Ketika Demam Doodle Melanda

By Trip Riau  |  04 April 2016 20:22:31 WIB  |  Community

salah satu Doodle karya Amelia Aidilla. Foto: Amelia Aidilla for tripriu.com

Pekanbaru, tripriau.com - Demam Doodle tengah melanda Pekanbaru. Diberbagai event hingga tempat-tempat nongkrong,  Doodle kerap mewarnai.

Pelaku Doodle saat ini didominasi anak-anak muda yang kreatif sekaligus imajinatif.

Doodle art sendiri merupakan suatu gaya menggambar dengan cara mencoret dan terlihat abstrak. Ada yang bermakna, namun juga ada yang tidak bermakna.

Terkadang, dalam Doodle, karya yang dihasilkan tidak memiliki bentuk yang benar, namun terlihat unik dan menarik.

Menggambar Doodle biasanya dilakukan menggunakan kertas putih, dengan pensil ataupun pena.

Di Pekanbaru, para pecinta Doodle art bergabung dalam sebuah komunitas yang bernama Pekanbaru Visual Art (Peviart) - meski tak semua anggota komunitas ini beraliran Doodle.

Motif Riau karya Amelia Aidilla. Foto: Amelia Aidilla for tripriau.com

Mereka rutin berkumpul, sharing ilmu, dan sesekali melakukan gelar karya di tempat-tempat nongkrong di Pekanbaru.

Amelia Aidilla (22), salah satu pegiat Doodle di Pekanbaru mengatakan, hobinya dibidang ini berawal dari ketidaksengajaan.

''Waktu itu lagi free. Dari pada bengong nonton TV, coba-coba menggambar dengan gaya doodle aja awalnya. Otodidak. Gak sengaja, ternyata arahnya ke doodle. Trus, searching tentang doodle," kata mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Riau ini.

Menurut Lia, sapaannya, Doodle cukup fleksibel. Sebab, bisa dikombinasikan dengan gambar sketsa, gravity, mural, maupun motif-motif Henna.

Saat ini, Lia sudah menghasilkan puluhan karya gambar.

Dia aktif mengunggah karya-karyanya di media berbagi foto Instagram dengan akunnya @doodlebylia. Dari sini, banyak yang mengapresiasi karyanya.

"Bikin postingan di Instagram, banyak yang follow, yang apresiasi, sehingga terjalin interaksi. Ada juga yang nawar-nawar mau beli,'' tuturnya.

Bagi Lia, nge-doodle sangat asik. Menggambar, tapi tidak harus terpaku pada satu objek. ''Kita bisa lebih berkreasi," timpalnya.

Doodle, banyak mengaplikasikan gambar-gambar karakter, monster, kartun, hingga konsep botanic atau bunga dan daun-daun.

Postingan Lia bisa dilihat di akun instagram miliknya @doodlebylia. Foto: Amelia Aidilla for tripriau.com

Perempuan berkerudung ini mengaku sangat menikmati tiap kali menorehkan pensilnya di atas kertas. Mengalir dan menikmati prosesnya. 

Saat ini Lia sudah menghasilkan beberapa motif khas Riau. "Motif paling rumit bisa ngabisin waktu sampai 5 jam," sebutnya.

Lia berharap, orang-orang lebih sadar dengan Doodle. "Sebab, masih susah cari teman buat sharing. Bisa nambah pengetahuan soal doodle," jelasnya.

Sebab, semakin hari Doodle makin berkembang. "Dulu coret-coretan aja, semakin ke sini semakin terkelompok, semakin awam, ternyata banyak motifnya,'' cerita Lia.

Kehadiran Doodle mampu melahirkan peluang bisnis baru. Salah satunya adalah membuat mural di cafe dengan konsep Doodle.

''Kita bisa desain cafe yang anak muda, bikin logo, baju, dan gift-gift acara ulang tahun," bebernya.

Penulis: Rio Sunera



Tags:  -