Zapin Api: Membangkitkan Tradisi yang 40 Tahun Mati

By Trip Riau  |  23 April 2016 16:44:10 WIB  |  Wisata Riau

Zapin api cuma ada di Rupat Utara, Bengkalis, Riau. Foto: Abdul Ronny / tripriau.com

TRIPRIAU.com – Aroma kemenyan menyeruak di sebuah tanah lapang, dekat bibir pantai di sebuah desa kecil di Rupat Utara. Aura mistis mulai terasa. Dari pengeras suara, terdengar larangan menyalakan api. Tanda, bahwa tarian zapin api segera dipertontonkan.

Lima orang laki-laki tanpa baju berdiri di salah satu sisi lapangan. Di sisi berdekatan, tiga orang laki-laki lainnya berbaju melayu warna-warni duduk sambil memegang alat musik gambus, marwas, serta gendang. Sementara di tengah lapangan, sabut kelapa disiapkan sebagai sumber api.

Petikan gambus dan tabuhan marwas, ditingkahi syair dari sang khalifah - pemimpin dalam pertunjukan zapin api – menjadi pembuka tarian langka ini.

Aroma kemenyan makin menusuk hidung. Kobaran api tampak membakar sabut kelapa yang tadi ditumpuk di tengah lapangan. Mengepulkan asap putih tebal di malam yang dingin akibat terpaan angin laut.

Lima laki-laki yang tadi tanpa baju mendekat ke arah kemenyan yang dijaga dua orang yang berperan sebagai penjaga api. Kemenyan diletakkan di dalam piring kaleng bersama dupa.

Mereka berlima, Samin (43), Iwan (33), Agus (52), Ahmad (27), dan Udin (32) mengitari piring kemenyan, lantas mengambil posisi bersila.

Di tengah iringan musik, lantunan syair-syair serta mantra, kelimanya melakukan gerak layaknya orang tengah membasuh tubuh. Kedua tangannya meraih asap kemenyan dan menyapunya ke seluruh tubuh.

Tak lama, kelimanya menunduk dan mendekatkan bagian wajah ke piring berisi kemenyan. Kemenyan dihirup dalam-dalam. Sementara kedua tangannya, menutup telinga rapat-rapat. Pada bagian ini, suasana mistis makin terasa. Irama musik dari marwas, gambus dan kompang masih terus terdengar.

Para pemain Zapin api menghirup kemenyan yang disajikan diatas piring kaleng. Foto: Abdul Ronny / tripriau.com

Sesaat, penonton yang berkerumun dipinggir arena seperti menahan nafas. Menunggu momen apalagi yang bakal terjadi. Tiba-tiba, tubuh Samin rebah dengan posisi telentang. Badannya yang kekar dan berkulit hitam tampak mengkilap oleh keringat.

Dalam hitungan menit, dia berdiri dan mulai menari tak beraturan. Tubuhnya kejang. Tatapannya kosong seperti orang kesurupan. Samin kemudian menghampiri api yang tengah berkobar.

Tanpa alas kaki, dia menginjak-injak bara api. Kemudian mengambil dan memegang serpihan dengan kedua telapak tangannya. Anehnya, dia tak merasakan panas. Tubuhnya pun sama sekali tak terluka.

Suasana makin panas. Penari yang sudah kerasukan membantu temannya dengan memegang bahu sambil menari. Tapi, dari lima lelaki tersebut, cuma dua yang berhasil bermain, yakni Samin dan Iwan.

Menjelang berakhirnya pertunjukan, Abdullah (70), khalifah dalam pertunjukan ini, mendendangkan syair. ‘’Ndak dulang diberi dulang, dulang ada di Indragiri, pulang si Abdul Kadir pulang, tapi pulang balik sendiri,’’ katanya dengan suara yang tertutup tabuhan alat musik.

Belum genap hitungan jam, pertunjukan pun berakhir, lebih cepat dari biasanya. Kata Abdullah, iringan musik gambus tak berjalan mulus. Sehingga, ia memutuskan menghentikan atraksi. Padahal dalam zapin api, irama musik mesti berjalan selaras dengan pemain yang sedang kerasukan. Para pemain pun segera disadarkan dalam kondisi semuanya lemas.

