Wisata Makam Tuan Guru Sapat, Ramai Didatangi Peziarah

By Trip Riau  |  22 Januari 2016 15:34:32 WIB  |  Wisata Riau

Lokasi Makam Syech Abdurrahman Siddiq atau yang biasa disebut Tuan Guru Sapat. Foto: Rio Sunera / tripriau.com

Tembilahan, tripriau.com – Makam Syekh Abdurrahman Siddiq atau yang dikenal dengan Tuan Guru Sapat, selalu ramai dikunjungi para wisatawan. Saban tahun, puluhan bahkan ratusan ribu peziarah mendatangi tempat ini. Mereka berdoa dan menelusuri jejak sejarah sang Tuan Guru.

Makam Syekh Abdurrahman Siddiq ini berada di Parit Hidayat, Desa Sapat, Kuala Indragiri, Kabupaten Indragiri Hilir. Hampir tiap hari, tempat ini selalu ramai didatangi para peziarah dari berbagai penjuru.

Selain para peziarah domestik, tak sedikit juga peziarah dari daerah lain, bahkan luar negeri datang ke mari.

Dari luar Riau, kebanyakan wisatawan datang dari wilayah Kalimantan. Kesamaan etnis –?berasal dari Suku Banjar - membuat banyak orang dari pulau yang berada di sebelah utara Jawa ini datang berziarah. Sebab, Syekh Abdurrahman Siddiq sendiri juga berlatar belakang etnis banjar.

Tapi uniknya, Makam Tuan Guru ini tak hanya didatangi oleh umat muslim saja. Orang-orang nonmuslim, terutama dari etnis Tionghoa juga kerap mendatangi tempat ini untuk berziarah. Mereka menggelar ritual doa di makam sang Tuan Guru. Kebanyakan mereka berasal Kota Tembilahan.

Menurut penjaga makam yang juga zuriat dari Tuan Guru, masyarakat etnis Tionghoa ini juga ikut berdoa di makam. ‘’Karena mereka kan juga dikenal sangat menghormati leluhur. Maka dari itu, mereka datang ke sini berdoa,’’ ujar penjaga makam ini.

Syekh Abdurrahman Siddiq sendiri, semasa hidupnya dikenal sebagai Mufti Kerajaan Indragiri yang pertama. Dia diangkat pada tahun 1337 H saat Kerajaan Indragiri dipimpin oleh Sultan Mahmud Syah.

20 tahun waktunya dihabiskan untuk mengabdi sebagai Mufti atau Menteri Agama di kerajaan Indragiri ini.

Beliau lahir di Kampung Dalam Pagar, Martapura, Kalimantan Selatan, pada tahun 1864 Masehi. Beliau merupakan keturunan dari seorang ulama besar yang pertama kali mengembangkan Islam di Kalimantan, yakni Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.

Pada tahun 1913 M, Syekh Abdurrahman Siddiq merantau ke Indragiri. Dia menetap di Sapat, Kuala Indragiri selama 7 tahun. Sebelum akhirnya diangkat sebagai Mufti Kerajaan Indragiri yang berkedudukan di Rengat.Makam Syech Abdurrahman Siddiq atau yang biasa disebut Tuan Guru Sapat. Foto: Rio Sunera / tripriau.com

Beliau kemudian wafat pada tahun 1930 di Parit Hidayat, Sapat, Kecamatan Kuala Indragiri, Riau.

Nah, makamnya di kampung inilah yang hingga kini banyak dikunjungi orang-orang dari berbagai pelosok nusantara bahkan luar negeri.   

Di Kampung Sapat ini kita bisa menemukan 2 bangunan makam yang terletak berdekatan. Yakni makam Tuan Guru dan cucunya bernama Damiati atau dikenal dengan Cik Idam.

Di bangunan makam Tuan Guru sendiri ada juga 2 pusara lainnya lainnya berdampingan, yakni makam Siti Sa’idah, Mak Cik dari Syekh Abdurrahman Siddiq yang mengasuh beliau sejak ditinggalkan orang tuanya sejak kecil. Sementara di sampingnya lagi adalah makam salah seorang istri beliau.

Di sekitaran makam ini, juga ada makam-makam lainnya yang diketahui sebagai makam para muridnya dan masyarakat sekitar.

Sekitar 100 meter dari makam Tuan Guru juga terdapat mesjid yang pernah beliau bangun bersama para muridnya.    

Di tempat ini juga banyak kita temui para pedagang yang menjual berbagai cinderamata. Mulai dari foto Syekh Abdurrahman Siddiq, tasbih, hingga beragam batu cincin dari Martapura, Kalimantan Selatan.Para penjual suvenir yang banyak dijumpai di objek wisata religi Syekh Abdurrahman Siddiq, di Desa Sapat, Kuala Indragiri, Inhil. Foto: Rio Sunera / tripriau

Menuju Desa Sapat 

Bila dari Pekanbaru, perjalanan dimulai menuju ke Kota Tembilahan, Indragiri Hilir. Butuh waktu lebih kurang 6-7 jam perjalanan darat untuk sampai di kota ini.

Dari Kota Tembilahan perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan moda transportasi sungai. Berangkat dari Pelabuhan RSUD yang berada tidak jauh dari pusat kota.

Pilihannya adalah memakai perahu bermesin atau masyarakat setempat biasa menyebutnya ‘’Perahu Pancung’’. Sekali jalan, perahu motor berpenumpang 10 orang ini mematok tarif Rp 40 ribu.

Suasana pelabuhan di Kota Tembilahan menjadi daya tarik sendiri sebelum menginjakkan kaki ke Desa Sapat. Banyak momen bisa diabadikan di sini. Beragam aktivitas khas pelabuhan-pelabuhan di Indonesia bisa disaksikan di sini.Mulai dari foto Syekh Abdurrahman Siddiq, tasbih, hingga beragam batu cincin dari Martapura, Kalimantan Selatan dijual oleh pedagang cinderamata dikawasan makam Syech Abdurrahman Siddiq. Foto: Rio Sunera / tripriau.com

Mulai dari kapal-kapal kecil hingga besar yang bersandar di dermaga, bongkar-muat barang, calon penumpang yang menunggu pemberangkatan, hingga suasana dermaga yang riuh oleh pedagang dan petugas syahbandar.

Perahu mulai bergerak menuju Desa Sapat. Menyusuri Sungai Indragiri yang berwarna kecokelatan. Sepanjang perjalanan, beragam tawaran pemandangan bisa kita saksikan. Mulai dari aktivitas nelayan mencari ikan, hingga dermaga-dermaga kecil tempat persinggahan perahu-perahu masyarakat.

Perahu pun akhirnya merapat di pelabuhan Kuala Indah, Desa Sapat, setelah menempuh 30 menit perjalanan.

Dari pelabuhan kecil ini, lokasi makam Tuan Guru berjarak lebih kurang 2 kilometer. Untuk mencapainya, bisa dengan berjalan kaki maupun menumpang ojek.

Penulis: Rio Sunera



Tags:  -