Rudi Sinaga: Rogoh Miliaran Rupiah Demi Majukan Sepakbola

By Trip Riau  |  14 Maret 2016 14:34:01 WIB  |  -

Rudi Sinaga (47), seorang pengusaha sukses di Pekanbaru punya mimpi besar untuk memajukan sepakbola Indonesia. Foto: Abdul Ronny / tripriau.com

Pekanbaru, tripriau.com – Rudi Sinaga (47), seorang pengusaha sukses di Pekanbaru punya mimpi besar untuk memajukan sepakbola Indonesia. Sebuah langkah besar sudah dimulainya, yakni membangun sebuah akademi sepakbola dengan fasilitas terbaik di Indonesia.

Dia tak sekedar ingin berbuat untuk sepakbola. Di Tiga Naga Football Academy miliknya, Rudi juga menyediakan ‘pintu’ bagi pesepakbola berbakat yang berasal dari keluarga kurang mampu untuk lepas dari jerat kemiskinan.

Rudi membangun sebuah sarana latihan representatif dan berstandar internasional. Bisa dibilang, salah satu yang terbaik di Indonesia. Para siswa di-support penuh. Semua fasilitas, mulai dari pendidikan, makan, nutrisi, hingga kesehatan disediakan secara cuma-cuma alias gratis.

(Baca juga: Melihat Training Ground Standar Internasional Milik Tiga Naga Footbal Academy)

Miliaran rupiah dia rogoh dari kantong pribadinya untuk membangun akademi sepakbola yang berlokasi di Panam, Pekanbaru ini. Dari Tiga Naga Footbal Academy inilah Rudi berharap, suatu hari nanti bakal lahir pemain-pemain sepakbola yang bisa diandalkan.

Di ruang kerjanya yang berada di Jalan Durian, Pekanbaru, Rudi juga berkisah banyak tentang misinya, carut-marut sepakbola nasional, serta sepakbola Indonesia yang tak kunjung memberikan prestasi.

Menurut Rudi, selama ini tidak ada hal fundamental yang dilakukan untuk kemajuan sepakbola di Indonesia. Kebanyakan cuma program-program instant.

‘’Sebenarnya inti dari sepakbola ini pembinaan. Dan itu harus berjenjang dan terus menerus. Jadi sebenarnya, saya tidak berfikir sampai sejauh ini (mendirikan akademi sepakbola). Tapi kita ikut arus aja. Sampai pada kesimpulan membuat akademi,’’ tutur Rudi.

Kenapa akademi? Dia menyebut, bahwa sepakbola sebagai industri membutuhkan sumber daya manusia yang mapan dan punya skill.

‘’Yang ada sekarang ini semua sekolah sepakbola (SSB) yang sudah terkenal semuanya berbayar. Otomatis kalau berbayar yang bisa masuk anak dari keluarga mampu. Karena perhitungan saya biaya 1 anak paling sedikit Rp 5 juta sebulan. Nah, anak-anak yang tidak mampu ini mau ke mana,’’ sebutnya.

Dari situ, Rudi mendirikan akademi sepakbola yang full beasiswa. Penekanannya untuk anak-anak yang berlatar belakang kurang mampu.

‘’Jadi, bagi saya selain membuat SDM sepakbola yang mempunyai skill, saya juga menyediakan sebuah ‘pintu’ yang bisa keluar dari kemiskinan, bisa mengangkat harkat dan derajat hidup mereka. Kalau mereka berhasil, otomatis orang tuanya juga terbantu. Jadi, itu visi utamanya. Saya sudah dapat rejeki yang lumayan, apa salahnya saya menyediakan sebuah saluran untuk orang bisa keluar dari kemiskinan. Kebetulan Tuhan menganugerahkan anaknya kemampuan bermain bola,’’ jelasnya.

Bagi Rudi, pembinaan menjadi faktor penting. Sebab, banyak SSB hanya memprioritaskan kelompok umur hingga U-14 dan U-15 saja. ‘’Tapi setelah U-14 dan U-15 itu gak tau lagi mau ke mana,’’ paparnya.  

Akhirnya, di usia 16 tahun pemain sudah ikut tarkam. ‘’Padahal itu masih jauh lagi mereka mengembangkan kemampuan bermain bola. Kita di U-12 hebat, U-15 hebat, tapi giliran U-19 keok,’’ katanya.

Di sinilah, menurutnya terjadi lost generation. Ada lubang pembinaan yang harus ditutup dengan pembinaan yang baik dan berjenjang. ‘’Dari sinilah kita membuat akademi untuk menutup celah,’’ katanya kepada tripriau.com, akhir pekan kemarin.

Pria kelahiran Pekanbaru ini menuturkan, masih ada rasa penasaran yang besar dalam dirinya terhadap sepakbola Indonesia. Terutama, dari sisi prestasi. Padahal, Indonesia merupakan negara terbesar dengan tradisi sepakbola yang kuat.

Dia mencontohkan Belanda dan Jerman yang berpenduduk cuma 20 dan 40-an juta, tapi bakat sepakbolanya tidak habis-habis.

Menurutnya, negara seperti China juga besar, tapi tak memiliki budaya bola. Demikian juga India, negara berpenduduk terbesar nomor dua di dunia, tapi tidak punya budaya bola.

‘’Jadi, negara dengan penduduk terbesar dengan budaya bola itu cuma Indonesia. Aneh, negara sebesar ini gak bisa (melahirkan pemain sepakbola yang bagus),’’ terang pria yang memiliki core bisnis di bidang kelapa sawit ini.

Rudi menilai, selain faktor manajemen sepakbola nasional yang kurang jelas, metode pembinaan selama ini juga salah.

‘’Saya ini hanya meletakkan pondasi. Ini supaya berkembang, juga mesti didukung orang-orang di sekitar, kawan-kawan, swasta dan pemerintah, bisa menjadi sponsor,’’ tambahnya lagi.

Dia juga berharap, Pemko Pekanbaru dan Pemprov Riau bisa melihat ini. Bahwa, ada sebuah lembaga yang benar-benar melakukan pembinaan sepakbola dan membawa nama Riau.

‘’Karena juga ada kewajiban pemerintah untuk membangun sepakbola,’’ tegas pria dengan tiga anak ini.

 

Penulis: Rio Sunera



Tags:  -