Aisyah Prihatinningrum Yusuf

Fesyen: Idealisme dan Selera Pasar

By Trip Riau  |  30 Maret 2016 20:23:54 WIB  |  -

Aisyah Prihatinningrum Yusuf. Foto: Muhammad Ridho/tripriau.com

Pekanbaru, tripriau.com - Deretan busana wanita kekinian berjejer rapi di sebuah rumah yang difungsikan sebagai butik di Jalan Sumatera, Pekanbaru. Butik bernama Sagg & things ini dikelola seorang wanita, Aisyah Prihatinningrum Yusuf.

Butik berkonsep homey ini penuh oleh busana aneka model dan warna. Mulai dari tunik, outer, overall, hingga longshot. Beragam ornamen, hiasan dinding, hingga foto-foto sang owner terpajang di salah satu sisi dinding.  Di sofanya yang berwarna gelap nan empuk, Caca (25), panggilannya, bercerita tentang butik dan passion-nya terhadap dunia fesyen.

Perempuan asal Padang ini menuturkan, dunia fesyen sudah menarik minatnya sejak kecil. Tapi, di kota asalnya itu tidak ada jurusan di bidang fesyen. Sehingga, ia urung mengambil kuliah di bidang itu. Dia lantas memilih kuliah di jurusan Manajemen. "Karena di Padang gak ada (jurusan fesyen), akhirnya ngambil manajemen," katanya.

Setelah menyelesaikan studi formalnya, pada 2012 Caca mengambil kursus singkat di Jakarta, mendalami basic design. Setelah itu, dia bekerja di sebuah webstore khusus fesyen muslim di kota yang sama.

"Lebih kurang setahun kerja di sana'', tambahnya kepada tripriau.com.

Latar belakang keluarganya sebagai pebisnis, pada akhirnya juga membawa Caca bersentuhan dengan dunia satu ini.

Pada awal tahun 2014, dia membuka bisnis pertamanya. Tetap tak lari dari passion-nya, yakni menjalani bisnis fesyen dengan brand Sagg & things.

Aisyah Prihatinningrum Yusuf (25). Foto: Muhammad Ridho/tripriau.com

"Pada awalnya, produk-produk yang dijual di Sagg & things didesain dan diproduksi sendiri," tutur penyuka warna-warna gelap ini.

Tapi, karena permintaan pasar, akhirnya dia juga memasukkan brand-brand luar yang terbantu berkat link-nya selama di Jakarta. "Karena gak bisa cuma idealis aja," sebutnya.

Saat ini, Sagg & things yang sudah berjalan 2 tahun mengincar perempuan-perempuan muda sebagai target pasarnya. "Target pasar kita dari umur 22 sampai 35 tahun," tegasnya.

Di butiknya yang berlokasi di Jalan Sumatera nomor 66, customer bisa menemukan berbagai produk fesyen terkini. Mulai dari atasan, celana, rok, kerudung, hingga beragam aksesoris. Dengan harga dikisaran 150 ribu hingga paling mahal 350 ribu rupiah.

Perempuan berhijab ini juga mengungkapkan beberapa keunggulan butik yang dikelolanya. Antara lain, produk didesain sendiri dan eksklusif. Sebab 1 baju cuma diproduksi 3 pcs.

"Dan selain itu kita gak cuma menjual. Orang datang, terus pulang. Kita juga membantu dan melayani customer untuk mix and match busananya. Kita saling ngobrol juga dengan konsumen," ucapnya.

Sagg & things terus bertumbuh seiring dengan tumbuhnya bisnis fesyen. Customer loyal-nya juga terus bertambah, sebab produknya juga cukup segmented. "Selain itu, kita juga gak mahal-mahal kali," katanya.

Benturan idealisme menjadi tantangan tersendiri bagi Caca dalam mengembangkan bisnisnya. Di satu sisi, dia paham apa yang tengah tren dan menjadi kesukaannya. Namun, di sisi lain, pasar punya tren dan selera sendiri. Pada akhirnya, dia juga terpaksa mengikuti keinginan pasar.

Aktif di media berbagi foto seperti Instagram dan rajin mengunggah foto-foto produk menjadi salah satu caranya dalam mengambil hati pelanggan.

"Selain itu kita juga tandem dengan Klapper Pie (brand kuliner yang bersebelahan tempat), sebab segmentasi pasar kita juga sama. Kita juga masukin barang ke hijup.com. Fokusnya sekarang direct selling. Ingin juga fokus di online dan punya web sendiri," tuturnya lagi.

Uniknya, meski produk fesyen di Indonesia tengah 'demam' online, pasar offline alias langsung datang ke butik, masih mendominasi keseluruhan penjualan di Sagg & things.

Caca menjelaskan, ada beberapa modal yang mesti dimiliki jika ingin bergelut di bisnis fesyen.

''Diantaranya, mesti update fashion, stylish, membangun hubungan dengan customer, gigih, lihat tren dan selalu punya produk baru," kata pemilik akun instagram @aisyahyusuf ini.

Terakhir, dia menyampaikan soal padu-padan warna dalam berbusana. Kata Caca, warna ada trennya. Dan sekarang, orang lebih bebas dalam memadupadankan warna.

"Dulu warna-warna cerah, sekarang monokrom, hitam, abu-abu, putih, dan biru tua. Kalau sekarang orang uda tabrak warna aja. Juga seru. Bebas aja machingin-nya. Yang penting nyaman, pede, dan enak dipakai," sebut penyuka kemeja panjang ini.

Oh, ya Anda juga bisa berkunjung dan melihat-lihat produk terbaru Sagg & things melalui akun Instagram @saggthings.

Penulis: Rio Sunera

 



Tags:  -