Melihat Pesona Bono dari Dekat

By Trip Riau  |  24 Desember 2015 09:11:21 WIB  |  Wisata Riau

Asyiknya berselancar di Ombak Bono sungai Kampar (photo: Amelia Aidilla / tripriau.com)

Pekanbaru, tripriau.com– Ombak Bono di sungai Kampar selalu menghadirkan rasa penasaran. Fenomena alam yang unik dan langka ini kerap menjadi tujuan para traveler dan pemburu ombak.

Pesona Tidal Bore atau yang lebih popular dengan nama Ombak Bono memang sudah menarik perhatian dunia. Jika biasanya ombak cuma bisa kita saksikan di laut, di Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Riau kita bisa menyaksikan ombak di sungai.

Ombak yang dihasilkan pun tidak berwarna biru seperti ombak di permukaan laut. Ombak Bono berwarna coklat, sesuai dengan warna air sungai yang berwana coklat di musim penghujan.

Ombak bono yang besar hanya datang satu sampai dua periode dalam setahun. Yakni sekitar bulan Maret dan Desember setiap tahunnya. Puncak tertingginya Ombak Bono ini biasanya pada bulan purnama atau masyarakat setempat menyebutnya bulan besar, saat terjadi air pasang di laut. Masyarakat lokal Teluk Meranti menghitung kedatangan Ombak Bono memakai hitungan bulan Arab, atau berpedoman pada siklus bulan.

Setelah di eksplor oleh sekelompok peselancar asal Prancis, para peselancar dari berbagai belahan dunia mulai mendatangi Ombak Bono guna menguji adrenalin. Berselancar di ombak air tawar dengan iklim yang hangat menjadikan Ombak Bono di sungai Kampar ini sebagai destinasi selancar impian. Baik oleh peselancar pemula, maupun profesional.

Masyarakat lokal sendiri sudah mulai menikmati kehadiran Ombak Bono sebagai sebuah keuntungan. Sebelumnya Bono dianggap sebagai musuh dari alam yang dapat menenggelamkan kapal masyarakat. Saat ini mereka sudah dapat menikmati Bono untuk olah raga berselancar dan melihatnya sebagai peluang ekowisata.
Di Teluk Meranti, saat ini sudah mulai bermunculan bisnis-bisnis wisata. Seperti sudah adanya hotel, penginapan, dan jasa penyewaan papan selancar.

"Kami berharap, masyarakat dapat lebih kreatif dalam melihat peluang bisnis melalui ombak bono ini," kata Iki Syamputra SSpt, Camat Teluk Meranti.

Jika anda ingin mencoba menunggangi Ombak Bono, anda bisa menggunakan jasa guide surfing yang ada di Teluk Meranti. Salah seorangnya adalah Eddy Bono. Eddy Bono sendiri sering membawa para turis lokal maupun mancanegara untuk mendapatkan pengalaman berselancar di Ombak Bono.


Menuju Ombak Bono

Untuk menikmati Ombak Bono, kita harus pergi kebagian muara sungai yang ombaknya tinggi. Menggunakan perahu pompong dengan kapasitas maksimal 50 orang penumpang, atau dengan perahu nelayan bertenaga mesin. Perjalanan menuju ke muara sungai Kampar bisa dimulai dari desa Teluk Meranti.

Perjalanan memakan waktu 20 menit menggunakan perahu pompong. Sepanjang perjalanan, pemandangan sungai kampar yang sangat indah menjadi pembunuh waktu. Hamparan pesisir pulau dan beberapa pulau kecil seolah mengapung di sungai Kampar.

Masih banyak suku pedalaman yang tinggal di pulau-pulau tersebut dan belum tersentuh oleh moderenisasi. 20 menit lewat begitu saja dalam pesona sungai Kampar.

Ombak yang paling besar berada di Tanjung Perbilahan, yang terbentuk karena pertemuan Ombak Bono yang sudah terbentuk di kanan kiri Pulau Muda. Kami menuju ke pesisir pulau tak jauh dari sana, tempat para peselancar menunggu Ombak Bono untuk "ditunggangi".

Sembari menunggu Ombak Bono datang, kami santap siang diatas kapal pompong bersama rombongan dan masyarakat setempat. Lokasi yang strategis dan suasana alam yang menghipnotis menambah kenikmatan kami menyantap kuliner tempatan yang dimasak oleh penduduk setempat.

Detik Menunggu Ombak Bono

Ketika kami di Teluk Meranti, Ombak Bono terjadi pukul 12.30 WIB, karena pada hari sebelumnya Bono terjadi pukul 12.00 siang. Setiap harinya, jadwal kedatangan Ombak Bono mundur setengah jam.

Sebelum pukul 12.30, kami sudah sampai di Muara sungai Kampar. Di mana aliran dua sungai dan laut bertemu, sehingga menyebabkan Ombak Bono. Kami menunggu di atas kapal pompong yang berpenumpang sekitar 40 orang. Kapal kami ditambatkan di tepi sungai, menjelang Ombak Bono datang.

Sekitar pukul 12.30, air sungai Kampar mulai beriak. Bukan sebagai pertanda tak dalam, melainkan pertanda ombak Bono mulai mendekat. Permukaan sungai Kampar yang semula tenang berubah menjadi gelombang-gelombang kecil. Permukaan air naik secara cepat.

Perahu pompong kami mulai menyala dan berlayar ke tengah, menyongsong Ombak Bono. Goncangan mulai terasa di perahu pompong yang kami tumpangi. Dalam sekejap, anak-anak gelombang tadi berubah menjadi gelombang besar. Muara sungai Kampar seolah-olah menjadi seperti lautan dengan ombak yang siap ditunggangi para penakluk ombak.

Perahu pompong kami tetap menjaga jarak dari Ombak Bono. Tidak terlalu dekat tidak terlalu jauh. Kami tetap bisa melihat para berselancar beraksi, dan tetap aman dari gulungan Ombak Bono.

Berbeda dengan perahu dengan mesin kecil, perahu yang lebih kecil dapat menjangkau Ombak Bono lebih dekat, sehingga sensasi guncangannya jauh lebih terasa dan kita bisa melihat para peselancar dengan lebih jelas.

Selama kehadiran Bono, mata kami dimanjakan oleh ketangguhan ombak satu ini. Para peselancar seakan menari diatas ombak tersebut, memperlihatkan keahlian mereka dalam mengendalikan papan selancar di tengah dahsyatnya ombak. Banyak masyarakat lokal yang ikut melakukan surfing, mulai dari orang dewasa, hingga anak-anak.

Bahkan, salah satu diantara peselancar lokal tersebut adalah remaja putri dari Teluk Meranti. Vicky, nama gadis 18 tahun tersebut, sudah biasa berselancar sejak berumur 10 tahun.

Ombak Bono bergulung-gulung di sungai Kampar sekitar 15 menit lamanya. Meskipun kami melihat Ombak Bono bukan di puncak tertingginya, akan tetapi fenomena satu ini tetap berhasil membuat para wisatawan terpesona dengan keelokan dan kegagahan liukan ombaknya.

Setelah Ombak Bono menyapu sepanjang sungai Kampar, air sungai meluap karena debit air sungai yang bertambah. Air sungai Kampar merendam kampung Teluk Meranti dengan cepat. Dalam waktu kurang 10 menit, seluruh kampung sudah terendam air setinggi lutut orang dewasa.

Masyarakat sudah terbiasa dengan hal ini. Air akan kembali surut dalam waktu dua sampai tiga jam kemudian.

Penulis: Amelia Aidilla
Editor: Rio Sunera



Tags:  -