banyak wisatawan lokal dan maupun internasional yang akan menyambangi Riau,’’ katanya.

Sementara Plt Gubernur mengatakan, selain kerjasama dari seluruh SKPD terkait potensi pariwisata, sarana transportasi menuju Provinsi Riau dan lokasi wisata juga akan dikembangkan lebih baik lagi. Event Bakar Tongkang Kota Bagan Siapiapi, Rokan Hilir. Foto: tripriau.com

Besarnya Potensi Wisata Riau

Riau memang tidak dianugerahi panorama alam yang indah nan menggoda. Riau juga tidak memiliki deretan gunung-gunung yang cantik dan menjulang. Bumi Lancang Kuning hanya memiliki beberapa pantai pasir putih di kawasan pesisir.

Tapi, hal ini tak membuat pariwisata Riau nihil nilai jual. Riau memiliki modal lain yang tak kalah berharga dalam sektor pariwisata. Sebuah potensi besar yang masih tersembunyi, yakni apa yang disebut dengan Pariwisata Minat Khusus (Special Interest Tourisme).

Pariwisata minat khusus ini merupakan kegiatan wisata yang bertujuan untuk mendapatkan edukasi dan pengalaman tentang suatu hal di destinasi wisata yang didatangi.

Pariwisata minat khusus ini biasanya meliputi aspek budaya, tarian/musik/seni tradisional, kerajinan, arsitektur, pola tradisi masyarakat, aktivitas ekonomi yang spesifik, arkeologi dan sejarah.

Termasuk juga aspek alam, berupa kekayaan flora dan fauna, gejala geologi, keeksotikan taman nasional, hutan, sungai, air terjun, pantai, laut dan perilaku ekosistem tertentu.

Nah, yang menarik dari Riau adalah Ekowisata-nya. Ekowisata adalah kegiatan untuk kelestarian lingkungan, namun tidak merusak susunan dan karakteristik dari lingkungan alami tersebut. Ekowisata tengah jadi topik hangat dunia pariwisata di nusantara.Pemukiman Suku Duano dan Pulau Arang Bakau yang diambil dari ketinggian sekitar 40 meter. Foto: Abdul Ronny / tripriau.com

Banyak sekali destinasi ekowisata di Riau yang selama ini luput dari perhatian. Beberapa diantaranya bahkan berkelas dunia. Sebut saja misalnya Ombak Bono yang berada di Teluk Meranti, Pelalawan. Ombak sungai yang cuma ada 2 di dunia ini sering didatangi surfer-surfer profesional dari berbagai negara untuk berselancar.

Di Kabupaten Siak kita bisa melongok keindahan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil - Bukit Batu (GSK-BB). Cagar Biosfer GSK-BB merupakan satu-satunya konsep kawasan konservasi dan budidaya lingkungan yang diakui secara Internasional.

Cagar Biosfer ini dinobatkan oleh badan PBB UNESCO sebagai salah satu warisan dunia. UNESCO masih mengawasi area konservasi ini sebagai Cagar Biosfer. Jika tidak ada memberikan manfaat untuk kepentingan pendidikan,ekonomi dan kepentingan pelestarian berkelanjutan, maka brand Cagar Biosfer terhadap kawasan ini bisa saja dicabut.

Ada juga Sungai Tohor di Kabupaten Kepulauan Meranti yang bisa dijadikan tujuan ekowisata. Sungai Tohor ini juga pernah dikunjungi oleh Presiden Jokowi beberapa waktu lalu. Di tempat ini kita bisa melihat beranekaragam jenis burung yang ada di Riau ataupun menelusuri anak sungai dan danau yang berada di sekitar lokasi. Di dalamnya kita juga bisa menemukan ikan yang menjadi maskot Provinsi Riau yaitu ikan selais.

Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) yang berada di Kabupaten Pelalawan juga tak kalah menarik dan sangat potensial dikembangkan. Kawasan yang pernah dikunjungi bintang Hollywood Harrison Ford ini juga menawarkan eksotisme dan kekayaan sebuah bentang hutan.

Di tempat ini kita bisa berwisata menyusuri hutan, berperahu di sungai, berpatroli bersama tim gajah Flying Squad dan mengikuti tradisi panen madu Sialang secara lestari. Tawaran lainnya yakni melihat aktivitas gajah sehari-hari, bermain dan berfoto dengan hewan berbelalai ini.

Masih ada Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) yang biasa dijuluki sebagai paru-paru dunia yang berada di Kabupaten Inhu, Bukit Rimbang Bukit Baling di Kabupaten Kampar, penangkaran atau Taman Kupu-Kupu di Rokan Hulu, Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas dan Danau Zamrud di Siak.

Penulis: Rio Sunera

 

 



Tags:  -