Riau Food Festival, Ajang Menggali Potensi Kuliner Riau

By Trip Riau  |  22 Desember 2015 10:38:00 WIB  |  News

Riau Food Festival

Pekanbaru, tripriau.com- Pembukaan Riau Food Festival, kerjasama antara Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi Riau bersama Dewan Pengurus Daerah (DPD) Ika Boga Riau dilaksanakan Senin (21/12) malam di Hotel Ratu Mayang Garden Pekanbaru.

Sementara festival akan dilangsungkan Selasa hingga Rabu (21-22/12) di Bandar Seni Raja Ali Haji (Serai) Purna MTQ Pekanbaru.

Diawali dengan tari persembahan, pembukaan Food Festival tersebut akan diikuti oleh peserta dari tujuh Kabupaten/Kota di Provinsi Riau yakni Bengkalis, Dumai, Rokan Hilir, Meranti, Kampar, Pelalawan dan Pekanbaru. Perlombaan akan dimulai pukul 10 pagi hingga 12 siang.

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi Riau yang diwakili Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Disparekraf, Tengku Zul Effendi.

"Kegiatan ini bertujuan untuk memberi motivasi kepada penggiat pelaku kuliner tradisional hingga mampu meningkatkan sektor kepariwisataan dibidang kuliner,” ungkap Zul- sapaan akrab Tengku Zul Effendi dalam sambutannya.

Zul mengatakan, banyak lagi kekayaan kuliner di Riau yang harus kita gali dan kita angkat. Kita harus berani meski hal ini tentu sulit dan memiliki tantangan tersendiri seperti beberapa masyarakat kita yang kurang bangga dengan kuliner dan produk asli Riau.

Perlombaan dalam Food Festival ini akan dinilai oleh empat orang dewan juri yaitu Chef Haryo Pramoe dari Jakarta, Chef Ugih yang sudah wara-wiri di dunia kuliner nusantara, Dra. Hj. Armi Surya Djuliastuti M.Pd selaku ahli tata boga, Dinawati S.Ag, MM selaku Ketua Ika Boga Riau.

Dinawati, selaku dewan juri sekaligus ketua pelaksana acara ini mengatakan bahwa acara Food Festival dilakukan untuk menggali potensi kuliner khas Riau.

"Sulitnya menggali potensi ini yaitu karena masyarakat sudah terlanjur berekspresi dan berkreasi mengenai kuliner Riau sehingga hampir meninggalkan kuliner aslinya. Sesungguhnya yang asli dan tradisional lah yang memiliki nilai dan para wisatawan pun akan melihat keaslian ini,” terangnya.

“Harapan kita, ketika ada wisatawan yang datang ke Riau, mereka jangan lagi disuguhkan dengan makanan yang bukan khas Riau seperti bubur ayam misalnya, tapi suguhkanlah Bubuo Lambok (makanan khas Riau),” katanya. Usai acara dibuka secara resmi oleh Zul, dilanjutkan dengan technical meeting dengan keempat dewan juri.

Pada kesempatan ini dewan juri menjelaskan apa saja yang menjadi faktor penilaian dan peserta diberi kebebasan untuk bertanya mengenai teknis perlombaan.

Perlombaan ini akan dinilai dari beberapa aspek seperti otentiknya masakan yang disajikan, rasa, penyajian dan kekompakan tim.

"Kuliner yang akan dibuat ini sudah ditentukan oleh dewan juri. Selain masakan yang sudah ditetapkan, peserta boleh menyajikan kuliner tradisional khas Riau yang belum terdaftar di buku kuliner tradisional Riau tahun 2014 lalu,” kata Dinawati.

Penulis: Suci Aulya

 



Tags:  -