Melihat Pembuat Miniatur Perahu Lancang Kuning

By Trip Riau  |  26 November 2015 13:22:28 WIB  |  City Guide

Pak Afifuddin sedang mengerjakan minatur kapal lancang kuning. Foto: Rio Sunera / tripriau.com

Pekanbaru, tripriau.com – Afifuddin menuruni tangga rumah panggungnya dan menyapa ramah di halaman tanah yang sempit. Kami lalu naik ke rumah kayunya dan melihat-lihat beberapa karya berupa miniatur yang terpajang di salah satu pojok rumah.

Inilah Afifuddin A Lubis (50), sang pengrajin miniatur Perahu Lancang Kuning. Di tangannya, limbah kayu disulap menjadi karya yang biasa dibeli para pelancong sebagai cinderamata.

Rumahnya yang berlokasi di kampung Meranti Pandak, Kecamatan Rumbai Pesisir, Kota Pekanbaru, dia fungsikan sebagai workshop.

Dia tak hanya membuat miniatur Perahu Lancang Kuning, tapi juga miniatur jalur, rumah adat Riau, pompa angguk, alat-alat kesenian tradisional dan sebagainya.

Proses produksi masih dilakukannya secara manual. Tiap detail pekerjaan masih menggunakan peralatan sederhana. Mulai dari memotong hingga mengecat. Belum ada sentuhan mekanisasi dalam pekerjaannya.

Meski begitu, produk yang dihasilkannya tetap menarik. Sudah lebih 500 karya dihasilkan guru mengaji ini. Salah satu petinggi perusahaan minyak di Pekanbaru bahkan sempat membawa produknya hingga ke Jepang.Dia tak hanya membuat miniatur Perahu Lancang Kuning, tapi juga miniatur jalur, rumah adat Riau, pompa angguk serta alat-alat kesenian tradisional. Foto: Muhammad Ridho / tripriau.com

Untuk membuat berbagai karya miniatur ini, Afifuddin memanfaatkan limbah-limbah kayu sebagai material.

‘’Saya minta tukang-tukang kayu mengumpulkan limbah-limbah kayu yang tidak terpakai. Saya kasih mereka uang,’’ cerita pria ini.

Untuk miniatur seperti rumah adat yang memiliki detail lumayan rumit, dia membutuhkan waktu sehari penuh. Di luar itu, dia hanya butuh waktu setengah hari untuk menyelesaikan produknya.

Kepada tripriau.com, dia menceritakan awal mula terlibat dalam usaha kerajinan ini. Saat pulang ke kampung halamannya di Langkat, Sumatera Utara, dia kecewa karena rumah masa kecilnya sudah habis dibongkar tanpa sepengetahuannya.

Baginya, tempat dia dilahirkan yang berbentuk rumah panggung ini menyimpan banyak kenangan.

‘’Saya kecewa, karena rumah tempat saya lahir dan kenangan yang indah dibongkar,’’ tuturnya.Miniatur Rumah Adat Salah Satu Karya Dari Pak Afifuddin. Foto: Muhammad Ridho / tripriau.com

Saat pulang ke Pekanbaru, dia terus membayangkan rumah itu. Dia bayangkan bagaimana bentuknya. Kemudian dia buat miniatur rumah panggungnya dengan menggunakan bahan kayu. Dan jadilah sebuah miniatur rumah masa kecilnya. Ketika itu karya yang dibuatnya cukup sederhana.

‘’Setelah itu ada  tamu datang. Dia beli karya saya. Sayang bilang, itu gak untuk dijual. Dia maksa, dan janji mau bantu memasarkan. Besoknya dia datang lagi buat beli. Dari situlah sekarang saya fokus di sini,’’ katanya bercerita.  

Meski sudah empat tahun bergulat dengan profesi ini, Afifuddin masih menemui banyak kendala untuk mengembangkan usahanya.

Selain proses produksi, pola pemasaran juga belum begitu baik. Dia belum memiliki gerai khusus untuk memajang aneka produknya.

Selama ini dia hanya menitip produknya ke tempat-tempat penjualan oleh-oleh khas Riau di Pekanbaru. Juga di bandara. Dia menerapkan sistem konsinyasi kepada pemilik toko.

Sesekali, dia juga mendapat permintaan dari orang-orang yang membawa pelancong ke Pekanbaru.

‘’Waktu itu ada juga kawan yang bawa wisatawan dari Siak datang kemari, membeli untuk cinderamata,’’ katanya.

Penulis: Rio Sunera

 



Tags:  -