Jelajah Siak Sri Indrapura hingga Bukit Batu Laut (1)

By Trip Riau  |  01 Februari 2016 17:00:51 WIB  |  Wisata Riau

Kemegahan Istana Siak memiliki nilai historis yang tinggi, menjadi magnet wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Foto: Abdul Ronny / tripriau.com

Tripriau.com - Langit cerah berwarna kebiruan menyambut kami saat menjejakkan kaki di Kota Siak Sri Indrapura. Kota ini tampak bersih dan nyaman dengan lalu-lintas yang tidak begitu sibuk.

Jam makan siang sudah menghampiri ketika kami tiba di kota istana. Pilihan terbaik tentulah menikmati sajian kuliner khas Melayu, sebagaimana identitas asli Siak Sri Indrapura.

Kami memilih bersantap siang di rumah makan Wan Syafariah. Ini salah satu rumah makan yang cukup terkenal di Kota Siak Sri Indrapura. Berada di simpang Jalan Koto Tinggi, tak jauh dari Istana Siak.

Rumah makan ini menyajikan aneka masakan khas Melayu seperti Asam Pedas Tapah, Asam Pedas Baung, Udang Galah, Gulai Siput dan lainnya.

Masakan khas Melayu di rumah makan Wan Syafariah di Kota Siak. Foto: Abdul Ronny / tripriau.com

Saya mencoba menu khas di sini, yakni Asam Pedas Ikan Tapah. Sekilas Ikan Tapah ini mirip dengan Ikan Patin. Konon katanya ukuran Ikan Tapah ini bisa mencapai sebesar badan lelaki dewasa.

Lembutnya daging Ikan Tapah bercampur dengan kuah berwarna kuning kemerahan. Terasa asam namun tidak terlalu pedas. Sangat gurih ketika menyentuh lidah.

Selain Asam Pedas Ikan Tapah, menu lain yang paling banyak diminati di rumah makan ini adalah Udang Galah Goreng. Sangat nikmat ditemani dengan sambal terong asam. Cabe hijau yang pedas terasa lebih segar ketika dicampur dengan terong muda yang sedikit asam.

Harga seekor Udang Galah Goreng di rumah makan ini bervariasi mulai dari Rp 40.000 sampai dengan Rp 60.000, tergantung ukurannya.

Wisata Sejarah di Kota Siak

Menjelajah Siak Sri Indrapura terasa belum lengkap bila belum melakukan kegiatan wisata sejarah. Kompleks makam yang berada tak jauh dari istana menjadi tujuan kami.

Sebuah makam yang letaknya di tengah-tengah diantara makam-makam yang lain tampak begitu menarik perhatian. Hanya makam itu yang ditutupi dengan sehelai kain berwarna kuning keemasan yang digantung ujungnya dan menyerupai sebuah tudung.

Kompleks makam Sultan Syarif Qasim II, yang berada tidak jauh dari Istana Siak. Foto: Abdul Ronny / tripriau.com

Inilah makam Tengku Sulung Sayed Kasim atau yang kita kenal dengan sebutan Sultan Syarif Kasim II. Beliau merupakan Raja Siak ke-12 yang memerintah selama 34 tahun, antara tahun 1915-1949.
Di samping kanan makam raja terlihat sebuah makam dengan sebuah batu nisan yang terlihat seperti mahkota. Inilah makam sang permaisuri raja.

Kami melanjutkan perjalanan ke dalam istana. Berada tak terlalu jauh dari makam kerajaan. Hanya lebih kurang 10 menit berjalan kaki. Sebelum masuk kawasan Istana Siak pengunjung harus membeli tiket terlebih dahulu. Tidak mahal, untuk wisatawan domestik yang dewasa hanya dikenakan tiket masuk Rp 3.000 saja.

Tiket tersebut adalah akses untuk bisa masuk ke dalam istana. Jangan lupa untuk mengisi buku daftar tamu. Sebab, ini akan membantu pihak pengelola untuk mengetahui berapa banyak jumlah pengunjung yang datang ke Istana Siak.

Berbeda saat di makam kerajaan tadi, di istana ini kami melihat ada banyak penjaga istana atau guide. Mereka selalu siap membantu pengunjung hanya untuk sekedar berfoto ataupun menceritakan sejarah dari benda-benda koleksi istana.

Arsitektur Eropa tampak mendominasi ruang interior lantai satu Istana Siak. Dengan lampu-lampu kristal yang besar dan dinding yang ditempeli cermin-cermin yang panjangnya kurang lebih 3 meter dan lebar sekitar 1 meter. Foto: Abdul Ronny / tripriau.com

Di istana ini kita akan melihat patung-patung yang terletak di tengah-tengah ruangan yang menghadap langsung ke arah pintu masuk.