Malam itu, Zapin Api digelar di tepian Pantai Pesona, tepatnya di Desa Tanjung Medang, Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Rupat Utara, merupakan salah satu destinasi wisata andalan di Kabupaten Bengkalis. Dari Kota Dumai, desa ini bisa ditempuh selama lebih kurang 3 jam perjalanan.

Selepas pertunjukan, Iwan menceritakan pengalamannya selama bermain zapin api tadi. Selama menari, dia mengakui tak mengingat apapun. Hanya saja, dalam penglihatannya ada seorang perempuan yang mengajaknya menari. Api yang berkobar dilihatnya seperti hamparan taman bunga.

Dalam tarian itu, sang perempuan yang cantik bak putri, tiba-tiba menjauh dan hilang. ‘’Itu karena cuma gendang aja. Melodi tak ada, jadi putri tuh tak mau main dekat kami lagi,’’ tuturnya.

Dalam zapin api, pertunjukan dilakukan dengan menyertakan api, kompang, dan gambus. Tanpa itu, maka atraksi zapin api tak bisa dilakukan. Secara mistik, ritualnya menggunakan kemenyan dan dupa. Siapa yang tidak bisa masuk ke alam lain atau kerasukan, tidak akan bisa bermain.

Jumlah pemain zapin api terdiri dari 3 orang pemukul marwas, 2 orang penjaga api, serta seorang yang beperan sebagai sutradara. Atraksi ini menyertakan mantra-mantra. Gerakan tari baru bisa muncul apabila para pemain mulai kerasukan.

Pemain Zapin api rebah dengan posisi telentang setelah menghirup kemenyan. Foto: Abdul Ronny / tripriau.com

 

40 Tahun Mati Suri

Tarian zapin api merupakan tradisi asli Rupat Utara. Di Rupat Utara, zapin api mulai dimainkan sekitar tahun 1950an. Pada awalnya, dibawa oleh Husein, ayah dari Abdullah, pemimpin dalam tarian zapin api saat ini.

Saat ini, selain Abdullah, cuma ada M Nor yang mampu berperan sebagai khalifah atau pawang dalam pertunjukan zapin api. Abdullah dan M Nor dulunya sama-sama berguru dengan Husein. Namun setelah itu, keduanya membuka sanggar masing-masing.

‘’Dulunya, zapin api ini berasal dari orang tua kami. Orang tua kami ini terkenal di Rupat Utara, Bengkalis, bahkan sampai ke Pekanbaru. Dialah yang membawa zapin api ini. Sekarang, umur saya 70 tahun, belum pernah kami main lagi seperti ini. Karena Pak Eduar lah (Kadis Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Bengkalis) kami tampil kembali. Beliau meminta, supaya membangkitkan kembali zapin api ini,’’ ungkap pria dengan tiga cicit ini.  

Abdullah sendiri sudah mulai berlatih zapin api sejak umur 12 tahun. Bila ada yang meminta, maka grup zapin api pimpinan Abdullah akan tampil. Biasanya dalam acara yang beragam, seperti pesta pernikahan dan hajatan warga lainnya.

Dalam iven Festival Pantai Rupat dan acara Mandi Safar, zapin api juga selalu ditampilkan.

Untuk meneruskan zapin api, saat ini Abdullah perlahan mulai mewariskan kepada dua orang anak lelakinya, bernama Umar dan Montel. Saat ini, dalam pagelaran zapin api keduanya bertugas sebagai penjaga api.

Abdullah bercerita, zapin api sempat mati suri selama 40 tahun. Dalam rentang waktu itu, zapin api tak pernah lagi terlihat dimainkan di Rupat Utara. Baru pada 2013, zapin api kembali dimainkan.

Saat ini pun, zapin api mulai ditinggalkan. Masuknya hiburan modern seperti band dan organ tunggal ke Rupat Utara, menggerus eksistensi tradisi ini. Anak muda sudah enggan melirik zapin api.

Penulis: Rio Sunera



Tags:  -