Siak Bisa Menjadi Kota Pusaka dan Cagar Budaya Nasional

By Trip Riau  |  15 Februari 2016 22:02:03 WIB  |  Wisata Riau

Masjid Syahabuddin yang berada tidak jauh dari Istana Siak. Foto: Abdul Ronny / tripriau.com

Siak, tripriau.com – Keinginan Siak menjadi Kota Pusaka serta Cagar Budaya Nasional bisa terwujud. Sebab, Siak punya banyak hal yang tak dimiliki daerah lain.

Hal itu dikatakan, Kepala Kelompok Kerja (Pokja) Pemugaran BPCB Sumbar, Nedik Tri Nurcahyo.

Menurut Nendik, salah satu yang menonjol adalah istana dan adat istiadat Melayu yang kental. Hal ini diwarnai pula dengan akulturasi budaya yang bagus antara Cina dan pribumi.

Magister Pengelolaan Sumber Daya Budaya jebolan Universitas Gadjah Mada ini mengatakan, keberagaman menjadi sebuah kekuatan besar di Siak. (Baca juga: Modal Siak Menjadi Kota Pusaka )

“Akulturasi tadi menghasilkan kondisi seperti sekarang, luar biasa. Kelihatan sekali bahwa Raja Siak tidak menutup mata dengan bangsa lain. Dia justru welcome. Secara keilmuan dan secara pribadi saya kagum dengan Siak. Orang dulu membangun hubungan tak melihat dari sisi agamanya. Mereka malah berbaur. Di daerah lain banyak yang alergi rumah ibadah berdekatan. Di Siak justru tidak ada sama sekali,” katanya.  

Untuk menjadi Cagar Budaya Nasional, lelaki 47 tahun ini menyarankan supaya istana menjadi semacam komplek. 

“Artinya, istana satu komplek dengan masjid Syahabuddin, Balai Kerapatan, makam dan pasar lama. Ini menjadi satu kesatuan sejarah kolektif,” katanya di Siak Sri Indrapura, Kamis (11/02) lalu.  

Lalu untuk menjadi Kota Pusaka, dia menyebut kalau Siak punya banyak hal yang bisa diandalkan.

Tata letak perkantoran, jembatan yang super megah, kekunoan masa lalu dan hutan tua di tengah kota,  menjadi sesuatu yang sangat eksotis bagi wisatawan kelak.  

Penempatan bangunan-bangunan Belanda di seberang sungai yang berhadapan dengan Istana Siak juga disebut Nedik sangat menarik.

“Di lihat dari tata ruang, sultan kayaknya sudah mengkondisikan. Bahwa di antara keduanya sama-sama saling mengawasi, tapi tak ada konfrontasi. Ini sama kayak di Yogya. Di seberang keraton ada benteng Belanda. Yang kayak gini ini kan unik,” katanya. ( Baca juga: Menata Pusaka Negeri Istana )

Nedik mengingatkan, bahwa pusaka itu tak harus spesifik. Bisa kekunoan yang sangat penting bagi masyarakat, bisa pusaka alam, budaya atau saujana budaya (perpaduan antara alam dan budaya).

‘’Yang paling penting, semua pemangku kepentingan mesti ngumpul dulu untuk menentukan apa yang bakal dimasukkan dalam Kota Pusaka itu,’’ paparnya.  

‘’Pusaka apa saja yang bakal ditonjolkan dan menjadi beda dengan daerah lain. Dan harus disepakati juga, bahwa kelak pusaka itu tak akan hilang. Sebab kalau hilang, tidak pusaka lagi namanya,” ujar Nedik.  

Nendik melanjutkan, sejak sekarang menjadi Cagar Budaya dan Kota Pusaka, akan membikin Siak semakin kemilau di masa depan. Dan semua itu akan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat. Daya tarik lebih yang dimiliki Siak, sudah mendatangkan devisa dari kunjungan wisatawan yang semakin melimpah.  

“Ini pulalah bedanya Siak dengan daerah lain. Sebelum benar-benar menjadi kota besar, Siak sudah menata daerahnya. Banyak daerah di dunia yang setelah maju dulu baru terseok-seok mencari jati dirinya. Asal usulnya,” ujar Nedik.(rls)

Editor: Rio Sunera



Tags:  -