''Dimensi Tempo Doeloe'', Merawat Budaya Mengembangkan Pariwisata

By Trip Riau  |  31 Januari 2016 22:19:51 WIB  |  News

Bermain enggarang salah satu kegiatan diacara Dimensi Tempo. Foto: Rio Sunera / tripriau.com

Pekanbaru, tripriau.com – Sekelompok anak-anak larut dalam keseruan sepanjang hari. Di sebuah tanah lapang di Taman Ria Putri Kaca Mayang, mereka bermain sambil tertawa. Gurat keceriaan jelas tergambar pada wajah-wajah mereka.

Tak ada gadget yang mereka pegang. Tak ada game-game kekinian besutan vendor lokal, bahkan luar negeri yang mereka mainkan. Anak-anak ini justru sedang mencoba memainkan kembali aneka permainan tradisional yang populer di era 90an.  

Arif misalnya. Tampak asik dengan enggrang-nya. Meski belum mampu menyeimbangkan tubuhnya dan berdiri di atas dua bilah bambu, dia tak menyerah. Siswa salah satu sekolah dasar di kawasan Sail ini terus mencoba permainan ini.

Beberapa kali percobaan dia terus gagal. Bahkan harus terjatuh. Namun, tak ada raut kecewa di wajahnya. Dia justru tertawa dan mengulangi hingga beberapa kali.

Berbeda dengan Arif, Livia (9) tampak lihai memainkan permainan Lompat Tali. Tubuh kurusnya tampak lincah. Melompat-lompat disela-sela mainan yang terbuat dari karet gelang yang dijalin rapi ini.Livia (9) tampak lihai memainkan permainan Lompat Tali. Tubuh kurusnya tampak lincah. Melompat-lompat disela-sela mainan yang terbuat dari karet gelang yang dijalin rapi ini. Foto: Rio Sunera / tripriau.com

Siswi kelas 4 Sekolah Dasar 132 Pekanbaru ini mengaku sering mencoba permainan ini di sekolah. ‘’Diajarkan pas olahraga,’’ katanya singkat.  

Dari pagi hingga petang, Taman Ria Putri Kaca Mayang yang berada di pusat kota Pekanbaru memang tampak berbeda. Salah satu objek wisata paling tua di kota Bertuah ini kelihatan lebih ramai dari hari-hari biasa.

Di taman bermain yang kini mulai dilupakan ini, mahasiswa dari Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Riau menggelar kegiatan bernama ‘’Dimensi Tempo Doeloe’’, Ahad (31/1).

Selain untuk memperkenalkan objek wisata yang dulu sempat menjadi kebanggaan warga kota ini, kegiatan ini juga bertujuan untuk mengangkat kembali permainan, jajanan, dan makanan tempo dulu.

Banyak sekali permainan, jajanan sampai makanan tempo dulu yang ditampilkan.

Mulai dari Yoyo, Enggrang, Batok Kelapa, Gasing Kayu, Lompat Tali, Congklak, Bedil-bedilan, Kelereng, Ular Tangga, Setatak, Kartu Gambar, Kotak Rokok, Layangan, hingga Pelepah Pisang.

Ada juga jajanan-jajanan tempo dulu seperti Coklat Payung, Mie Gemez, Es Parut, Telur Gulung, Kerupuk Ganepo, Kue Sagon, Borobudur, Kerupuk Jagung, Astor, Mister Pop, Permen Karet, Permen Roko dan lain sebagainya.

Bagi orang-orang yang tumbuh besar di era 90an, beragam permainan hingga jajanan yang ditampilkan ini seakan mengulang masa lalu. Membangkitkan kembali nostalgia dan kenangan masa lampau. 

Tak cuma anak-anak, acara Dimensi Tempo Doloe ini juga banyak menarik perhatian orang-orang dewasa. Mereka pun tampak antusias mencoba permainan-permainan yang ditampilkan.

Dimensi Tempo Doeloe yang baru pertama kali diadakan ini, juga memamerkan beberapa barang jadul milik beberapa kolektor barang antik di Pekanbaru.

Ada koleksi uang kuno, prototype sepeda pertama tahun 1800, sepeda bertype roundtank atau sepeda mesin, dan ada juga sepeda onthel.

Sejarawan Riau Prof Suwardi MS yang hadir pada acara ini mengatakan, permainan tradisional ini memiliki banyak nilai-nilai luhur.

Menurutnya, melalui permainan ini bisa memperkokoh persatuan dan menjadi objek wisata yang unik di Pekanbaru. ‘’Ini sebuah wisata berbasis budaya Melayu. Apalagi kita saat ini sedang mengusung semangat The Homeland of Melayu,’’ katanya.

Acara dimensi Dimensi Tempo Doeloe yang diselenggarakan di Taman Ria Putri Kaca Mayang, Pekanbaru. Beragam kegiatan terselenggara diacara ini, seperti ular tangga, enggrang, lompat tali dan lain-lain. Foto: Rio Sunera / tripriau.com

Sementara itu, tokoh masyarakat Pekanbaru Anas Aismana menyampaikan, dirinya lebih senang menyebut aneka permainan yang ditampilkan ini dengan ‘’Olahraga Tradisional’’.

Sebab, menurutnya dalam permainan ini ada unsur olahraga, hiburan, serta rekreasi. ‘’Dan ada juga hubungannya dengan pariwisata. Makanya harus digalakkan. Perlu festival-festival, penataran kepada guru-guru olahraga di sekolah, serta penggalian terhadap permainan-permainan tradisional,’’ jelasnya.

Di kesempatan yang sama, Staf Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi Riau, Tabrani mengaku, kegiatan ini seakan membawa kita ke nuansa masa lalu.

Dia menyebut, di masa dulu, kita hanya tahu bermain saja. Namun, ternyata banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari beragam permainan ini.

‘’Di masa itu, kita tak tahu. Kita bermain saja. Tapi setelah dewasa, dianalisa ternyata banyak pelajaran. Salah satunya Dinamika Kelompok. Karena permainan ini banyak dilakukan berkelompok. Ada juga jenis perlombaan dan permainan,’’ jelasnya saat mengisi talkshow pada kegiatan ini.

Penulis: Rio Sunera



Tags:  -