Jelajah Siak Sri Indrapura hingga Bukit Batu Laut (2)

By Trip Riau  |  03 Februari 2016 14:20:10 WIB  |  Wisata Riau

Bukit Batu Laut, salah satu spot terbaik menikmati sunrise di Ujung Timur Pulau Sumatera. Foto: Abdul Ronny / tripriau.com

Tripriau.com - Puas menjelajah wisata sejarah di Siak Sri Indrapura, kami melanjutkan perjalanan. Destinasi selanjutnya adalah Desa Temiang yang berada di Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis.

Butuh lebih kurang 3 jam perjalanan untuk sampai di desa ini.

Desa Temiang bisa kita sebut sebagai gerbang menuju lokasi Cagar Biosfer Giam Siak Kecil (GSK) Bukit Batu.

Kami bertolak dari Desa Temiang untuk mengitari sungai air hitam. Agar tempat ini terkenal dan bisa mendunia, kami menyebutnya dengan Black Water River.

Seperti namanya, Black Water River ini memiliki air yang berwarna hitam pekat seperti kopi, namun air ini sangat jernih dan tidak berbau.

Kawasan sungai air hitam inilah yang membanggakan Riau karena tercatat sebagai salah satu dari 22 cagar biosfer dunia yang disahkan oleh UNESCO sebagai warisan dunia pada tahun 2009.

Sungai air hitam menuju Core Area cagar biosfer Giam Siak Kecil, menuju tempat ini salah satunya bisa melewati Desa Temiang. Foto: Abdul Ronny / tripriau.com

Memasuki area cagar biosfer ini pemandangan didominasi oleh pohon Rasau. Pohon Rasau ini terlihat seperti daun pandan raksasa namun mempunyai buah yang mirip seperti nangka berduri.

Saya sarankan, bila kesini jangan lupa memakai topi dan baju lengan panjang sebagai pelindung, karena sesekali kita akan melewati sungai yang kecil dan sempit.Sehingga, pohon-pohon Rasau ini siap kapan saja melukai bagian tubuh kita.

Kami menyempatkan berhenti di beberapa titik bekas pembakaran hutan untuk menanam pohon di area tersebut. Teriknya matahari seakan membakar semangat kami untuk membuat hutan ini kembali menjadi sejuk.

Setelah menanam pohon kami melanjutkan perjalanan mengitari Black Water Riverkemudian berhenti sebentar di Sundak Research Shelter.

Sundak Research Shelter merupakan tempat peristirahatan para pengunjung ataupun peneliti yang datang berkunjung ke kawasan Cagar Biosfer ini.

Sundak Research Shelter terlihat seperti sebuah pondok kayu terapung yang menambah eksotisme sungai air hitam.

Sambil beristirahat sejenak, udara yang sejuk membuat saya terkantuk-kantuk dan betah berlama-lama disini. Namun perjalanan pulang ke Desa Temiang mesti dilanjutkan sebelum matahari tenggelam di ufuk Barat.

Butuh waktu kurang lebih 2,5 jam untuk sampai di Desa Temiang lagi jika menggunakan pompong. Jika dihitung-dihitung lebih kurang 6 jam waktu kami habiskan untuk berpetualang di Black Water River.

Di sepanjang perjalanan, baik pulang maupun pergi kami banyak bertemu dengan satwa-satwa liar yang tinggal di area konservasi tersebut.

Semakin sore, semakin banyak yang mulai menampakkan diri.Seperti monyet-monyet yang duduk di atas pohon sambil mencari kutu, burung Paruh Udang yang terbangnya sangat cepat sekali sehingga saya hanya samar-samar melihat bulunya yang berwarna merah dan biru tersebut.

Menakjubkannya lagi, dibeberapa titik yang dilalui rombongan, kami disambut oleh suara serangga Ngiang-ngiang (Chicada) yang diperkirakan berjumlah ribuan.

Saya tidak melihat satu pun wujudnya, tetapi saya yakin alunan suara yang konstan dan harmoni bak pertunjukan orkestra itu, sedang menyambut kedatangan kami.

