‘’Abedeen’’, Brand Kopi Liberika dari Kepulauan Meranti

By Trip Riau  |  12 Agustus 2016 14:40:09 WIB  |  Business

Brand Kopi ''Abedeen'' dari Kepulauan Meranti.

 

TRIPRIAU.com – Kopi Liberika dari Kepulauan Meranti, Riau mendadak menyeruak ke permukaan saat mendapat sertifikat Indikator Geografis (IG) dari Dirjen Kekayaan Intelektual Nasional RI beberapa waktu lalu.

Sertifikat ini sebagai bentuk pengakuan pemerintah atas potensi pertanian di Kabupaten kepulauan Meranti.

Liberika, merupakan salah satu jenis kopi, selain arabica dan robusta, yang masih ada di dunia. Berasal dari Liberia, Afrika Barat. 

Di Kepulauan Meranti, tepatnya di kampung Sempian, Desa Kedabu Rapat, Rangsang Barat, banyak ditemui masyarakat yang memiliki kebun kopi liberika. Tiap panen raya yang berlangsung dua kali dalam setahun, 7 hingga 8 ton kopi bisa dihasilkan dari kampung ini.

Selama ini, kopi liberika dari Meranti dijual curah ke negeri tetangga, Malaysia. Jarak Kepulauan Meranti ke Batu Pahat, Johor, memang cukup dekat. Cuma butuh waktu 2 jam menggunakan ferry. Selain dekat secara geografis, masyarakat negeri jiran juga menggemari jenis kopi tersebut.

Bulan April 2016 lalu, kopi liberika Meranti yang biasanya dijual curah, mulai dikemas dan diberi branding. Salah satu yang bisa ditemui dipasaran adalah brand ‘’Abedeen’’.   

Nazrin Zainal, pemilik brand kopi ‘’Abedeen’’ menuturkan, kopi yang dijualnya masih dipasarkan secara terbatas. Dengan metode pemasaran dari mulut ke mulut, kopi ‘’Abedeen’’ baru menyasar para maniak kopi dan beberapa kedai kopi.

‘’Kita baru punya satu kemasan, yakni 250 gram yang dijual seharga Rp 50 ribu. Dijual dalam bentuk beans yang sudah di roasting,’’ tutur mahasiswa Universitas Riau ini.

Dibanding jenis kopi seperti arabica dan robusta, liberika punya keunikan sendiri. Salah satunya, memiliki kafein yang lebih tinggi. ‘’Jadi, untuk stamina kerja lebih nendang, gak cepat capek,’’ sebutnya.

Dari segi rasa, liberika Kepulauan Meranti lebih banyak dipengaruhi oleh jenis tanaman yang tumbuh disekitarnya. Contohnya, kalau kopi tumbuh di sekitar tanaman buah nangka, maka saat diminum rasa buah nangka akan terasa di lidah. Ini karena kopi liberica Meranti masih ditanam sebagai tanaman pendamping. Misalnya, di tanam disela-sela pohon nangka, dan sebagainya.

Untuk masuk ke pasar kopi, liberika Meranti masih memiliki banyak kelemahan. Diantaranya rasa yang tidak stabil. Sehingga, para barista di tempat-tempat ngopi sulit menemukan formula untuk meraciknya menjadi sebuah kopi yang enak.

‘’Selain itu, juga sensitif terhadap lingkungan. Rasanya tergantung musim buah apa yang ada di daerah tersebut,’’ jelasnya.

Penulis: Rio Sunera

 



Tags:  -