Ngopi Sambil Menikmati Barang Antik di Gale Pekanbaru

By Trip Riau  |  11 Februari 2016 13:08:57 WIB  |  City Guide

Dilantai satu Gale Kopi dan Kakao merupakan tempat yang disediakan bagi pengunjung untuk menikmati minuman coklat. Foto: Rio Sunera / tripriau.com

Pekanbaru, tripriau.com – Nongkrong di Gale Kakao dan Kopi tidak hanya soal menikmati cita rasa kopi dan nikmatnya coklat. Pengunjung juga bisa menikmati beragam koleksi barang antik dan menggali banyak cerita. Berada di Gale bak sedang berada di sebuah Galeri Seni.

Cafe satu ini cukup unik. Menempati sebuah bangunan dua lantai di Jalan Dwikora, nomor 3A, Gobah, Pekanbaru.

Cafe satu ini cukup unik. Menempati sebuah bangunan dua lantai di Jalan Dwikora, nomor 3A, Gobah, Pekanbaru. Foto: Abdul Ronny / tipriau.com

Kesan unik sudah tampak pada bagian depan bangunan. Sebuah replika kamar telefon umum dan beberapa buah sepeda ontel terpajang di bagian depan ini. Deretan meja kursi dari kayu menambah kesan tempo dulu.

Di bagian dalam cafe, suasana galeri seni makin terasa. Barang-barang antik terpajang rapi di sudut, rak, hingga tembok. Sentuhan-sentuhan seni dari si pemilik begitu terasa.

‘’Konsep kita sebenarnya simple gallery. Galeri pribadi. Kita kolektor barang unik, karena barang ini jarang dijumpai. Sebenarnya bukan barang antik. Sebab, secara tahun gak terlalu tua. Kisaran 90an, tapi kita modifikasi seakan-akan kelihatan tua,’’ kata Tengku Ferly Hamdani Assegaf (24), si pemilik.

Gale Kakao menyediakan 23 varian minuman coklat. Mulai dari classic, special dan fruity. Foto: Abdul Ronny / tripriau.com

Di salah satu sudut, pengunjung bisa menikmati sepeda mesin jenis roundtank modifikasi tahun 90an, sepeda tandem yang dulunya milik salah satu kolektor sepeda ontel di Pekanbaru, hingga prototype sepeda pada awal-awal diciptakan.

Di rak sederhana yang terbuat dari kayu juga dipajang beberapa benda-benda unik hasil koleksi sang owner. Mulai dari cincin bermotif tengkorak, kotak cerutu, majalah bekas, kapal otok-otok, dan banyak lagi.

Sementara, di sisi dinding bagian kanan terpajang tiga buah lukisan karya abdi dalem Jogja. Lukisan ini dibelinya saat kuliah di kota pendidikan itu.

Berjalan menyusuri lorong hingga ke belakang, kita akan menemukan dua unit vespa dan motor mini yang juga merupakan koleksi si empunya cafe ini. Vespa yang dibelinya di Jogja ini dimodifikasi ala Inggris.

Bahkan, hingga toilet pun tidak lepas dari sentuhan tangan dan jiwa seni dari Ferly. Dan rata-rata barang-barang di sini kesemuanya fungsional.  

‘’Sebenarnya suka seni. Pertama kali suka seni waktu di Jogja. Waktu itu ada eksul (esktrakurikuler), ada teater. Mulai dari situlah kenal seni. Sampailah bikin band, main musik, bikin project. Pada dasarnya suka musik. Barang-barang yang punya cerita itu emang suka,’’ katanya kepada tripriau.com.

Ferly bercerita, tujuannya menampilkan koleksi pribadi karena saat kerja ingin dekat dengan barang-barang kesukaan.  

‘’Dulu niatnya kerja itu dekat dengan barang-barang kesukaan. Kita ego-ego pribadi aja. Mungkin karena kita owner tunggal. Banyak unsur-unsur Ferly di dalam ini. Sampai ke pajangannnya. Dari pada di letak rumah atau di gudang. Ditambah lagi orang-orang Pekanbaru suka sama spot-spot foto,’’ tutur alumni UGM Yogyakarta ini.   

Di lantai satu ini, juga disediakan area lesehan. Di sebuah ruangan kecil berukuran 2 x 2,5 meter. Lantainya beralaskan karpet. Di ruangan ini terpajang beragam koleksi kamera. Mulai dari kamera film tua hingga playcam atau Kamera Lomo.

Salah satu ruang di Gale Kakao yang memajang koleksi kamera lama. Foto: Abdul Ronny / tripriau.com

Ferly mengatakan, setelah Gale berjalan, banyak perubahan-perubahan yang terjadi. Di lantai satu ini misalnya, disebut dengan Gale Kakao.  

Di Gale Kakao ini kita bisa menikmati 23 varian minuman coklat. Mulai dari classic, special dan fruity. Ada panas dan dingin dengan racikan berbeda sesuai dengan namanya.

‘’Di classic kita mengangkat kita mengangkat cita rasa dasar coklat,’’ sebutnya.

Paling favorit adalah Classic Bitter. Sebab, minuman coklat ini seimbang antara pahit coklat dan manisnya susu. ‘’Alhamdulillah dan emang itu yang dicari orang,’’ katanya.

Beranjak ke lantai 2, ada Gale Kopi. Khusus untuk penikmat kopi. Mengusung konsep lesehan.

Kopi dan coklat sengaja dibuat terpisah. Menurut Ferly, tidak semua orang mau diajak bercerita tentang kopi. ‘’Gak semua orang mau bercerita tentang kopi. Kan aku lagi minum coklat,’’ katanya.

Berbagai benda unik masih terpajang di Gale Kopi ini. Mulai dari gramophone, radio tua, koper, hingga uang-uang lama.

Selain beragam barang-barang koleksi, tampilan Gale sebenarnya sangat sederhana. Bar hingga meja dan kursinya pun cuma dibuat dengan modal minim. Dengan memanfaatkan kayu bekas sawmill.

Gale Kopi yang berada dilantai dua yang menawarkan pengunjung untuk minum kopi sambil lesehan. Foto: Abdul Ronny / tripriau.com

Namun, keseriusan Gale bisa dilihat dari mesin dan alat-alat kopinya. ‘’Sebenarnya pun bukan alat yang paling mahal di pasaran. Tapi, ketika kita pake alat-alat yang mahal, kualitas kopi juga akan enak. Tinggal gimana kita meraciknya aja lagi. Untuk metode cucur saring, di Pekanbaru alat kita cukup lengkap, mulai buatan Jerman sampai Jepang,’’ sambungnya.

Bercerita tentang kopi sambil lesehan di atas lantai kayu, memberikan nuansa tersendiri saat berada di Gale Kopi ini. Anda bisa memesan segelas kopi dengan metode Tubruk, Peras, ataupun Cucur Saring. Yuk, ke Gale!

Penulis: Rio Sunera  



Tags:  -