Advertorial

Wellie: “The Product is the Package”

By Trip Riau  |  15 Desember 2015 22:18:03 WIB  |  News

Dra Wellie Annalia Apt MM memberikan materi pada kegiatan Pembinaan Pelaku Ekonomi Kreatif Berbasis MDI. Foto: Muhammad Ridho / tripriau.com

Pekanbaru, tripriau.com - Hari kedua kegiatan Pembinaan Pelaku Ekonomi Kreatif Berbasis Media, Desain dan Iptek (MDI) yang digelar Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Riau, di Hotel Drego Pekanbaru, membahas mengenai pelabelan kemasan yang baik dan desain yang menarik pada kemasan.

Salah satu narasumber pada pembinaan kali ini adalah Dra Wellie Annalia Apt MM dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Riau. Dalam materinya, Wellie menjelaskan secara mendalam mengenai teknis pelabelan serta hal apa saja yang harus diperhatikan dalam label kemasan suatu produk.

“Nilai jual produk akan meningkat dengan kemasan yang baik,” tutur Wellie dalam kelasnya yang membentuk formasi melingkar agar suasana kelas menjadi lebih santai dan nyaman.

Menurutnya, kemasan yang ideal harus melindungi bahan dari kontaminasi, tidak beracun, tidak bereaksi, serta tidak merubah warna dan cita rasa.

Selain itu juga harus memiliki permeabilitas gas dan uap air yang rendah, melindungi produk dari cahaya, tahan sobek, pecah, mudah dibuka dan ditutup kembali.Para peserta kegiatan Pembinaan Pelaku Ekonomi Kreatif Berbasis MDI sedang menerima arahan dari narasumber. Foto: Muhammad Ridho / tripriau.com

Wellie menjelaskan, kemasan ideal juga harus sesuai dengan karakteristik produk, tidak menimbulkan masalah lingkungan, efisien dalam pemakaian dan biaya, serta dapat diberi label, dicetak atau ditempel. Kemasan juga harus memenuhi kebutuhan khusus, membawa pesan sosial dan psikologis serta memberi nilai tambah pada produk.

“Kemasan adalah satu kesatuan dalam satu produk dan bukan sampah. Pengembangan produk dan kemasan harus dilakukan bersama-sama,” terangnya, Selasa (15/12).

Kemasan harus bersifat ‘jujur’, artinya apa yang tertera pada kemasan harus sesuai dengan isi produk. Banyak kasus penarikan produk karena tidak jujur dan kehilangan pasar serta kehilangan kepercayaan.

Dia menambahkan, label pada kemasan pangan khususnya harus jelas dan informatif sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 69 tahun 1999 tentang label dan iklan pangan.

Pelabelan berfungsi untuk mengidentifikasi produk, membantu penjualan produk dan pemenuhan peraturan perundang-undangan.Peserta Pembinaan Pelaku Ekonomi Kreatif sedang mendengarkan pemaparan materi dari narasumber. Foto: Muhammad Ridho / tripriau.com

Label pada pangan yaitu keterangan mengenai pangan yang bentuknya gambar, tulisan dan kombinasi antara gambar dan tulisan, bagian dalam dan luar kemasan.

Dalam label kemasan harus mencakup semua informasi seperti kode produksi, tanggal kadaluarsa,  kode keamanan dari BPOM, label kehalalan, komposisi, kota produksi, berat bersih hingga petunjuk cara penyimpanan produk.

“Kode produksi digunakan sebagai kendali pelaku usaha karena apabila terjadi masalah di pasar nantinya dan ada yang mengklaim produk kita, itu akan dapat diatasi karena kita memiliki kode produksi. Kode produksi ini dibuat sendiri oleh pemilik usaha,” jelas Wellie kepada para peserta kegiatan.

Selain itu, lanjut Wellie, tanggal kadaluarsa pada label kemasan juga harus mudah dibaca dan tidak mudah dihapus.

“Untuk makanan tradisional dapat menggunakan kemasan sederhana dan murah, bersih dan praktis serta cocok untuk oleh-oleh. Desain kemasan sederhana tapi berkelas,” tukasnya.

Setelah diberi pembekalan, Wellie memberi post tes dengan beberapa pertanyaan kepada peserta terkait materi yang telah disampaikan.

Penulis: Suci Aulya

Editor: Rio Sunera



Tags:  -