Daya Tarik Senapelan, Kedai Kopi Kimteng hingga Pasar Wisata

By Trip Riau  |  19 Maret 2016 13:45:44 WIB  |  City Guide

Kimteng merupakan kedai kopi paling legendaris di Pekanbaru. Foto: Muhammad Ridho / tripriau.com

Pekanbaru, tripriau.com – Kawasan Senapelan menjadi bagian penting dari sejarah perjalanan Kota Pekanbaru. Senapelan layaknya sebuah kota tua yang menyimpan banyak romantisme, sekaligus menawarkan daya tarik dalam rupa-rupa bentuk.

Arsitektur, pusat-pusat belanja, serta kearifan lokal pinggir sungai menaungi kawasan ini. Saat berada di Pekanbaru, sempatkanlah untuk singgah dan menyusuri kawasan yang menjadi cikal bakal berdirinya Pekanbaru ini.

Mulailah aktivitas pagi dengan sarapan di Kedai Kopi Kimteng. Ini kedai kopi paling legendaris di kota Bertuah. Kata orang, belum ke Pekanbaru kalau belum mampir di Kimteng. Lokasinya di Jalan Senapelan.

Tiap hari, kedai kopi yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu itu selalu saja ramai. Mobil-mobil berjejer sepanjang jalan.

Beragam jenis sarapan tersedia di Kimteng, mulai dari yang ringan hingga berat. Cobalah nikmati sekeping roti bakar sarikaya serta secangkir kopi hangatnya. Dijamin enak.

Bila perut sudah terisi, lanjutkanlah petualangan. Cukup berjalan kaki. Tak jauh dari Kimteng – cuma beberapa ratus meter - ada sebuah mesjid bersejarah dan kompleks makam pendiri Pekanbaru yang berlokasi di Jalan Mesjid Raya.

Masjid Raya Pekanbaru yang awalnya bernama Mesjid Senapelan ini dibangun pertama kali oleh Sultan Abdul Jalil Muazzam Syah (1766-1780), Raja keempat Kerajaan Siak Sri Indrapura, sekitar tahun 1762 M. Akses ke mesjid ini sangat mudah, karena terletak di pusat kota.

Dengan areal yang cukup luas dengan berbagai fasilitas pendukung, masjid ini dapat dijadikan tujuan wisata religius dan sarana pendidikan Agama Islam.

Masih di areal kompleks yang sama, Anda bisa berziarah ke makam pendiri Kota Pekanbaru, yakni Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah yang bergelar Marhum Bukit. Di tempat ini juga, terdapat makam Sultan Siak keempat, Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah yang bergelar Marhum Pekan.

Pasar Wisata Pasar Bawah tempat yang tepat bagi Anda untuk berburu oleh-oleh khas Riau. Foto: Doc. tripriau.comPemandu yang ada di sini siap berbagi cerita tentang makam yang memiliki nilai historis yang tinggi ini.

Bagi para photoshotter, mengambil gambar tempat bersejarah ini dari berbagai sudut tentu sangat menarik. Tentunya, bisa menjadi koleksi foto arsitektur yang menarik untuk dibawa pulang sebagai kenang-kenangan dari kota yang dikunjungi.

Ingin kembali melanjutkan perjalanan? Cobalah singgah sejenak ke Pasar Wisata Pasar Bawah. Lokasinya berdekatan dengan mesjid ini. Cuma butuh jalan kaki lebih kurang 200 meter.

Inilah tempat yang tepat bagi Anda untuk berburu oleh-oleh khas Riau. Mulai dari makanan, cinderamata, t-shirt, dan pernak-pernik lainnya.

Tak jauh dari Pasar Bawah, juga terdapat Tugu titik nol pertama di Pekanbaru. Tugu titik nol ini terletak di Pelabuhan Pelindo, Kelurahan Kampung Dalam, Senapelan.

Pelabuhan Pelindo makin menarik kala memasuki sore hari.Banyak aktivitas masyarakat di pelabuhan ini. Mulai dari memancing, berolahraga, hingga duduk santai sambil menyaksikan kapal-kapal besar bersandar di Sungai Siak, yang merupakan sungai terdalam di Indonesia.

Kawasan di sekitar pasar wisata ini pun cukup menarik untuk dijelajahi. Susurilah tempat penjualan barang-barang bekas.

Sepanjang jalan, Anda akan menjumpai pusat penjualan barang bekas, seperti ban, velg, properti (meja dan kursi), alat-alat mesin, dan sebagainya. Sebagian besar barang-barang di sini merupakan barang impor.

Selanjutnya, Anda bisa berkunjung ke rumah Tuan Kadi. Ini salah satu rumah tertua di Senapelan. Terletak di Jalan Senapelan Gang Pinggir. Hanya lebih kurang 500 meter dari Pasar Bawah.

Rumah Tuan Kadi merupakan peninggalan Kesultanan Siak masa lalu. Disebut juga dengan rumah hinggap. Rumah ini menjadi persinggahan Sultan Syarif Kasim II ketika bertandang ke Pekanbaru. Di rumah ini berbagai persoalan dan strategi menata Bandar Senapelan dibahas.

Di rumah ini juga terdapat kamar tidur yang dulu biasa digunakan Sultan Syarif Kasim II. Bila berkunjung ke sini, salah satu cucu Tuan Kadi yang kini menghuni rumah ini bisa bercerita panjang lebar tentang rumah bersejarah ini.

 Penulis: Rio Sunera



Tags:  -