Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, Surganya Para Petualang

By Trip Riau  |  04 Januari 2016 18:19:05 WIB  |  Wisata Riau

Wisatawan domestik hingga wisatawan mancanegara kerap berkunjung ke TNBT, untuk menikmati sensasi petualangan. Foto: Rio Sunera / tripriau.com

Tripriau.com – Bagi para pecinta petualangan, Taman Nasional Bukit Tiga Puluh yang berada di Kabupaten Indragiri Hulu menjadi salah satu destinasi wajib untuk didatangi. Taman nasional ini menawarkan banyak keseruan. Mulai dari jungle trekking, susur sungai, hingga menikmati atraksi kebudayaan Suku Talang Mamak.

TNBT selama ini memang selalu jadi incaran bagi pecinta petualangan. Tak hanya didominasi wisatawan domestik, wisatawan mancanegara pun kerap berkunjung ke sini.

Bukit Tiga Puluh terkenal dengan kekayaan flora dan faunanya. Beberapa jenis fauna masih bisa kita jumpai di kawasan ini. Mulai dari Harimau Sumatera, Beruang Madu, Tapir, Siamang, Rusa, Babi Hutan, Burung Rangkong, Kuaw, dan aneka satwa lainnya.

Sedangkan jenis flora langka yang diduga endemik di kawasan ini adalah Cendawan Muka Rimau (Raflesia haseltii) dan Salo (Johannes tesmania altrifons). Tidak kurang dari 1500 jenis tumbuhan terdapat di kawasan ini. Didominasi oleh tumbuhan seperti Terap, Kepinis dan Meranti.

Di kawasan ini juga tumbuh Bunga Bangkai (Amorphophallus) yang banyak ditemukan di daerah penyangga TNBT. Bila beruntung, kita bisa menyaksikan bunga ini mekar dengan ketinggian mencapai 3 meter dengan ciri berwarna loreng hitam kecoklatan dan hijau tua.

Selain merupakan habitat flora dan fauna langka dan dilindungi, kawasan TNBT  juga merupakan tempat hidup dan bermukim beberapa komunitas suku pedalaman seperti, Suku Talang Mamak, Suku Kubu (Anak Rimba) dan Suku Melayu Tua. Menjadikan kawasan ini sangat menarik untuk dijelajahi.

Serunya petualangan sudah bisa dirasakan saat mulai memasuki kawasan ini. Tak mudah untuk mencapai Camp Granit, tempat pengunjung biasanya menginap.

Kondisi jalannya cukup ekstrem menuju, hanya mobil dengan spesifikasi tertentu yang bisa melewatinya. Bila tak hati-hati, parit-parit besar yang ada di kiri dan kanan jalan akan membuat mobil terperosok. Foto: Rio Sunera / tripriau.com

Kondisi jalannya cukup ekstrem. Cuma mobil berstandar off road yang mampu melewati jalan ini. Bila tak hati-hati, parit-parit besar yang ada di kiri dan kanan jalan akan membuat mobil terperosok. Adrenalin makin terpacu saat melewati medan berat ini.

Dari Jalan Lintas Riau-Jambi, Camp Granit biasanya bisa ditempuh selama lebih kurang 30 menit. Namun, saat musim hujan, rutenya jadi licin. Mobil pun kerap terjebak di medan yang terjal ini. Perjalanan pun menjadi lebih lama.

Pengalaman langka di kawasan taman nasional ini dimulai dengan menyaksikan cuplikan video Harimau Sumatera. Petugas Balai TNBT, mempertontonkan rekaman video Harimau Sumatera yang tertangkap kamera trap.

Camp Granit tempat biasa wisatawan menginap di TNBT. Foto: Rio Sunera / tripriau.com

Menurut Andi Munandar, Staf di Balai TNBT, sudah ada sekitar 26 ekor Harimau Sumatera yang terpantau oleh kamera. Kamera-kamera ini awalnya dipasang tak jauh dari Camp Granit.

‘’Awal-awal kita memasang kamera di sekitar Camp Granit, baru kemudian menyebar ke wilayah-wilayah pinggiran kawasan. Untuk sementara (dipasang) masih di Riau. (Wilayah) Jambi belum tercover karena jumlah orang dan kamera yang masih sedikit,’’ kata Andi.

Dalam video yang ditampilkan di layar besar, terlihat jelas beberapa ekor harimau melintas di kawasan taman nasional ini. Ada yang terlihat berjalan sendirian, ada juga yang berkelompok. Paling banyak berjumlah 4 ekor yang berjalan beriringan. Menurut Andi, yang berkelompok ini kemungkinan induk dan anaknya.

 

Lanksap Hutan hingga Petualangan Seru

Suasana pagi di TNBT tak kalah mempesona. Bentang alam yang cantik terhampar sejauh mata memandang. Sebuah tawaran lanskap hutan yang menawan. Makin cantik ketika menyatu dengan embun pagi berwarna putih tipis. Tak ada pilihan terbaik, selain mengambil kamera dan memotret lanskap yang cantik ini.

Di saat bersamaan, beragam jenis burung tak henti-henti berkicau. Seakan berlomba-lomba menarik perhatian, mengeluarkan suara terbaiknya. Mulai dari Rangkong, Kuaw, Kirik-kirik Biru, Tegun-tegun, hingga Murai Daun. Membuat suasana kian eksotis.

