Kuliner Kami Berharap pada Tradisi dan Alam yang Terjaga

By Trip Riau  |  15 Maret 2016 17:08:19 WIB  |  News

Tumis Lompok Ikan Subayang. Foto: batusanggan.blogspot.co.id

Pekanbaru, tripriau.com - Sambal Tumis Lompok Ikan Segar yang sengaja dimasak di Pulau Pinggir Sungai Subayang sungguh menggoda selera. Orang-orang lokal di Desa Batu Sanggan, Kecamatan Kampar Kiri Hulu selalu tidak ketinggalan untuk menyempatkan diri mengolah ikan segar yang baru siap dipanen dari aliran sungai Subayang.

Proses untuk mendapatkan seonggok ikan segar ini tidaklah sulit. Di Desa Batu Sanggan telah tersedia alat-alat tangkap lokal yang ramah lingkungan. Seperti senapan tombak, besi (gorpon), jala pendek ukuran dua depa, jaring beranyut panjang 20 meter, serta kacamata kayu untuk alat menyelam.

Sebuah sampan kecil bermuatan 4-6 orang sebagai alat transportasi hilir-mudik di kawasan sungai menjelang ikan berhasil didapatkan.

Biasanya untuk aktivitas mencari ikan ini, mereka yang datang berkunjung ke Batu Sanggan untuk tradisi masak dan makan selalu ditemani atau dipandu oleh pemuda lokal dan ibu-ibu di kampung. 

Habis makan lalu mandi berenang di sungai. Keindahan alam dan suasana alami yang disajikan oleh alam yang membentang luas, selalu dijaga selama ini oleh Masyarakat Desa Batu Sanggan.

Keutuhan alam hutan, sungai yang masih tersisa di Riau ini tidaklah terlepas dari peran serta masyarakat yang berada di dalamnya sebagai orang yang bersentuhan langsung dengan hutan.

Untuk tradisi makan ke pulau ini, jenis sambal yang selalu diolah oleh para wanita di kampung adalah Sambal Bakacau Ikan, Sambal Tumis Lompok Ikan, Sambal Batokok Ikan, dan Panggang Ikan Salimang.

 ‘’Orang kampung kami selama ini cukup terbuka. Siapa saja yang muncul dan datang ke kampung senantiasa diajak bergabung.  Di kampung kami telah ada kelompok pokja yang telah dibentuk, yakni kelompok pemuda lokal yang bertugas memandu orang-orang yang datang yang ingin menikmati suasana alam dan lingkungan yang ada di tempat kami,’’ kata Aflion Siswanto, masyarakat tempatan.

Untuk tradisi makan ke pulau ini seringkali dilakukan bila musim kemarau. Sebab, di musim kemarau Sungai Subayang agak dangkal, sehingga di tepian sungai timbullah pulau-pulau kecil untuk dijadikan titik lokasi melakukan aktivitas makan di Pulau.

Di Desa Batu Sanggan, bila musim kemarau datang kondisi air sangat jernih. Berlomba-lomba orang di kampung melepaskan hobinya untuk makan bersama ke pulau, karena dengan kondisi batang Sungai Subayang yang dangkal proses untuk mencari ikan sangat gampang dilakukan.

Untuk ke depannya, tradisi ‘’makan basamo ke pulau’’ akan selalu kami kembangkan sepanjang tidak mengganggu adat-istiadat di kampung dan tetap dipertahankan.

Terlepas dari itu, tentu kami sebagai masyarakat tempatan akan selalu menjaga keseimbangan alam dan ekosistem airnya, sehingga sampai saat ini masyarakat Desa Batu Sanggan tidak mengizinkan Pertambangan Emas Tampa Izin ( PETI ) masuk ke wilayah kami.(Ulil)

Sumber: batusanggan.blogspot.co.id

Editor: Rio Sunera



Tags:  -