 

Bukit Batu Laut, Tempat Mengenang Laksmana Raja di Laut

Laksmana raja di laut//Bersemayam di Bukit Batu//Ahai Hati siapa

Ahai tak terpaut//Mendengar lagu syair melayu

Banyak dari kita pasti sangat familiar dengan penggalan lirik lagu di atas yang dipopulerkan salah satu pedangdut dari Bumi Lancang Kuning ini.

Dan, kini kami menginjakkan kaki di Dusun Muara Laut, Desa Bukit Batu atau yang dikenal dengan Bukit Batu Laut, daerah yang diceritakan di dalam lagu tersebut.

Dusun Muara Laut atau dikenal dengan Bukit Batu Laut. Foto: Abdul Ronny / tripriau.com

Tempat ini kami capai setelah melakukan perjalanan lebih kurang 2 jam menggunakan pompong dari Desa Temiang.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB saat kami tiba. Tidak terlalu banyak penerangan di pelabuhan dusun yang berseberangan dengan Kota Bengkalis ini. Tetapi masyarakatnya tetap menyambut kami dengan ramah.

Kami disajikan makan malam bahkan tempat menginap di rumah-rumah warga.Saya dan rombongan wanita lainnya menginap di sebuah rumah warga yang berbaik hati menerima kedatangan kami.  

Pagi hari, ketika matahari baru saja tampak di ufuk timur, saya langsung bertandang ke pelabuhan. Mungkin karena tiba pada malam hari, saya tidak menyadari betapa indahnya tempat ini.

Semua rumah penduduk di Dusun Bukit Batu Laut ini terapung di atas air. Rumah kayu warna-warni yang terapung ini saling terhubung dengan jembatan yang membentuk seperti jalan antara satu rumah dengan rumah disebelahnya.

Hal yang membuat saya kagum adalah kebersihan dari tempat ini. Benar kata seorang teman yang pernah datang ke sini, Bukit Batu Laut tak hanya memancarkan aura keindahan tapi juga bersih, rapi dan terjaga.

Dulunya, Bukit Batu Laut merupakan tempat pangkalan militer Laksamana Raja di Laut. Jika ada kerajaan lain yang ingin menyerang Siak, maka mereka harus berhadapan dahulu dengan masyarakat Bukit Batu Laut.

Dulu, tempat ini tidak terapung di air seperti ini. Mereka masih memiliki daratan, namun karena abrasi air laut yang terjadi dari tahun ke tahun, maka daratan pun berubah menjadi lautan.

Sebagian besar kaum wanita di Bukit Batu Laut membuat kain tenun khas Melayu Riau. Foto: Abdul Ronny / tripriau.com

Disini hampir setiap rumah mempunyai alat tenun sendiri. Dan masyarakat Bukit Batu Laut membuat kain tenun khas Siak secara manual.

Dari proses penggulungan benang hingga proses menenun semua tidak memakai mesin, sehingga dinamai dengan‘’Rumah Tenun ATBM’’ (Alat Tenun Bukan Mesin).

Untuk satu helai kain tenun bisa dikerjakan dalam kurun waktu 3-4 hari.Motif-motifnya beragam.Ada motif siku keluang, pucuk rebung, motif bunga, motif buah dan masih banyak lagi.

Harga sehelai kain tenun sepanjangdua meter dihargai Rp400 ribu sampai Rp600 ribu.Tergantung kerumitan motifnya. Harga segitu tentu sebanding dengan proses menenun yang semuanya serba manual dan memiliki kerumitan yang tinggi, namun berkualitas.

Jika Anda berkunjung ke Bukit Batu Laut, sempatkanlah untuk membeli kain tenun buatan masyarakat ini sebagai oleh-oleh. Selain mendapatkan produk tenun yang berkualitas Anda juga ikut membantu masyarakat Bukit Batu Laut dalam melestarikan budaya dan meningkatkan ekonominya.

Penulis: Wulan Fitria
Editor: Rio Sunera



Tags:  -