Fahmizal: Tak Hanya Tari Saman, Tari Melayu Juga Bisa Jadi Trendsetter

By Trip Riau  |  17 Mei 2016 11:34:30 WIB  |  News

Kadisparekraf Provinsi Riau Fahmizal ST MSi memberikan pembekalan kepada peserta Pembinaan Instruktur Ekonomi Kreatif Berbasis Seni Budaya (Seni Tari). Foto: Disparekraf Provinsi Riau for tripriau.com

TRIPRIAU.com - Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Riau Fahmizal ST MSi mengatakan, seni tari melayu bisa memberikan dampak ekonomi bahkan menjadi trendsetter dunia. Terutama, di era industri kreatif seperti saat ini.

Hal itu disampaikannya saat memberikan pembekalan kepada puluhan peserta ''Pembinaan Instruktur Ekonomi Kreatif Berbasis Seni Budaya (Seni Tari)'', Senin (16/5) siang.

Kegiatan pembinaan ini sendiri akan berlangsung 17-22 Mei 2016, di Jogjakarta. 

Dalam pertemuan yang berlangsung santai tersebut, Fahmizal menyampaikan harapan dan pesan kepada para peserta yang berasal dari 12 kabupaten/kota di Riau.

Katanya, secara sederhana ekonomi kreatif harus mampu memberikan pemasukan bagi pelakunya berdasarkan kreativitas yang dimiliki.

Sebagai salah satu cabang dari ekonomi kreatif, seni tari juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi tersebut.   
''Untuk mampu memberikan dampak ekonomi kita harus kreatif, kita (pelaku) harus masuk tataran kekinian biar (produk/karyanya) laku,'' sebut Fahmi. 

Fahmi juga mengajak, agar nanti para peserta bisa menimba ilmu dan mampu menghasilkan karya kreatif.

Dia mengibaratkan kreativitas seperti 'butik', bukan 'toko baju'. "Butik itu bajunya takkan sama dengan tempat lain. Itu namanya ekonomi kreatif," tuturnya.

Menurut Fahmi, selama ini orang hanya mengenal Tari Bali, Tari Saman, Tari Piring dan beberapa tari lainnya dari berbagai daerah di Indonesia. Padahal tari yang ada di Riau juga menarik dan beragam.

"Kita punya tari persembahan. Atau yang ada unsur magisnya yakni Tari Rentak Bulian," ujarnya.

Di Kabupaten Bengkalis, tepatnya di Rupat Utara, ada juga Tari Zapin Api yang cuma bisa disaksikan di daerah itu. ''Dan itu sangat unik. Dan ini harus dilestarikan. Karena cuma ada dua yang seperti itu (Tari Zapin Api),'' katanya lagi.

Dengan berbagai potensi yang dimiliki Riau, Fahmi yakin tari melayu bisa jadi trendsetter dunia. ''Hasil karya yang kita lahirkan bisa dipandang oleh pusat dan dunia. Kita bisa jadi trendsetter dunia. Tidak terus-terusan Tari Saman," harapnya.  

Fahmizal mengatakan, tiap tahun makin banyak pembinaan terhadap para instruktur di Riau. "Riau cukup kuat di seni pertunjukan. Kita harus perkuat apa yang sudah kuat. Kita harus mencari apa yang mau kita fokuskan,'' tambahnya.   

Fahmizal berharap, setelah menimba ilmu di Jogja peserta mampu menambah kapasitasnya, bisa berkarya, dan memberikan performa yang baik.

"Menggali benar-benar apa yang dilakukan Jogja kenapa bisa 'nendang'," harapnya.

Dia juga mendorong, pelaku kreatif bisa peduli dengan karya dan mendaftarkan Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk setiap karya dan ide yang dihasilkannya.

''Daftarkan HAKI setiap tarian, dan itu gratis. Itu yang sudah dilakukan Malaysia. Sehingga nanti tidak ada saling klaim lagi. Terutama di Indonesia, kita sudah terdaftar," jelasnya dalam pertemuan yang digelar di Kantor Disparekraf, Kompleks Bandar Seni Raja Ali Haji, Pekanbaru. 

Saat ini informasi mengenai HAKI bisa didapatkan melalui aplikasi ''Bekraf IPR Information in Mobile Application'' (Biima)yang tersedia di playstore bagi pengguna smartphone android.

Aplikasi ini diluncurkan Badan Ekonomi Kreatif beberapa waktu lalu. Tujuannya untuk memudahkan pelaku industri kreatif mengakses informasi tentang HAKI.  

Penulis: Rio Sunera



Tags:  -