Rahasia Kelezatan Sate Gilang di Kampar

By Trip Riau  |  24 Agustus 2016 11:45:01 WIB  |  Culinary

Seporsi Sate Gilang nan lezat.(Muhammad Ridho/tripriau.com)

PEKANBARU, TRIPRIAU.com – ‘Negeri Serambi Mekkah’ Kampar memiliki kekayaan kuliner berupa sate. Di daerah ini, sate bisa ditemui dari pagi hingga malam. Di Kampar pula, masyarakat biasa mengisi sarapan pagi dengan menyantap sate.

Sate yang ada di Kampar mempunyai bentuk, tampilan, serta rasa yang berbeda-beda. Beda daerah, maka berbeda pula cita rasanya.

Banyak sekali tempat mencicipi sate yang enak di daerah ini. Sepanjang jalan lintas Pekanbaru – Bangkinang misalnya, warung-warung sate mudah ditemukan. Mulai dari perbatasan Pekanbaru – Kampar, hingga ke daerah Kuok.

Sate Gilang menjadi salah satu merk dagang terkenal di daerah tersebut. Kelezatan sate yang sudah berdiri sejak 9 tahun itu sudah tersohor ke mana-mana.

Sate Gilang didirikan oleh Zulman (53), warga Desa Penyesawan, Kecamatan Kampar. Pada 2007, dia mencoba bereksperimen, meracik sendiri bumbu sate di rumahnya.

Sate Gilang selalu dipadati pengunjung.(Muhammad Ridho/tripriau.com)

Secara umum, tampilan Sate Gilang hampir sama dengan sate yang berasal dari ranah minang. Meski dalam beberapa hal jelas sekali perbedaannya.

Cara penyajian misalnya. Bila kebanyakan sate disajikan di atas piring plastik beralaskan daun pisang, Sate Gilang menggunakan piring kaca. Menurut Zulman, sate racikannya akan lebih enak bila disajikan terpisah antara lontong ketupat serta kuah dan dagingnya.

Kuah yang dimiliki Sate Gilang juga agak berbeda, yakni bertesktur sedikit encer dengan warna kuning kemerahan. Sementara rasanya hampir menyerupai rasa gulai. Rasa gulai ini yang menghadirkan citarasa berbeda saat menyantap sate ini. Dagingnya juga sangat empuk dengan rasa bumbu yang begitu melekat.

Tekstur daging empuk diperolah dari proses rebusan selama 1 jam. Kemudian ditambahkan dengan bumbu rahasia racikan Zulman. Di Sate Gilang pengunjung disediakan pilihan berupa, ayam, daging kerbau dan sapi.

Sate Gilang juga biasanya disajikan dengan sambal cair berwarna merah yang sudah tersaji di tiap-tiap meja.

Salah satu yang unik, harga sate di Kampar tidak dipatok per porsi. Tapi, berdasarkan jumlah tusuk sate dan ketupat yang kita makan. Untuk ayam dihargai Rp 1.000 per tusuk, daging Rp 2.000 per tusuk, sementara ketupat Rp 1.000.

Zulman menuturkan, rahasia kelezatan Sate Gilang terletak pada 12 jenis tanaman yang tumbuh di daerahnya. Dua belas macam tumbuhan ini yang diolah Zulman menjadi bumbu lezat untuk satenya.

‘’Kedua belas macam tumbuhan ini juga masing-masing punya khasiat untuk pengobatan. Jahe, misalnya. Kan banyak gunanya. Jadi, kalau makan Sate Gilang ini juga sebagai obat sama kita,’’ katanya kepada tripriau.com, tanpa mau merinci kedua belas jenis tumbuhan tersebut.

Lokasi Sate Gilang di Desa Penyesawan, Kampar.(Muhammad Ridho/tripriau.com)

Sate Gilang yang sudah buka selama 9 tahun berdiri menempati sebuah lahan pinjaman. Tempatnya juga sangat sederhana. Bermodalkan tenda dan deretan meja dan kursi dari kayu. Lokasinya, persis berada di pinggir jalan lintas Pekanbaru – Bangkinang, yakni di Dusun Pontianak, Desa Penyesawan, Kecamatan Kampar.

Sate Gilang berada di sebuah tikungan, patokannya beberapa puluh meter dari Mesjid Al-Muhajirin. Atau hanya lebih kurang 5 menit sebelum memasuki Pasar Air Tiris. Dari Pekanbaru bisa ditempuh selama lebih kurang 45 menit perjalanan.

Meski bangunannya sederhana, tapi ketenaran Sate Gilang sudah sampai kemana-mana. Banyak pelanggan setianya datang dari berbagai tempat. Misalnya saja dari Pekanbaru hingga Kuantan Singingi. Bupati hingga pejabat di Kabupaten Kampar juga menjadi pelanggan di warung sate ini.

Selama jam buka dari pukul 5 sore hingga 10 malam, maka deretan kendaraan roda dua dan empat akan memenuhi halamannya yang terbilang luas.

Penulis: Rio Sunera



Tags:  -