Melihat Training Ground Standar Internasional Milik Tiga Naga Footbal Academy

By Trip Riau  |  26 Januari 2016 11:12:36 WIB  |  News

Training ground standar internasional milik Tiga Naga Football Academy yang berada di Jl. Kutilang Sakti, Panam, Pekanbaru. Foto: Abdul Ronny / tripriau.com

Pekanbaru, tripriau.com – Membentuk talenta-talenta muda di Indonesia yang bisa bermain di klub-klub luar negeri menjadi salah satu misi dari kehadiran Tiga Naga Football Academy dan Soccer School di Kota Pekanbaru.

Untuk mewujudkan hal ini, Tiga Naga Football Academy mencari talenta-talenta terbaik di Indonesia. Sementara, bakat-bakat yang ada masih berasal dari Pekanbaru, Jawa Timur, dan Bali.   

CEO Tiga Naga Football Academy, Ardiansyah mengatakan, untuk jangka panjang akademi ini akan membentuk pemain-pemain profesional yang bisa bermain di klub-klub luar negeri. ‘’Yang mampu bermain di high level,’’ katanya.  

Misi Tiga Naga Football Academy untuk mencetak pesepakbola-pesepakbola terbaik di tanah air juga didukung oleh banyak hal. Mulai dari infrastruktur yang memadai hingga program pembinaan yang baik.  

Untuk lapangan saja misalnya, akademi ini didukung oleh sebuah lapangan berstandar internasional yang berada di Jalan Kutilang Sakti, Panam, Pekanbaru.

Rumputnya setara dengan yang ada di Stadion Old Trafford, Manchester, Inggris, yakni dari jenis Zoysia japonica. Stadion-stadion di Eropa lainnya juga banyak menggunakan rumput jenis ini.

Rumput ini membuat lapangan menjadi lebih indah ketika dibuat bergaris selang-seling, dengan warna hijau muda dan tua. Rumput ini juga lebih bisa mendukung permainan karena lebih tebal sehingga bisa melindungi pemain dari cedera.
Mendidik anak-anak muda menjadi pesepakbola handal menjadi salah satu misi sosial yang tengah dijalankan Tiga Naga Football Academy. Foto: Abdul Ronny / tripriau.com

‘’Rumput ini aslinya ada di daerah dataran tinggi. Namun, bisa di semua cuaca. Kita bawa langsung dari Malang,’’ sebut Ardiansyah.

Sistem drainasenya pun tak kalah canggih. Menggunakan sistem drainase bawah tanah. Sebanyak 620 buah pipa berukuran 4 inchi terpasang di bawahnya. Dengan sistem ini, bila hujan mengguyur, air akan lebih cepat merembes. Sehingga, permukaan lapangan akan tetap terjaga. ‘’Baru kita di Indonesia yang pakai kayak gini,’’ kata Ardiansyah. 

Training Ground ini berada di areal yang cukup luas, yakni 2,2 hektar. Areal ini memiliki sebuah lapangan inti dan ke depannya akan dibangun lapangan pendukung dan tribun penonton.  

Ardiansyah bercerita, selama ini belum ada sekolah sepakbola di Indonesia yang punya infrastruktur milik sendiri. ‘’Ada di beberapa daerah seperti Malang dan Jakarta, tapi masih sewa. Kita akademi pertama di Indonesia yang memiliki infrastruktur sendiri dengan standar internasional,’’ katanya.

Mendidik anak-anak muda menjadi pesepakbola handal menjadi salah satu misi sosial yang tengah dijalankan Tiga Naga Football Academy. Sehingga, akademi ini tidak menarik biaya untuk bakat-bakat muda yang dilatih di sini. Semua ditanggung akademi. Mulai dari pendidikan, makan, nutrisi, hingga kesehatan.

‘’Kita gak tarik biaya. Dengan syarat per 6 bulan kita review performanya. Kalau gak bagus, gak kita lanjutkan. Dikembalikan ke orang tua,’’ jelasnya.

Ardiansyah menyebut, kebanyakan talenta-talenta yang ada berasal dari ekonomi menengah ke bawah.

‘’Mana tau nih, mereka jadi pemain bola beneran. Dan dengan main bola inilah dia bisa merubah hidup keluarganya. Makanya kita free kan. Rata-rata mereka bagus. Tapi kadang tidak tersalurkan karena tidak ada infrastruktur memadai,’’ katanya lagi.

Makanya, tambah Ardiansyah, selain modal infrastruktur, pihaknya juga punya jaringan dengan beberapa klub di Asia dan Eropa. ‘’Kita nanti salurkan di sana. Kalau dia berhasil kontrak dengan klub, klub harus berhubungan dengan kita. Ada kompensasi dari apa yang anak sudah dapatkan. Dalam aturan FIFA itu sudah ada,’’ jelasnya kepada tripriau.com.

Tak cukup infrastruktur, untuk menciptakan pesepakbola profesional Tiga Naga Football Academy juga menyiapkan kelengkapan sumber daya manusianya. Salah satunya dengan menyiapkan seorang Fisioterapi.
Untuk mendukung perkembangan pemain, rumput training ground Tiga Naga Football Academy setara dengan yang ada di Stadion Old Trafford, Manchester, Inggris, yakni dari jenis Zoysia japonica. Foto: Abdul Ronny / tripriau.com

‘’Kita masih tahap awal, nanti kita siapkan juga Fisoterapi yang bertugas untuk memantau perkembangan anak-anak ini. Karena standar Eropa atau Asia saja udah jauh dengan Indonesia,’’ bebernya.

Untuk menilai perkembangan pemain, Tiga Naga Football Academy juga menggandeng Lab Bola, yakni sebuah perusahaan Sport Statistic Data Management sebagai official Partner.

Lab Bola membantu akademi untuk melihat perkembangan per pemain secara objektif berdasarkan statistik. Mulai dari passing complete, speed dengan dan tanpa bola, serta visi bermain.

Tak cukup sampai disitu, Tiga Naga Football Academy juga bekerjasama dengan Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI). APPI akan membantu pihak akademi untuk penyaluran pemain di liga-liga luar negeri. Diantaranya, India, Asutralia, Hongkong dan Spanyol. 

‘’Kita kerjasama juga dengan APPI, dari mereka kita kemaren terbantu untuk penyaluran di Liga India, Australia, Hongkong, Spanyol. Tinggal tergantung anak-anak kita bisa bersaing atau enggak. Itu lah step-step kita. Makanya setiap 6 bulan kita evaluasi. Itu pemicu mereka untuk semangat,’’ kata Ardiansyah.

Penulis: Rio Sunera



Tags:  -