Pawai Ogoh-ogoh dan Ritual Menyucikan Alam Semesta

By Trip Riau  |  10 Maret 2016 09:48:32 WIB  |  Feature

Sehari menjelang perayaan Nyepi atau Tahun Baru Saka 1938, ratusan umat Hindu di Pekanbaru mengikuti tradisi Pawai Ogoh-ogoh. Foto: Muhammad Ridho / tripriau.com

Pekanbaru, tripriau.com – Sehari menjelang perayaan Nyepi atau Tahun Baru Saka 1938, ratusan umat Hindu di Pekanbaru mengikuti tradisi Pawai Ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh yang disimbolkan dengan boneka atau patung berwajah seram, sebagai manifestasi dari sifat negatif ini diarak dan kemudian dibakar.

Pawai Ogoh-ogoh dilaksanakan setelah berakhirnya upacara Mecaru yang digelar di depan Pura Agung Jagatnatha. Pawai ini menjadi bagian dalam upacara Bhuta Yadnya.

Dua buah boneka yang dipersepsikan sebagai Butakala sudah berdiri di bagian depan pura. Sebuah boneka besar berwarna putih dan satunya lagi berwarna hitam dengan ukuran lebih kecil.

Menjelang magrib arak-arakan dimulai. Menyusuri rute Jalan Sudirman-Arifin Ahmad-Rawa Bening dengan berjalan kaki dan kemudian berakhir kembali di Pura Agung Jagatnatha.Barisan Anak-anak pembawa obor yang nantinya akan digunakan untuk membakar ogoh-ogoh. Foto: Muhammad Ridho / tripriau.com

Ogoh-ogoh dipikul oleh beberapa pria. Para wanita yang terdiri dari ibu-ibu dan anak-anak tampak memegang obor. Sorak-sorai menggema sepanjang jalan. Makin bersemangat dengan bunyi-bunyian beragam alat musik, seperi gong, ceng-ceng, gendang serta gamelan. Aroma dari dupa yang dibakar menghadirkan bau semerbak.

Tiap melewati persimpangan Ogoh-ogoh digoyang, diputar, serta dihentak-hentakkan penuh semangat.  

Tradisi Pawai Ogoh-ogoh berlangsung semarak dan berhasil menarik perhatian masyarakat Pekanbaru. Ditiap jalan yang dilalui, terlihat warga berhenti lantas mendokumentasikan pawai ini dengan ponsel pintarnya.Tradisi Pawai Ogoh-ogoh berlangsung semarak dan berhasil menarik perhatian masyarakat Pekanbaru. Muhammad Ridho / tripriau.com

Saat memasuki pertigaan Jalan Sudirman-Arifin Ahmad, hari mulai gelap. Obor-obor makin menyala terang. Ratusan peserta arak-arakan pun makin bersemangat. Sorak-sorai sebagai penyemangat tak henti terdengar.

Sekitar pukul 19 lebih 10 menit rombongan pawai tiba di Pura Agung Jagatnatha. Ogoh-ogoh langsung dibawa ke halaman belakang Pura. Di tempat inilah Ogoh-ogoh dibakar beramai-ramai.

Setelah menunggu beberapa saat, beberapa orang mulai mengarahkan obornya ke Ogoh-ogoh. Api langsung berkobar begitu menyentuh pakaian yang membungkus Ogoh-ogoh tersebut. Sorak-sorai pun kembali terdengar.Pawai berakhir dengan acara pembakaran ogoh-ogoh yang memiliki makna menghilangkan jiwa-jiwa kasar, jiwa keras yang ada di dalam diri. Foto: Muhammad Ridho / tripriau.com

Ketua Pelaksana kegiatan-kegiatan umat Hindhu 2016 I Wayan Winada menjelaskan, Ogoh-ogoh ini mempunyai makna untuk menyucikan alam semesta. Ogoh-ogohnya sendiri mencirikan raksasa dan kemudian dibakar untuk menghilangkan sifat-sifat buruk dalam diri.  

‘’Jadi kita menghilangkan jiwa-jiwa kasar, jiwa keras, jiwa-jiwa yang murka. Makanya setelah kita tadi pawai Ogoh-ogoh itu dibakar agar sifat-sifat yang jahat tadi bisa kita hilangkan. Sehingga, pada pelaksanaan Nyepi nanti, alam ini bisa dalam keadaan bersih sehingga bisa melaksanakan penyepian itu dalam keadaan tenang,’’ katanya.

Penulis: Rio Sunera

 



Tags:  -