Rumah Adat Suku Sakai Diusulkan Jadi Obyek Wisata Baru Riau

By Trip Riau  |  22 Januari 2016 14:36:07 WIB  |  News

Peresmian rumah adat Suku Sakai oleh Penjabat Bupati Bengkalis Achmadsyah Harofie di Desa Kusumbo Ampai, Mandau, Bengkalis, Riau. Foto: www.tribunnews.com

Tripriau.com - Pemerintah Kabupaten Bengkalis mengusulkan untuk menjadikan rumah adat Suku Sakai di daerah Sebanga, Desa Kusumbo Ampai, Kecamatan Mandau, sebagai obyek wisata baru di Provinsi Riau. Selain wisata budaya, rumah adat tersebut diharapkan bisa menjadi obyek penelitian.

"Rumah adat ini bisa dicari oleh peneliti, bukan cuma wisatawan," kata penjabat Bupati Bengkalis, Achmadsyah Harofie, dalam siaran pers terkait peresmian rumah adat Suku Sakai di desa tersebut.

Rumah adat tersebut dibangun kembali untuk menggantikan rumah adat lama yang kondisinya sudah rusak berat. Rumah tersebut dibangun atas kerjasama PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (IKPP) dan PT Arara Abadi (Arara).

Suku Sakai sendiri merupakan salah satu masyarakat adat asli di Provinsi Riau yang tersebar di sejumlah kabupaten, yaitu Kampar, Bengkalis, Indragiri hulu, dan Siak.

Mereka tergolong Melayu Tua (proto Melayu) yang awalnya hidup nomaden dengan bergantung pada hasil hutan. Orang Sakai terbanyak berada di wilayah Desa Kesumbo Ampai, Kecamatan Mandau, Bengkalis, berjarak sekitar 180 kilometer dari Pekanbaru.

Achmadsyah menambahkan, Suku Sakai saat ini bukanlah suku yang terpinggirkan. Saat ini sudah ada komunitas suku tersebut yang menjadi lurah, camat, dan pejabat pemerintahan.

Sementara itu, Direktur IKPP, Hasanuddin mengatakan rumah adat baru tersebut berdiri di lahan seluas 1,3 hektare di lokasi lama dan menggunakan konstruksi lebih kuat karena menggabungkan kayu dan besi. Pembangunannya menelan biaya sekitar Rp 1 miliar.

Ketua Adat (Bathin) Sakai, M. Yatim, mengatakan rumah adat berbentuk rumah panggung itu merupakan kekayaan budaya bagi warga Sakai.

Tempat itu juga berfungsi sebagai museum karena berisi beragam peralatan dan peninggalan Suku Sakai, seperti baju dari kulit kayu, foto kehidupan masyarakat Sakai tempo dulu, alat musik, peta tanah adat, hingga keris kuno.

"Kami gunakan rumah ini untuk saling berbagi ilmu, melatih kesenian khas adat Sakai dan mempererat hubungan persaudaraan kami. Kami berharap semua pihak bisa terus memelihara dan mendukung kelestarian budaya kami di masa depan sehingga tercipta hubungan yang berkesinambungan dengan masyarakat lokal," kata Yatim.

Sumber: Kompas.com

Editor: Rio Sunera



Tags:  -