Puas mengarahkan moncong lensa ke arah lebatnya hutan Bukit Tiga Puluh, saatnya berpetualang menyisir rimba belantara. Paling seru adalah mencoba jungle trekking selama lebih kurang 1 jam, menempuh jarak lebih kurang 3-4 kilometer.

Jungle trekking ini menawarkan banyak pengalaman seru. Rute yang dilalui cukup menantang. Kami berjalan menyusuri hutan lebat. Sesekali sinar matahari pagi tampak menyelinap di sela-sela pohon. Beberapa kali juga kami mesti melewati bukit-bukit licin dan curam. Benar-benar menguji konsentrasi dan daya tahan fisik.

Di kawasan ini, kami menemui pohon-pohon besar berdiameter sekitar 1 meter. Dengan usia ratusan tahun. Petualangan ini menjadi momen terbaik untuk mengenal beragam keanekaragaman hayati yang ada di TNBT.

Petualangan berikutnya segera tiba, yakni menyusuri Sungai Gangsal. Lokasinya berada di kawasan penyanggah Taman Nasional Bukit Tiga Puluh. Dari Camp Granit, kita mesti keluar terlebih dahulu ke Jalan Lintas Timur, kemudian menuju Desa Rantau Langsat. Butuh waktu lebih kurang 1 jam untuk mencapai lokasi ini.

Desa Rantau Langsat dihuni masyarakat suku asli di kawasan ini, yakni Talang Mamak. Bila berkunjung saat musim buah, maka beragam buah-buahan lokal bisa kita nikmati sepuasnya. Mulai dari durian, manggis, cempedak, duku, hingga rambutan.

Tiba di Rantau Langsat, kami tak hanya disambut oleh kampung yang rindang dan asri, tapi juga disambut oleh keramah-tamahan masyarakat tempatan.

Kami menyusuri Sungai Gangsal selama 1 jam menuju Dusun Pengayauan. Kita bisa menyewa perahu motor masyarakat setempat dengan kapasitas 7 penumpang. Tarif sekali sewa biasanya 3 ratus ribu per perahu.

Menyusuri Sungai Gangsal yang masih asri. Arusnya deras, sementara airnya jernih. Foto: Rio Sunera / tripriau.comSungai Gangsal ini cukup unik. Arusnya deras. Sementara airnya jernih. Bebatuan hitam bisa kita lihat di sungai ini. Sepanjang perjalanan menuju Dusun Pengayauan, berbagai pepohonan dan burung-burung menjadi pemandangan menarik.

Pesona wisata di taman nasional ini terus berlanjut. Sampai di Dusun Pengayauan, kami disambut oleh atraksi gambus tradisional yang dimainkan orang-orang Talang Mamak.

Masyarakat Talang Mamak, yakni Pak Tatung, Pak Ibun, dan Pak Subuh, bergantian menghibur kami. Petikan-petikan dawai yang mereka mainkan menghadirkan aura tersendiri. Mempertegas identitas Taman Nasional Bukit Tiga Puluh sebagai salah satu destinasi wisata minat khusus terbaik di Provinsi Riau.  

Pak Ibun (60), merupakan salah satu pemain gambus tradisional yg ada di Dusun Pengayauan, salah satu kawasan penyangga Bukit Tiga Puluh. Foto: Rio Sunera / tripriau.com 

 

Mengenal Bukit Tiga Puluh

Bukit Tigapuluh adalah Hutan Lindung yang telah diubah fungsi menjadi taman nasional pada tahun 1995. Bukit Tiga Puluh merupakan hamparan perbukitan yang terpisah dari rangkaian pegunungan Bukit Barisan yang terdapat di perbatasan Provinsi Riau dan Jambi.

Secara administratif, bukit ini terletak pada 2 wilayah propinsi, yakni Provinsi Riau dan Provinsi Jambi. Di Provinsi Jambi terletak di Kabupaten Tebo (10.000 ha). Sedangkan di wilayah Provinsi Riau terletak di Kabupaten Indragiri Hilir (seluas 30.000 ha). Paling luas berada di Kabupaten Indragiri Hulu, yakni 81.223 ha.

Di kawasan TNBT terdapat sebuah camp yang bernama Camp Granit. Dinamakan Camp Granit karena dulunya kawasan ini merupakan bekas penambangan batu granit yang dilakukan salah satu perusahaan asal Perancis.

Dari Balai TNBT yang berada di pusat pemerintahan Kabupaten Inhu, Pematang Reba, camp ini dapat ditempuh sekitar 1,5 jam melalui perjalanan darat dengan mobil atau sepeda motor.

Camp Granit sendiri berada di ketinggian. Di sini merupakan spot terbaik untuk menyaksikan betapa indahnya bentangan hutan Bukit Tiga Puluh. Di camp ini tersedia sarana akomodasi dengan kapasitas 36 orang. Juga ada fasilitas lainnya seperti pusat informasi, tempat berteduh/istirahat (shelter), jalur trail wisata ke puncak bukit lancang, dan rumah pohon.

Penulis: Rio Sunera



Tags:  -