Mengenal Festival Perang Air di Selat Panjang

By Trip Riau  |  16 Februari 2016 14:23:27 WIB  |  Wisata Riau

Festival Perang Air di Selat Panjang. Foto: Facebook Disparekraf Riau

Pekanbaru, tripriau.com – Kota Selatpanjang, Kepulauan Meranti, Riau ternyata memiliki festival unik, yakni Cian Cui. Berasal dari bahasa Mandarin yang berarti ‘’perang air’’.

Selama ini, tradisi perang air hanya dikenal di negara Asia Tenggara lainnya, yakni Thailand. Di negeri Gajah Putih, festival ini dikenal dengan Sokran.

Bila di Thailand digelar cuma sehari, maka di Selatpanjang tradisi perang air digelar selama enam hari. Mulai dari Imlek hari pertama hingga hari ke enam.

Kemeriahan hingga kehebohan mewarnai Kota Selatpanjang enam hari lamanya, selama Cian Cui digelar. Beberapa ruas jalan di Kota Sagu menjadi pusat dari perayaan ini.

Jalanan di dalam kota yang cukup sempit dengan barisan rumah toko di kiri dan kanan jalan, tampak ramai tiap kali Cian Cui digelar. 

Begitu jarum jam menunjukan pukul 04.00 sore, festival dimulai. Perang air terlihat di sepanjang jalan. Watergun, air kemasan, hingga kompresor menjadi senjata dalam perang air ini.

Siapapun yang melintas, mesti rela diserang dengan air dan berbasah-basah.

Kebanyakan mereka yang melintasi jalanan kota menggunakan becak motor, mesti siap-siap menerima serangan dari warga yang berjejer di tepi jalan. Aksi balasan pun muncul dari atas becak. ‘’Perang’’ pun pecah.

Kepala Seksi Pengembangan Pasar Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Riau, Yul Achyar yang hadir pada festival ini mengaku, bahwa iven ini sangat unik.

Berbeda dengan Festival Pacu Jalur di Kuantan Singingi, di mana wisatawan cuma jadi penonton, di Cian Cui pengunjung bisa ikut terlibat dalam aksi perang air.

‘’Wisatawan bisa ikut berinteraksi. Ikut perang-perangan juga,’’ sebutnya. 

Dia mengatakan, sebagai sebuah potensi wisata, Cian Cui akan sangat cantik bila dikelola dengan baik.

‘’Banyak wisatawan yang hadir. Ekonomi masyarakat bergulir. Tukang becak misalnya, bisa dapat Rp 150 ribu sekali putaran,’’ tambahnya.

Yul menyebut, lebih kurang 20 ribu wisatawan datang ke Selatpanjang selama festival digelar.

Selain wisatawan domestik, sebagian besar mereka merupakan warga perantauan asal Selatpanjang yang berasal dari berbagai negara. Seperti Malaysia, Singapura, Hongkong dan juga Macau.

Tahun depan, rencananya iven ini akan mendapat dukungan dari Kementerian Pariwisata.

‘’Kita komunikasi dengan Deputi Pengembangan Pariwisata Mancanegara (Kementerian Pariwisata RI), kita minta di support jadi iven nasional.  Kementerian biasanya support branding, publikasi dan promosi,’’ katanya kepada tripriau.com, Senin (15/2) di Pekanbaru. 

Penulis: Rio Sunera



Tags:  -