Denyut Nadi Para Penjual Sayur

By Trip Riau  |  11 Maret 2016 10:59:05 WIB  |  Feature

Bapak Hutasoit salah seorang penjual sayur di Jalan Kertama, Marpoyan Damai, Pekanbaru. Foto: Muhammad Ridho / tripriau.com

Pekanbaru, tripriau.com – Seorang perempuan muda terlihat menghampiri sebuah lapak sayur. Setelah mengambil beberapa ikat sayur dan sebiji buah nenas segar, dia membayar semua belanjaannya. Transaksi berakhir saat sang pedagang menyerahkan pecahan uang ribuan sebagai kembalian.

Pemandangan itu terjadi di sentra sayur-mayur yang terletak di Jalan Kertama, Marpoyan Damai, Pekanbaru.

Di kawasan ini, selain kebun sayur-mayur yang cukup luas, belakangan juga tumbuh lapak-lapak penjual sayur. Mereka mendirikan lapak-lapak dipinggir jalan bermodalkan penyangga kayu, atap terpal, dan meja-meja dari kayu bekas.  

Beragam sayur-mayur dijual di lapak-lapak ini. Seperti kangkung, bayam, selada, pepaya, jagung, kacang panjang, petai, talas, hingga keladi.

Semua sayur-mayur ini dipasok dari kebun-kebun yang bertebaran di kawasan ini. Kecuali beberapa komoditas seperti Ubi Ungu yang mesti dipasok dari Sumatera Barat.

Saat sore tiba, kawasan ini makin ramai. Para pekerja yang kebetulan melintasi jalan ini banyak yang singgah membeli sayur-mayur. Saat sore pula, sebuah sungai kecil didekat lapak dipenuhi orang-orang yang mencuci sayur.Salah seorang pembeli sedang membayar belanjaannya. Foto: Muhammad Ridho / tripriau.com

Hutasoit (36), salah satu pedagang menuturkan, kawasan ini sudah mulai ramai tiga tahun terakhir. Sebagian besar pedagang disebutnya merupakan warga yang berdomisili di sekitar kawasan.

Perantau asal Tarutung, Sumatera Utara ini mengaku tiap hari membuka lapaknya mulai jam 7 pagi dan baru tutup pukul 10 malam. Sayur-mayurnya dipasok dari berbagai tempat. ‘’Yang paling banyak ya dari kebun-kebun di sekitar sini,’’ ucapnya.

Hutasoit datang ke Pekanbaru pada tahun 1998. Dulunya dia bekerja sebagai operator alat berat. Dia sempat juga bekerja di Kalimantan saat illegal logging mulai marak.

Ketika pelaku pembalakan liar mulai terjepit, dia memutuskan balik ke Pekanbaru dan ikut istrinya yang berjualan sayur. 

Sehari, dia mengaku bisa mengantongi omset Rp 700-800 ribu rupiah. ‘’Omset rata-rata tiap hari sekitar Rp 700 sampai 800 ribu. Pembeli kita selain orang-orang yang lewat, juga banyak langganan. Kalau sayur tidak laku terjual, ya terpaksa kita buang. Namanya resiko berjualan,’’ katanya dengan logat Batak yang kental.

Sayur-mayur yang dihasilkan di kawasan ini cukup besar. Banyak kebutuhan sayur-mayur di pasar-pasar tradisional di Pekanbaru dipasok dari sini. Seperti Pasar Pagi Arengka, Pasar Kodim dan lainnya.

Penulis: Rio Sunera



Tags:  -