Patung-patung tersebut merupakan skema bagaimana sultan-sultan pada masa dahulu mengadakan rapat atau pertemuan untuk memusyawarahkan suatu hal di Balai Kerapatan.

Istana Siak yang kita kenal saat ini dulunya merupakan kantor atau pusat pemerintahan kerajaan Siak. Sementara tempat tinggal sang Raja berada di Istana Peraduan yang letaknya tidak jauh dari Istana Siak ini.

Istana Siak terdiri dari dua lantai dengan berbagai barang-barang peninggalan kerajaan Siak tersimpan di dalamnya.

Saat masuk ke ruangan yang ada di lantai pertama, arsitektur Eropa tampak mendominasi. Dengan lampu-lampu kristal yang besar dan dinding yang ditempeli cermin-cermin yang panjangnya kurang lebih 3 meter dan lebar sekitar 1 meter.

Konon cermin-cermin besar ini berfungsi untuk memantulkan cahaya dari lampu kristal yang pada zaman dahulu masih menggunakan bahan bakar minyak. Tujuannya agar ruangan bisa jauh lebih terang.

Sebuah cermin yang bentuknya sangat unik dan cantik sekali kembali menarik perhatian. Cermin yang berbentuk segi enam ini terlihat makin cantik dengan tambahan ornamen cermin-cermin cembung berukuran kecil di sekelilingnya.

Cermin ini dinamakan cermin permaisuri. Mitosnya, bila wanita yang bercermin di sini bisa awet muda dan terlihat cantik. Mitos tentang cermin permaisuri ini juga menjadi daya tarik tersendiri ketika berkunjung ke Istana Siak.

Buktinya, dengan mengesampingkan rasa percaya atau tidak pada mitos tersebut, saya pun ikut mencoba bercermin di cermin permaisuri seperti yang banyak pengunjung lain lakukan.

Masih di lantai yang sama kita akan menemukan ruang rapat. Ada meja panjang dengan banyak kursi-kursi tertata rapi di sampingnya. Dan tentu saja ada singgasana raja yang kursinya berbeda dengan kursi-kursi yang ada di meja itu. Bahkan kursi raja tersebut sangat dijaga keberadaanya dengan meletakkannya di dalam kotak kaca.

“Nah, di ruangan ini, biasanya kalau ada yang ingin dimusyawarahkan mereka membicarakannya di sini. Sambil mendengarkan penjamuan alat musik tradisional yang terletak di ujung sana, namanya Komet,” ujar Pak Yulianto, yang sudah 20 tahun menjadi pemandu di Istana Siak ini sembari mengarahkan saya ke arah alat musik tersebut.

Menurut informasi Yulianto, Komet ini merupakan alat musik terbesar di dunia dan hanya tinggal dua di dunia. Yang satu berada di Jerman yaitu tempat di mana komet ini diproduksi. Sementaranya satunya lagi ada di Istana Siak ini.

Seniman sedang memainkan alat musik tradisional (Masih di dalam kompleks Istana Siak), menjadi rutinitas sebelum acara pementasan yang biasanya diselenggarakan setiap akhir pekan. Foto: Abdul Ronny / tripriau.com

Alat pemutar musik ini sebenarnya masih bisa berfungsi, namun hanya dibunyikan ketika acara-acara tertentu, yakni ketika ada tamu penting datang. Ini untuk menjaga nilai sejarah yang ada pada Komet.
Naik ke lantai dua, pengunjung akan bertemu tangga melingkar yang tingginya sekitar 5 meter dengan ukiran-ukiran khas Melayu dan berwarna kuning.

Berbeda dengan lantai satu, arsitektur di lantai dua lebih terasa nuansa Melayunya dengan jendela-jendela dan pintu-pintu kayu berwarna hijau dan kuning.

Di lantai ini kami banyak menemukan barang-barang peninggalan kerajaan yang dulunya dipakai setiap hari di Istana Siak ini.

Seperti dulang (Talam) untuk menyajikan makanan, krengseng (panci/kendi besar) untuk menanak nasi dan memasak air, lilin lebah untuk cahaya penerangan, ikat kepala asli tenunan Siak yang terbuat dari ulat sutra, bahkan senjata-senjata perang seperti tombak.

Penulis: Wulan Fitria
Editor: Rio Sunera



Tags:  -