Meski Ramai Wisatawan, Tapi Wisata Religi di Sapat Minim Sentuhan

By Trip Riau  |  31 Desember 2015 18:42:00 WIB  |  News

Makam Syech Abdurrahman Siddiq atau yang biasa disebut Tuan Guru Sapat. Foto: Rio Sunera / tripriau.com

Tembilahan, tripriau.com – Objek wisata Makam Syekh Abdurrahman Siddiq, di Kampung Sapat, Kuala Indragiri, bisa menjadi salah satu destinasi wisata andalan di Kabupaten Inhil. Jumlah kunjungan wisatawan yang tinggi menjadi potensi besar bagi pengembangan destinasi ini.

Meski belum ada data resmi, puluhan ribu orang diperkirakan mengunjungi objek wisata religi ini setiap tahunnya. Lonjakan besar pengunjung biasanya terjadi pada momen Haul atau peringatan wafat sang Tuan Guru yang digelar sekali dalam setahun.  

Meski didominasi wisatawan lokal, tapi tak sedikit wisatawan luar daerah bahkan mancanegara mengunjungi tempat ini. Turis asing terbesar datang dari Malaysia dan Singapura.

Namun, objek wisata ini terlihat minim sentuhan dan memiliki banyak kekurangan. Dari segi akses misalnya, belum ada jalan penghubung via darat menuju objek ini. Desa Sapat hanya bisa ditempuh melalui jalur sungai menggunakan perahu motor dari Kota Tembilahan. Dengan waktu tempuh lebih kurang 30 menit. Kondisi pelabuhan Kuala Indah di Desa Sapat ini juga terlihat belum representatif.  

Sementara di objek wisata, kondisinya tak kalah memprihatinkan. Kebersihan yang tidak terjaga hingga infrastruktur jalan desa yang kurang baik mengurangi daya tarik destinasi ini. 

Begitupun dengan fasilitas. Belum kelihatan keberadaan penginapan atau homestay, tempat makan dan istirahat maupun fasilitas pendukung lainnya.

Para wisatawan juga tidak diberikan pilihan kegiatan atau atraksi-atraksi lainnya, selain menziarahi makam. 

Kepala Seksi Pengembangan Pasar Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Riau Yul Achyar, saat memimpin kegiatan Fam Trip Disparekraf 2015 ke Taman Nasional Bukit Tiga Puluh di Indragiri Hulu dan Makam Tuan Guru Sapat di Indragiri Hilir mengakui potensi objek wisata ini sebagai salah satu pilihan wisata religi di Provinsi Riau.

Yul Achyar mengatakan, meski terpencil tapi kunjungan harian di objek wisata ini cukup ramai. ‘’Walaupun wisatawan lokal, tapi jumlah kunjungannya lumayan banyak. Itu akan kita angkat. Tinggal perlu dikemas oleh pemerintah daerahnya (Indragiri Hilir),’’ jelas Yul.

Para penjual suvenir yang banyak dijumpai di objek wisata religi Syekh Abdurrahman Siddiq, di Desa Sapat, Kuala Indragiri, Inhil. Foto: Rio Sunera / tripriau   

Dia menambahkan, konsep Sapta Pesona yang meliputi Kebersihan, Kenyamanan, Keamanan, dan Kenangan juga perlu diwujudkan di objek wisata ini. ‘’Itu kan kita lihat tadi masih semrawut. Mungkin dari Disparekraf Provinsi nanti bisa masuk ke pembinaan objeknya,’’ tambah Yul, pekan lalu.

Menurut Yul, pihaknya sebenarnya sudah menganggarkan dana untuk objek wisata ini senilai Rp 2,5 miliar di tahun 2015. Namun, hal ini urung dilakukan.

‘’Tadinya kita ada anggaran untuk objek itu Rp 2,5 miliar di 2015, tapi hasil evaluasi kita itu tidak boleh dilaksanakan oleh dinas teknis, kita cuma boleh nyiapkan DED (Detail Engineering Design). Untuk fisik dilaksanakan oleh dinas terkait,’’ terang yul. 

Yul menambahkan, kalau objek wisata ini dikelola dengan baik, maka yang beruntung adalah masyarakat tempatan. Sebab, secara otomatis ekonomi akan ikut tumbuh.

‘’Selama ini kan pola pikir kita pariwisata masih kecil sumbangan PAD nya. Kalau ngejar PAD-nya gak mau dia. Tapi efek bola saljunya. Kalau objek wisata dikunjungi, otomatis kegiatan pendukungnya jalan. Jasa ojek jalan, jasa makanan jalan, jasa suvenir jalan. Coba dilihat tadi semua suvenirnya (yang ada di objek wisata ini) dari Kalimantan. Padahal kita punya potensi. Kayu kelapa kan bagus kalau diolah. Kita kan punya pembinaan ekonomi kreatif,’’ sebut Yul.

Penulis: Rio Sunera 



Tags:  -