Serunya Trekking hingga Safari Gajah di Tesso Nilo

By Trip Riau  |  29 Desember 2015 15:05:39 WIB  |  Wisata Riau

Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) menyuguhkan wisata minat khusus, mulai dari trekking, mengenal keanekaragaman hayati, hingga safari gajah. Foto: Rio Sunera / tripriau.com

Tripriau.com – Embun pagi di tengah-tengah bentang hutan nan lebat menyapa dari kejauhan. Menghadirkan nuansa segar menggoda bila dilihat dari guest house, tempat kami menginap. Selama 2 hari di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), kami menikmati momen langka. Mulai dari trekking, mengenal keanekaragaman hayati, hingga safari gajah.

Tesso Nilo merupakan salah satu destinasi ekowisata menarik di Riau yang bisa kita datangi. Taman nasional ini menawarkan banyak keseruan. Cocok bagi pecinta petualangan.

Ucapan ‘’Selamat Datang di Flying Squad’’ di sebuah gapura yang terbuat dari kayu menyambut kedatangan kami di Tesso Nilo. Ada 14 orang yang ikut dalam rombongan Edu Trip Tesso Nilo yang diinisiasi Green Radio Pekanbaru ini.

Flying Squad ini sendiri merupakan kawasan pelatihan dan konservasi gajah. Di sini ada tim patroli yang terdiri gajah sumatera dan pawangnya. Di Flying Squad ini juga ada 2 buah guest house untuk menginap para pengunjung. Kapasitasnya sekitar 12 orang. Di areal ini juga terdapat aula yang bisa digunakan untuk acara-acara pertemuan ataupun sekedar untuk bersantai.

Sekitar 800 meter dari Flying Squad ini, kita bisa mengunjungi menara pengawas. Tingginya lebih kurang 50 meter. Dari atas menara ini kita bisa menyaksikan lanskap Taman Nasional Tesso Nilo yang menawan, lantas memotretnya.

Pagi hari kami menikmati Jungle Trekking menyusuri hutan. Menembus lebatnya hutan Tesso Nilo yang masih perawan menjadi pengalaman langka.

menikmati Jungle Trekking menyusuri hutan. Menembus lebatnya hutan Tesso Nilo yang masih perawan menjadi pengalaman langka. Foto: Rio Sunera / tripriau.com

Kami berjalan pelan, sambil sesekali berhenti dan mengamati aneka pepohonan. Udara segar sangat terasa. Suasananya sangat teduh. Pohon-pohon yang tinggi menjulang dengan daun-daun rimbun membentuk kanopi alam yang cantik dan menyejukkan. Sesekali, kamera kami tengadahkan ke atas untuk mengabadikan rimbunnya dedaunan.

Sesekali kawanan monyet ekor panjang mengeluarkan suaranya. Melompat ke sana kemari seakan berusaha hendak menarik perhatian kami.

Sepanjang perjalanan kami menemui pohon besar yang tinggi menjulang. Beberapa diantaranya merupakan pohon endemik di kawasan ini. Beragam pepohonan masih terjaga di kawasan ini. Mulai dari Medang, Darah Darah, Terpis, Trempinis, Rengas, Pagar Pagar, Mandarahan, Pelawan, Meranti Rambai, Kempas, Kayu Putih, Belimbing Hutan, Mempening, Meranti Kunyit, Lalan, Redan, Silup, Jangkang, Kenari Hutan, hingga Gaharu.

Sepanjang perjalanan, beragam jenis burung tak berhenti mengeluarkan suaranya yang ‘’aduhai’’.
Setelah puas trekking di hutan, di kawasan ini pengunjung bisa menikmati keseruan menaiki gajah. Bisa berkeliling di sekitar flying squad maupun safari gajah di hutan.

Ada 6 ekor gajah yang menghuni flying squad ini. Antara lain bernama, Indro, Tessa, Rahman, Lisa dan Tria.

Kawasan Tesso Nilo ini cukup sering dikunjungi mahasiswa untuk praktik penelitian. Mereka kebanyakan ingin mengetahui jenis-jenis keanekaragaman hayati yang ada di Tesso Nilo. Para peneliti asing juga sering datang ke sini. Mulai dari Amerika Serikat, Jepang, Prancis, Swedia dan Italia. Masing-masing meneliti sesuai dengan spesialisasi ilmu.

‘’Misalnya ada peneliti Amerika Serikat khusus meneliti kucing. Ada juga yang expert di gajah, burung, hingga yang khusus meneliti tentang monyet,’’ cerita Gobel, petugas Balai Taman Nasional Tesso Nilo yang mendampingi rombongan kami.

Ada 6 ekor gajah yang menghuni flying squad Tesso Nilo untuk safari gajah. Antara lain bernama, Indro, Tessa, Rahman, Lisa dan Tria. Foto: Rio Sunera / tripriau.com

 

Akses Menuju Tesso Nilo
Taman Nasional Tesso Nilo berada di Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan. Dari Pekanbaru bisa ditempuh selama lebih kurang 4 jam perjalanan. Rinciannya, 3 jam melewati Jalan Lintas Timur dan 1 jam lagi masuk ke lokasi melewati jalan yang sebagiannya belum beraspal.

Berbagai jenis angkutan bisa memasuki kawasan ini. Mulai dari mobil jenis MPV hingga bus.

Untuk masuk ke kawasan ini, pengunjung harus mengurus Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (Simaksi) terlebih dahulu di Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) yang berada di Pekanbaru.

Untuk turis domestik dikenai biaya Rp 10 ribu, sementara turis mancanegara dikenai biaya Rp 250 ribu.

Penulis: Rio Sunera



Tags:  -