Diksar Rumah Zakat, Latih Calon Relawan Siaga Bencana

By Trip Riau  |  22 Desember 2015 11:33:01 WIB  |  News

Rumah Zakat taja Diksar Calon Relawan Siaga Bencana (photo: Suci Aulya / tripriau.com)

Pekanbaru, tripriau.com- Pendidikan Dasar (Diksar) merupakan suatu gerbang awal calon relawan untuk bergabung menjadi relawan di Lembaga Rumah Zakat (RZ). Diksar kali ini mengajarkan calon relawan mengenai siaga bencana.

Selama empat hari tiga malam yakni 17 hingga 20 Desember lalu, Relawan RZ Cabang Pekanbaru taja kegiatan Diksar yang dilangsungkan di Salo, Bangkinang tepatnya di markas TNI-AD yakni lapangan Tembak Batalyon Infanteri 132 Bima Sakti dan langsung dikomandoi oleh Sersan Kepala (Serka) Rio Susanto.

Materi mengenai siaga bencana disampaikan langsung oleh anggota TNI-AD. Terdapat enam materi yang diajarkan kepada peserta yaitu manajemen pendirian posko bencana, navigasi darat untuk menentukan titik kordinat dan membaca peta topografi terjadinya bencana dan cara menggunakan kompas.

Lalu materi tentang komunikasi melalui radio HT, pertolongan pertama gawat darurat, dapur umum yang dalam hal ini diisi oleh koordinator dapur umum saat bencana gempa Padang tahun 2009 silam dan terakhir, materi survival dasar.

"Pelatih dari TNI tidak memberikan materi secara setengah-setengah dan lebih banyak simulasi materi daripada teori. Materi ini berguna untuk pembekalan dasar bagi relawan jika nanti terjadi bencana hingga relawan RZ tidak canggung lagi ketika diterjunkan ke lokasi bencana tersebut,” ungkap Koordinator Relawan RZ, Fajri Sabti kepada tripriau.com

Seperti dalam materi manajemen pendirian posko bencana yang dijelaskan oleh Serka Rio. Ia mendidik relawan RZ mulai dari pendirian dan penurunan tenda pleton yang menggunakan rangka baja. Pleton ini lebih praktis difungsikan dibandingkan pleton biasanya yang menggunakan tali badai. Selain itu disampaikan juga bagaimana cara menetapkan posisi posko evakuasi yang baik dan benar.

Hari ketiga yakni Sabtu (19/12), peserta diajarkan dan dilakukan simulasi langsung terkait materi terakhir yaitu survival dasar. Pada materi yang dipimpin oleh Serka Rio ini mengajarkan peserta bagaimana caranya dapat bertahan hidup ditengah hutan dengan segala keterbatasan.

"Materi survival dasar ini berguna agar nanti kalian (calon relawan, red) turun pada penanggulangan bencana, bisa saja kalian tersesat di hutan dan tidak ada makanan yang dibawa atau persediaan makanan yang dibawa sudah habis,” tandas Rio sebelum simulasi materi survival.

Pada pukul 14.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB, sebelas peserta yang dibagi menjadi tiga kelompok dilepas ke hutan dan hanya dibekali dengan kompas, garam dan korek api.

Peserta harus menemukan dimana lokasi dengan menggunakan sudut kompas yang telah ditentukan. Kompas ini tidak hanya digunakan untuk mencari lokasi yang diibaratkan sebagai lokasi bencana tetapi juga untuk mencari makanan yang disebar oleh panitia disekitar lokasi bencana.

Makanan yang harus dicari ini adalah beberapa ubi dan kentang yang nantinya harus dimasak oleh seluruh tim di lokasi masing-masing dan tentunya menggunakan teknik memasak masing-masing pula.

Pada Diksar ini calon relawan RZ tidak hanya diberi pembekalan mengenai materi siaga bencana, namun lebih dari itu, peserta juga diajarkan untuk senantiasa mengingat Allah sang Maha Pencipta.

Hal ini seperti diwajibkannya peserta untuk melakukan tilawah atau membaca Al-Qur’an minimal tiga juz selama Diksar, melakukan shalat berjamaan yang disertai dengan kultum, shalat tahajjud dan lain-lain.

Seperti yang disampaikan oleh salah satu dari tiga orang peserta perempuan, Shanti Meliani. “Selama Diksar peserta diajarkan kerjasama, kemandirian, kedewasaan, kreatifitas, kecepatan, saling menghargai serta bagaimana menjadi seorang pemimpin dalam tim. Tidak hanya itu, kami juga diajarkan untuk selalu bersyukur dan tidak lupa beribadah.”

Senada dengan Shanti, Nofita Tri Gamala yang kerap disapa Gama dan dinobatkan sebagai peserta terbaik akhwat dalam Diksar Relawan RZ 2015, menuturkan, kegiatan Diksar ini memiliki substansi yang jelas.

"Setiap materi yang diberikan sangat bermanfaat untuk peserta. Kegiatan ini juga menjaga interaksi antara perempuan dan laki-laki, jadi peserta diajarkan bagaimana untuk menjadi relawan yang sesuai dengan syariat islam. Panitia juga mengajarkan kedisiplinan, kerjasama tim dan hal-hal lain tidak dengan cara yang kasar dan jelas,” tuturnya.

"Intinya kegiatan ini sarat akan makna. Saya harap seluruh tim relawan mampu menjaga semangat untuk membahagiakan ummat, tidak hanya sebatas Diksar tetapi juga mampu bertahan jauh lebih lama karena membahagiakan ummat juga merupakan tugas kita sebagai seorang muslim/muslimah,” pungkas Gama.

Penulis: Suci Aulya



Tags:  -