Food Story

Sate Mak Said nan Legendaris, Sudah Ada Sebelum Indonesia Merdeka

By Trip Riau  |  26 September 2016 16:12:58 WIB  |  Culinary

Sate Mak Said yang berada di tengah kota Bangkinang, Kampar, Riau

PEKANBARU, TRIPRIAU.com – Kelezatan Sate Mak Said melintasi zaman. Mulai dari masa pra-kemerdekaan hingga sekarang. Kenikmatan satenya terus jadi buruan. Di tangan penerusnya, Hj Asmar, Sate Mak Said terus bertahan menjadi kekayaan kuliner Negeri Serambi Mekah.

Sate dengan merek dagang Mak Said masih terlihat berdiri di tengah kota Bangkinang, Kampar, Riau. Menempati sebuah rumah toko bergaya lama di Jalan Prof M Yamin. Sebuah plang nama yang sudah kusam bertuliskan ‘’Sate Mak Said’’ terpampang di sana.

Di tempat yang terbilang sederhana itu, Hj Asmar berjualan sate dibantu anak-anaknya. Dia menggelar dagangannya setelah ibadah subuh sampai menjelang siang. Pagi hari merupakan waktu paling ramai di kedai Sate Mak Said. Orang-orang yang habis olahraga pagi banyak mampir ke sana. Begitu juga orang-orang kantoran, menyantap sate sebelum kerja.

Pelanggan setia Sate Mak Said juga datang dari berbagai penjuru. Tidak hanya Bangkinang, berbagai penggemar sate dari Pekanbaru, Dumai, hingga Pasir Pengaraian kerap melepas rindu di sini.

Ramainya Sate Mak Said tidak terlepas dari kebiasaan masyarakat Kampar yang gemar menyantap sate untuk menu sarapan pagi. Hal ini sudah berlangsung lama.

Kedai Sate Mak Said penuh cerita, sekaligus legendaris. Said, yang merupakan nama sang perintis usaha ini, sudah berjualan sate sejak tahun 1942. Persis 3 tahun sebelum Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya.

‘’Saat itu, karena masih zaman penjajahan, ayah terpaksa berpindah-pindah jualan sate. Setelah aman dari Belanda, buka sate lagi,’’ cerita Hj Asmar (54), anak dari Said kepada tripriau.com.

Hj Asmar melanjutkan ayahnya berjualan sate pada 1980, sekaligus mewarisi resep turun-temurun. Waktu itu masih di daerah Kuok. Pada 1993, Hj Asmar memutuskan pindah ke tempatnya yang sekarang. Di sebuah jalan protokol di kota Bangkinang.

Hj Asmar menceritakan, ayahnya merupakan perantau asal Bukit Tinggi, Sumatera Barat yang menikah dengan perempuan dari Air Tiris, Kampar. Pasangan ini kemudian menetap di Kuok dan membuka usaha sate di sana.

Sate Kuah Kuning

Di tangan Hj Asmar, Sate Mak Said terus bertahan di tengah berbagai serbuan kuliner kekinian. Sate Mak Said sebenarnya tidak punya rahasia khusus. Rahasia kelezatan sate ini terletak pada kesederhanaan bumbu-bumbunya. Bumbu-bumbu yang simpel inilah yang membuat cita rasa sate ini jadi berbeda.

‘’Bumbu yang kita pakai tidak macam-macam. Bumbu-bumbu dapur saja. Tapi, kita pakai bahan yang bagus-bagus,’’ terangnya.

Untuk menghasilkan sate yang enak, Hj Asmar memasukkan bumbu seperti sampade atau jahe, kunyit, bawang, cabai, garam, dan santan. Kemudian ditambah dengan tepung beras yang dibuat sendiri.

Salah satu keunikan sate ini adalah kuahnya yang berwarna kuning. Berbeda dengan sate kebanyakan yang memiliki kuah berwarna kemerahan atau kecokalatan. Hal inilah yang membuat banyak orang menyebut sate ini dengan sate kuah kuning.

‘’Warna kuning ini berasal dari kunyit yang memang kita kasih dalam jumlah banyak. Kunyit asli, tidak kuning dari gincu,’’ kata perempuan kelahiran Kuok tersebut.

Cita rasa yang dihadirkan kuah berwarna kuning ini enak dan unik, seperti rasa kuah gulai. Sementara teksturnya halus dan lembut.

Daging satenya begitu lembut dan enak dengan ukuran yang cukup besar. Sebab, diolah dengan cara direbus cukup lama, yakni sekitar 2,5 jam. Lantas dilumuri dalam bumbu yang terdiri dari jahe, bawang, kunyit, serai, dan daun jeruk.

Hj Asmar menerangkan, untuk tiap tusuk sate dihargai Rp 3.000, sementara ketupatnya Rp 1.500 per buah. ‘’Kalau kuahnya gratis. Berapapun nambah kuah tidak bayar,’’ kata perempuan berkerudung ini.

Penulis: Rio Sunera



Tags:  -