Menggelorakan Teater di Negeri Seribu Parit

By Trip Riau  |  23 Januari 2016 17:41:21 WIB  |  News

Saat ini Arisan Teater Inhil sudah menggelar 2 kali pertunjukan. Pertunjukan ke-3 akan digelar pada Februari nanti. Foto: Arisan Teater Inhil for tripriau.com

Tripriau.com – Selama beberapa masa, dunia teater di Indragiri Hilir sempat sepi dan jauh dari hingar-bingar. Sanggar-sanggar yang ada tak pernah menggelar pertunjukan. Mereka cuma berharap pada acara tahunan, yakni Festival Teater Klasik Bangsawan yang digelar pemerintah daerah setempat. Festival inilah satu-satunya ajang mereka bisa unjuk gigi.

Masalah yang terjadi cukup klasik. Mulai dari mahalnya biaya sewa gedung hingga ketiadaan dana produksi untuk menggelar pertunjukan. Saban hari, yang bisa dilakukan cuma latihan demi latihan. Alhasil, motivasi sanggar-sanggar untuk berkarya pun terus menurun.

Festival Teater Klasik Bangsawan yang menjadi harapan sanggar-sanggar untuk menampilkan karya pun tidak sepenuhnya bisa diikuti. Sebab, keikutsertaan di festival ini menggunakan sistem undangan.   

Namun, semangat untuk menghidupkan kembali dunia seni peran di Negeri Seribu Parit terus menggelora dan tetap hidup. Arus ini dimotori para komunitas teater yang berisi anak-anak muda di kota Tembilahan.  

Mereka mencari cara dan solusi untuk mengembalikan eksistensi teater di Inhil, terutama di Kota Tembilahan. Alhasil, lahirlah sebuah kegiatan yang diberi nama ‘’Arisan Teater Inhil’’.

Arisan Teater ini terbentuk atas dukungan 7 sanggar yang ada. Meski ide dan pengerjaan awalnya cuma dilakukan beberapa orang saja.

Saipudin Ikhwan, Koordinator dari Arisan Teater Inhil ini mengatakan, Arisan Teater adalah  sebuah formula yang dibuat untuk mengaktifkan kegiatan teater di Inhil. Ide awalnya berangkat dari kevakuman dan ketidakpedulian pemerintah terhadap keberadaan seni teater di daerah ini.

‘’Selama ini masalahnya adalah dana produksi dan gedung sewa yang mahal. Padahal sanggar teater ( di Inhil) lumayan banyak,’’ ceritanya kepada tripriau.com.  

Setelah Arisan Teater ini diadakan, setiap sanggar yang tergabung di arisan, membayar uang iuran setiap bulannya dengan besaran yang sama. Uang ini kemudian digunakan sebagai modal awal untuk produksi.Foto besama anggota sanggar Selasih Baiduri setelah nampil diacara Arisan Teater Inhil. Foto: Arisan Teater Inhil for tripriau.com

‘’Setiap sebulan sekali sanggar cabut undi. Siapa yang dapat arisan maka dialah yang mentas bulan depan,’’ jelas Boboy, sapaannya.  

Boboy mengaku, uang yang bersumber dari iuran bulanan ini cukup untuk membiayai sebuah produksi. Sebab, untuk sewa gedung digratiskan oleh salah seorang pengusaha lokal yang ada di sana.

Selebihnya, untuk pengerjaan panggungnya dikerjakan secara ‘’keroyokan’’ oleh seluruh anggota. ‘’Jadi, biaya produksinya jadi lebih murah,’’ sebutnya.

Saat ini, setidaknya ada 7 sanggar  yang tergabung di Arisan Teater Inhil ini, yang berasal dari 3 kecamatan. Antara lain, Bujang Dara, Tuah Abdi, Selasih Baiduri, Lebur, dan Indragiri Art Institute dari Kecamatan Tembilahan Kota. Sanggar Qinabun dari Tembilahan Hulu, dan Sanggar Laksemana dari Kecamatan Enok.

‘’Sementara ini yang jarak tempuhnya masih bisa kita usahakan aja dulu. Sambil kita pikirkan bagaimana dengan sanggar teater yang ada di kecamatan yang tidak bisa ditempuh jalur darat yang ingin bergabung,’’ tambah Boboy.

Saat ini Arisan Teater Inhil sudah menggelar 2 kali pertunjukan. Pertunjukan ke-3 akan digelar pada Februari nanti.  

Boboy bercerita, sejak Arisan Teater ini digelar banyak perubahan terjadi. Paling utama, sanggar-sanggar yang ada menjadi lebih aktif. Selain itu, masyarakat yang selama ini terkesan apatis terhadap seni teater,  kini mulai memenuhi dan berbondong-bondong datang ke gedung pertunjukan.

‘’Bahkan mereka rela mengeluarkan uang untuk dapat nonton pertunjukan teater. Dan sepertinya, pejabat-pejabat mulai melirik teater. Sebelumnya mereka diundang pun tak datang,’’ sebut Boboy.

Menurutnya, para seniman teater di Inhil juga makin kompak. Bahkan, ada wacana seluruh seniman teater di Inhil ingin mendatangi pemda untuk berkomunikasi, bahwa mereka membutuhkan pusat aktivitas seni untuk memajukan kebudayaan.

‘’Yang menjadi cita-cita kita sebenarnya kita punya pusat aktivitas budaya. Seperti Bandar Serai atau Taman Budaya (di Kota Pekanbaru). Ada gedung pertunjukan,’’ cetusnya.

Keberadaan pusat aktivitas budaya ini dinilainya penting di tengah serbuan budaya asing seperti saat ini. ‘’Kita harus menyatukan serpihan-serpihan seni budaya yang tersisa. Memfasilitasi orang-orang yang masih menjalankan aktivitas budaya lokal,’’ katanya.

Dia berharap, pusat aktivitas seni tersebut bisa menjadi benteng pertahanan, sekaligus pengembangan dan promosi kebudayaan. Serta berpotensi jadi objek wisata.

Penulis: Rio Sunera



Tags:  -