Ketika Direktur Kebudayaan TMII Mengaku Salut dengan Bupati Siak

By Trip Riau  |  27 Februari 2016 10:26:07 WIB  |  News

Tasik Naga Sakti yang ada di Kabupaten Siak. Foto: Humas Pemkab Siak for tripriau.om

Siak, tripriau.com – Upaya Bupati Siak Syamsuar membangun dan mengembangkan pariwisata Siak yang berbasis kebudayaan Melayu mendapat pujian Direktur Kebudayaan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Ade F Meliala.

Termasuk di dalamnya upaya sang Bupati menjaga tradisi dan budaya di ‘’Negeri Istana’’ di tengah laju modernisasi.

“Ini luar biasa. Banyak orang yang hanya berfikiran jangka pendek soal pengembangan pariwisata. Paling lima tahun. Ini tidak. Bapak berfikir jauh ke depan. Saya salut,” kata perempuan ini saat menggelar pertemuan di Zamrud Room komplek rumah dinas bupati Siak di kawasan jalan Raja Kecik, Siak Sri Indrapura, Kamis (25/2) malam.  

Ade yang sudah kali kedua datang ke Siak mengaku, dia bersama rombongan sudah berkeliling Kota Siak.

Menurutnya, Kota Siak semakin indah, kota yang luar biasa. Tak hanya indah, tapi Siak punya roh untuk lebih maju lagi.  

Sebelumnya Syamsuar bercerita panjang lebar soal asal mula kerajaan Siak yang dibangun pertama kali oleh Raja Kecik pada tahun 1723 silam. Dia juga berbagi cerita soal potensi besar yang ada di Kabupaten Siak yang bisa dijual hingga ke mancanegara.

Ada peninggalan sejarah seperti Istana Siak, Tangsi Belanda, gudang mesiu, sejumlah museum, makam para raja dan sederet peninggalan sejarah lain.  

Siak juga punya sejumlah tasik, hutan alam seperti Cagar Biosfer, Suaka Margasatwa Zamrud dengan danau unik yang punya pulau yang bisa berpindah-pindah.

“Kami sudah mengusulkan kawasan ini menjadi Taman Nasional Zamrud. Mudah-mudahan segera terwujud. Sebab di jaman Presiden SBY persis saat meresmikan jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah, kawasan ini sudah diresmikan sebagai Taman Nasional Zamrud. Tapi secara administrasi sampai sekarang belum kelar,” katanya.  

Syamsuar menambahkan, jika kelak menjadi Taman Nasional, potensi yang ada di sana akan bisa digarap maksimal sebagai kawasan ekowisata dan konservasi yang bisa meningkatkan ekonomi masyarakat. Dan jika sudah jadi taman nasional, Pemkab Siak pun akan bisa membikin zonasi.  

Lantas, ada lagi objek wisata buatan semacam sumur minyak bersejarah di Minas dan Pusat Latihan Gajah (PLG) di Minas yang berdekatan dengan Taman Hutan Raya (Tahura).

“Makanya saya bilang sama banyak orang. Di Siak mau sebentar apa mau lama? Mau sebentar kami punya sumur minyak bersejarah dan PLG tadi. Sangat dekat dengan Pekanbaru,” katanya.    

Untuk mengembangkan semua potensi tadi, Pemkab Siak kata Syamsuar sudah membikin Grand Design pengembangan kebudayaan Melayu. Ini sengaja dibikin supaya saat berganti pimpinan, rencana pengembangan kebudayaan tadi tidak berubah.  

Pembenahan-pembenahan kata Syamsuar juga sudah dilakukan. Mulai dari restorasi tempat-tempat bersejarah tadi, pembinaan kampung-kampung adat, memasukkan kurikulum kebudayaan melayu di sekolah, hingga pembangunan dan penataan sejumlah museum sudah dilakukan.

“Kami lakukan semuanya berbasis kebudayaan. Dan ini juga sejalan dengan misi Pemprov Riau,” katanya.(rls)

Editor: Rio Sunera



Tags:  -